Terpilih sebagai delegasi Indonesia di olimpiade dunia bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan panjang dan proses seleksi yang ketat.
Tahun ini, Kaleb Lash Elnathan Naibaho dari SMA Labschool Kebayoran dan Nicholas Ardi Tirta dari SMA Santa Laurensia Alam Sutera berhasil menjadi perwakilan peserta olimpiade internasional dari Indonesia. Mereka menceritakan perjuangan mencapai titik ini.
Kaleb adalah delegasi Indonesia untuk International Geography Olympiad (IGeO) di Istanbul, Turki. Sementara Nicholas merupakan delegasi RI untuk International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI), Abu Dhabi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sempat Gugur di Level Provinsi
Kaleb bercerita bahwa perjuangannya menjadi perwakilan Indonesia di ajang olimpiade dunia harus melewati beberapa kegagalan terlebih dahulu. Ia sempat gagal pada OSN Provinsi pada 2024.
"Saya di tahun 2024 gagal di tingkat provinsi. Tapi gunakanlah emosi itu untuk bangkit lagi dan belajar lebih giat," ungkap Kaleb usai acara pelepasan peserta olimpiade di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
Begitu juga yang dialami oleh Nicholas. Ia mengaku pernah gagal pada OSN bidang informatika.
"Gagal itu berarti kamu masih ada sesuatu yang bisa di-improve. Saya dulu gagal OSN Informatika, dari situ saya belajar kurangnya di mana, sampai bisa di titik ini," kenang Nicolas.
Meski demikian, keduanya selalu yakin dan pantang menyerah. Mereka selalu memegang prinsip bahwa satu-satunya cara mengetahui jalan kesuksesan adalah dengan terus berjalan.
Pelatnas-Latihan 100 Soal per Minggu
Keduanya akan menjalani olimpiade pada Agustus mendatang. Sejauh ini, mereka telah mengikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas) dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dan persiapan lainnya.
Kaleb mengaku sejauh ini ia sudah latihan 100 soal dalam satu minggu. Selain itu, ia juga telah mengikuti Pelatnas.
"Setiap minggu, kami diberikan latihan mandiri sekitar 100 soal untuk dikerjakan. Ini dilakukan terus-menerus sambil menunggu Pelatnas tahap tiga, sebelum keberangkatan pada 10 Agustus nanti," kata Kaleb.
Dalam persiapan tersebut, Kaleb dan peserta lainnya dibimbing oleh dosen-dosen dari perguruan tinggi bahkan pakar-pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tantangan Menuju Olimpiade Dunia
Walaupun persiapan sudah dibuat sematang mungkin, Nicholas melihat masih ada beberapa tantangan yang ia hadapi. Menurutnya, durasi Pelatnas tahap kedua yang dirasanya terlalu singkat.
"Saya berharap durasi pelatihan bisa lebih optimal agar paparan materi bisa lebih dalam. Prestasi seperti ini sangat prestisius dan membawa nama besar Indonesia," harapnya.
Selain itu, karena bidang AI termasuk dinamis, Nicholas merasakan adanya perubahan dalam silabus. Perubahan silabus AI disesuaikan dengan perkembangan teknologi juga.
"Silabusnya jauh beda dengan dua tahun lalu. Jadi cara belajar kita harus sangat dinamis mengikuti perkembangan terbaru di bidang ini," jelasnya.
"Tantangannya adalah adaptasi dengan negara yang jauh, beda time zone, hingga budaya dan kulinernya," ujar siswa yang hobi melihat peta sejak kecil ini.
Harap Jadi Modal Masuk Kampus Impian
Kaleb dan Nicholas berharap agar ajang ini menjadi batu loncatan untuk rencana studinya. Mereka berharap prestasinya bisa menjadi modal tembus perguruan tinggi impian.
Kaleb berharap peserta lain tidak bernasib sama dengan alumni-alumni delegasi olimpiade tahun sebelumnya. Pasalnya, ada yang tidak lolos di Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), padahal memiliki prestasi OSN tingkat nasional.
Sembunyikan kutipan teks
"Banyak angkatan saya yang prestasinya bagus tapi ditolak SNBP. Itu menghalangi fokus kami menuju kompetisi internasional. Saya harap pemerintah memberi kemudahan masuk perguruan tinggi karena prestasi OSN ini sangat prestisius," ungkap Kaleb.
Nicholas juga berharap agar pemerintah bisa lebih memerhatikan para peserta olimpiade. Menurutnya, mereka adalah calon penerus bangga yang butuh didukung terus.
"Ya saya berharap bahwa anak-anak yang pintar-pintar ini yang merepresentasikan Indonesia bisa dipaparkanlah ke masyarakat luas bahwa Indonesia itu sebenarnya negara pintar loh. Ada anak-anak yang bisa membangun negara, dan hal-hal itu harus diperhatikan dan harus diketahui oleh semua orang," harap Nicholas.
