Pakar IPB: Sampah Plastik Bisa Diolah Jadi Bahan Bakar, Tapi...

ADVERTISEMENT

Pakar IPB: Sampah Plastik Bisa Diolah Jadi Bahan Bakar, Tapi...

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Jumat, 12 Jun 2026 08:31 WIB
Pekerja menggoreng tahu di salah satu pabrik tahu yang menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar di Tropodo, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (15/5/2025). Pabrik tahu di wilayah tersebut menggunakan sampah plastik dan spon karet sebagai bahan
Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq/Pekerja menggoreng tahu di salah satu pabrik tahu yang menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar di Tropodo, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (15/5/2025).
Jakarta -

Sampah plastik masih menjadi tantangan lingkungan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini membuat olahan sampah plastik terus dikembangkan, salah satunya menjadi bahan bakar.

Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), setiap hari jumlah sampah plastik yang masuk ke laut, sungai, dan danau di dunia setara dengan sekitar 2.000 truk sampah. Dalam setahun, sekitar 19–23 juta ton limbah plastik mencemari ekosistem perairan.

Menurut data tahun 2025, sampah plastik di Indonesia diperkirakan mencapai 12,4 juta ton (per tahun). Ini berarti, ada sekitar 28.000 ton sampah plastik yang dihasilkan setiap harinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tengah upaya mencari solusi pengelolaan limbah, muncul wacana pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan bakar. Pakar IPB University, Dr Leopold Oscar, mengatakan bahwa secara ilmiah limbah plastik memang dapat diolah menjadi bahan bakar cair melalui teknologi pirolisis.

"Plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) cenderung menghasilkan senyawa hidrokarbon yang lebih sesuai untuk bahan bakar," ucapnya, dilansir dari laman IPB University.

ADVERTISEMENT

Tak Semua Plastik Bisa Diolah

Pirolisis merupakan proses penguraian termokimia material pada suhu tinggi dalam kondisi minim atau tanpa oksigen. Melalui proses tersebut, plastik dipecah menjadi gas, cairan, dan residu padat, di mana produk cairnya berpotensi dikembangkan menjadi bahan bakar.

Leopold menjelaskan bahwa karakteristik minyak hasil pirolisis bergantung pada jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku. Ini artinya, sampah plastik bisa diolah menjadi bahan bakar, tapi bergantung pada jenis plastiknya.

"Karakteristik minyak hasil pirolisis sangat dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku," jelasnya.

Plastik jenis polyethylene terephthalate (PET) dan polyvinyl chloride (PVC) kurang ideal untuk dijadikan bahan bakar. Ini karena jenis tersebut dapat menghasilkan senyawa yang bersifat korosif atau berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.

Selain jenis plastik, kualitas produk juga dipengaruhi oleh suhu operasi, proses pemanasan, penggunaan katalis, hingga tahap pra-perlakuan bahan baku. Dengan begitu, minyak hasil pirolisis masih memerlukan proses pemurnian, distilasi, maupun cracking sebelum memenuhi standar mutu bahan bakar diesel.

Perlu Regulasi dan Pengawasan

UNEP menilai persoalan plastik tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan daur ulang. Menurut lembaga tersebut, krisis pencemaran plastik memerlukan perubahan sistemik menuju ekonomi sirkular karena dampaknya berkaitan dengan perubahan iklim, degradasi ekosistem, hingga kesehatan masyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, Leopold menilai pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar perlu disertai standar dan pengawasan yang ketat apabila nantinya dipasarkan kepada masyarakat.

"Apabila nantinya dipasarkan kepada masyarakat, aspek kualitas dan keamanan harus menjadi prioritas utama. Mulai dari pemilahan bahan baku, pengendalian proses produksi, hingga pengujian mutu produk akhir perlu dilakukan secara konsisten. Di sisi lain, Indonesia juga memerlukan regulasi yang jelas terkait standar bahan baku, proses produksi, dan kualitas produk yang dihasilkan," terangnya.

Menurutnya, teknologi pirolisis berpotensi membantu mengurangi timbunan limbah sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular karena memberikan nilai tambah pada sampah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan peningkatan efisiensi proses, kelayakan ekonomi, dan keamanan lingkungan masih perlu menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi tersebut.

"Ke depan, pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar cukup potensial untuk memecahkan solusi pengelolaan limbah, terutama selama kebutuhan energi masih bergantung pada sumber daya fosil. Akan tetapi, karena produk pirolisis plastik dapat digunakan juga untuk keperluan nonbahan bakar, perannya perlu terus dievaluasi seiring berkembangnya pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia," tutur Leopold.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads