Indonesia-China Kembangkan Vaksin Demam Berdarah, Riset Dipimpin FKUI

ADVERTISEMENT

Indonesia-China Kembangkan Vaksin Demam Berdarah, Riset Dipimpin FKUI

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 14 Jul 2026 14:15 WIB
Ilustrasi vaksin DBD/dengue
Ilustrasi vaksin demam berdarah. (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Indonesia dan China bekerja sama dalam mengembangkan vaksin demam berdarah dengue. Terobosan ini menggunakan teknologi mRNA yang sebelumnya dikenal melawan virus COVID-19.

Vaksin yang memanfaatkan materi genetik (genpreM-E) virus dengue strain asli Indonesia ini merupakan hasil riset bersama Universitas Indonesia (UI),Tsinghua University (Tiongkok), dan PTEtanaBiotechnologies Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam laman Kementerian Kesehatan dikutip Selasa (14/7/2026).

Belajar dari Pandemi COVID-19

Percepatan vaksin ini disebut sebagai buah pembelajaran dari pandemi COVID-19. Saat itu, Indonesia tidak memiliki akses terhadap kebutuhan medis darurat seperti vaksin, alat terapeutik, dan diagnostik.

ADVERTISEMENT

Selama 2020-2022, pemerintah Indonesia akhirnya bertekad untuk membangun fasilitas riset sendiri. Menkes Budi menjelaskan, Indonesia kini memiliki empat perusahaan vaksin, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.

Dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, baru 11 antigen yang sudah mampu diproduksi lokal. Terdapat 5 antigen yang diproduksi secara mandiri, sementara 6 antigen lainnya masih sebatas proses perakitan (assembly) atau formulasi akhir karena bahanbakunya masih diimpor dari China dan India.

"Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir," tegasnya.

Adapun pemilihan dengue sebagai salah satu prioritas lantaran tingginya angka kasus di Indonesia. Data Kemenkes mencatat terdapat sekitar 151 ribu kasus dengue dengan 650 kematian setiap tahunnya.

"Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas," jelas Menkes Budi.

Dipimpin Doktor FKUI

Pengembangan vaksin dengue ini dipimpin oleh Pusat Penelitian Penyakit Menular dan Imunologi (IDIRC), Institut Pendidikan dan Penelitian Kedokteran Indonesia (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di bawah kepemimpinan ProfDra BetiErnawati Dewi, Ph D sejak 2023.

Profesor Beti menjelaskan, prototipe vaksin tersebut adalah hasil penelitian multidisiplin yang mengintegrasikan virologi, imunologi, bioinformatika, dan teknologi mRNA. Pengembangan vaksin ini menggunakan strain virus dengue yang berasal dari Indonesia.

Tim peneliti juga menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi potensi mutasi virus di masa mendatang. Keunggulan lain dari kandidat vaksin ini adalah modifikasi pada loop fusi untuk mencegah peningkatan ketergantungan antibodi (ADE).

"Kami berharap inovasi ini dapat memberikan solusi terhadap tingginya beban penyakit demam berdarah di Indonesia dan secara global," kata Prof Beti dalam laman FKUI dikutip Selasa (14/7/2026).



(nir/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads