Kisah Rasha, Penyandang Disabilitas yang Suka Robotika Tembus UGM Tanpa Bimbel

ADVERTISEMENT

Kisah Rasha, Penyandang Disabilitas yang Suka Robotika Tembus UGM Tanpa Bimbel

Cicin Yulianti - detikEdu
Sabtu, 11 Jul 2026 19:00 WIB
Rasha, mahasiswa baru UGM penyandang disabilitas
Rasha, mahasiswa baru UGM penyandang disabilitas. Foto: UGM
Jakarta -

Sebagai pengguna kursi roda, Rasha Putra Permata tidak pernah berkecil hati. Kondisi disabilitasnya tak pernah membuat Rasha berhenti menggapai impian masuk perguruan tinggi negeri.

Tahun ini, ia berhasil lolos di program studi (prodi) Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Ia mengaku sudah lama mendambakan berkuliah di UGM.

"Saya memang sudah lama ingin kuliah di UGM. Saya sering ke UGM dan menurut saya suasana kampusnya nyaman. Dari dulu memang ingin bisa kuliah di sini," tuturnya dikutip dari laman UGM pada Jumat (10/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemuda berusia 18 tahun ini merupakan penyandang disabilitas daksa spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2. Kondisi tersebut membuatnya tidak bisa layaknya normal.

ADVERTISEMENT

Perjuangan Rasha Tembus UGM

Untuk tembus ke UGM lewat jalur tes, Rasha harus berusaha keras dalam belajar materi UTBK. Rasha juga tidak ikut les karena tidak ada tempat les di sekitarnya yang memiliki akses untuk penyandang disabilitas.

"Rasha tidak bisa ikut bimbel karena banyak tempat les yang belum aksesibel. Akhirnya dia mengumpulkan soal-soal dari teman-temannya, lalu belajar sendiri sampai jam satu atau dua pagi," kata sang ibunda, Triani.

Setiap malam, Rasha berlatih soal latihan. Baginya, materi Pengetahuan Kuantitatif (PK) dan Penalaran Matematika (PM) sangat menantang dan memerlukan waktu lebih untuk mempelajarinya.

"Materi yang paling sulit buat saya itu Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika. Jadi saya harus banyak latihan supaya bisa memahami pola soalnya," ujarnya.

Murid Aktif Selama Sekolah

Tak cuma fokus dengan belajar, Rasha juga ternyata termasuk murid yang aktif. Ia pernah bergabung sebagai pengurus internal multimedia di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Bahkan, ia sering dipercaya sebagai koordinator acara seperti pentas seni atau kegiatan sosial. Ia merasa senang karena di tengah kondisinya yang terbatas tetapi ia bisa tetap berkontribusi.

"Selama di SMA saya aktif di OSIS sebagai pengurus internal multimedia. Saya juga pernah menjadi koordinator kegiatan sosial dan pentas seni di sekolah, serta terlibat sebagai asisten koordinator di beberapa kegiatan lainnya," jelasnya.

Gemar dengan Dunia Robotika

Sejak SMA, Rasha sudah mempelajari dasar robotika dan pemprograman. Rasha juga merupakan penggemar Webtoon sampai ia juga pernah membuatnya.

"Saya tertarik dengan robotika dan ingin belajar lebih dalam lagi di Teknik Fisika. Saya juga ingin mengembangkan kemampuan coding yang saya sukai sejak sekolah," katanya.

Sebelum memilih Teknik Fisika UGM, Rasha sempat mempertimbangkan Teknik Elektro hingga Teknik Industri. Namun, pilihannya tetap mantap di Teknik Fisika.

Rasha mengaku keberhasilannya tembus UGM tak semerta-merta hanya karena usahanya. Sang ayah dan ibu selalu menjadi pihak yang setia membantunya.

Sang ibu, Triani berharap agar anaknya bisa berkuliah dengan baik. Ia berharap UGM bisa memperkuat kampusnya dengan menyediakan fasilitas ramah disabilitas yang lebih baik.

"Harapan kami, UGM terus meningkatkan aksesibilitas agar mahasiswa disabilitas bisa belajar dengan nyaman dan mengembangkan potensinya. Kami percaya mereka memiliki kemampuan yang sama untuk berprestasi dan memberi manfaat bagi banyak orang," katanya.



(cyu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads