Apa yang membuat sebuah kebijakan pendidikan dianggap berhasil? Apakah karena aturannya telah tersusun rapi, prosedur telah dijalankan, dan target telah tercapai? Atau ada ukuran lain yang sering luput dari perhatian bersama? Digitalisasi administrasi, penguatan akuntabilitas, peningkatan mutu, akreditasi, pelaporan kinerja, hingga berbagai indikator evaluasi terus dikembangkan. Semuanya penting, karena pendidikan membutuhkan tata kelola yang baik agar berjalan transparan dan berkelanjutan.
Namun di balik berbagai upaya tersebut, muncul kegelisahan yang tidak boleh diabaikan. Banyak pendidik menghabiskan semakin banyak waktu untuk mengisi laporan, menyusun dokumen, memenuhi indikator kinerja, atau menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan administratif.
Di banyak sekolah, pendidik mengeluhkan waktu yang seharusnya digunakan untuk mendampingi peserta didik justru tersita oleh tuntutan dokumentasi dan pelaporan. Kondisi ini bukan sekadar kesan subjektif. Berbagai survei menunjukkan bahwa beban administratif masih menjadi keluhan utama banyak pendidik. Pendidikan berpotensi mengalami pergeseran dari proses membentuk manusia menjadi proses memenuhi target-target yang dapat diukur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam situasi seperti ini, pendidikan berisiko terjebak dalam budaya pengukuran, yaitu kecenderungan menilai keberhasilan terutama berdasarkan angka, indikator, dan capaian yang dapat dilaporkan. Akibatnya, hal-hal yang menjadi inti pendidikan seperti keteladanan, kepedulian, kesabaran, dan relasi perlahan tersingkir karena sulit diterjemahkan ke dalam statistik.
Masalahnya bukan sekadar banyaknya administrasi, melainkan kecenderungan menilai manusia berdasarkan apa yang dapat diukur. Di tengah budaya yang semakin mengandalkan metrik, skor, dan keterukuran untuk menilai keberhasilan, dunia pendidikan menghadapi pertanyaan mendasar: apakah manusia masih dipandang sebagai tujuan atau sekadar objek penilaian?
Martabat Manusia dalam Budaya Angka
Negeri Para Bedebah, karya Tere Liye mengingatkan bahwa sebuah sistem dapat berjalan dengan sangat rapi, tetapi perlahan kehilangan sensitivitasnya terhadap manusia dan kemanusiaan. Fenomena serupa dapat muncul dalam dunia pendidikan. Ketika perhatian terlalu fokus pada target dan indikator, manusia berisiko berubah menjadi angka. Peserta didik mudah dipahami melalui nilai, peringkat, dan capaian akademik, sementara pergumulan, karakter, dan proses pertumbuhan mereka tidak selalu tampak dalam data yang tersedia. Padahal pendidikan sejatinya tidak pernah dimulai dari angka, melainkan dari relasi.
Berangkat dari situasi ini, dunia pendidikan menghadapi sebuah paradoks. Semakin banyak aspek pendidikan berhasil diukur, belum tentu semakin banyak aspek pendidikan yang dapat dipahami. Data dapat menunjukkan tingkat kelulusan, capaian pembelajaran, atau produktivitas kerja, tetapi tidak selalu mampu menangkap kualitas relasi antara pendidik dan peserta didik. Tidak semua yang bernilai dapat diukur, dan tidak semua yang dapat diukur sungguh-sungguh bernilai.
Dalam pembahasannya mengenai keadilan, Wolterstorff menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang melekat pada dirinya. Nilai seseorang tidak berasal dari produktivitasnya, jabatannya, ataupun manfaatnya bagi sistem. Manusia bernilai karena dirinya sendiri. Oleh karena itu, ukuran keadilan tidak cukup hanya bertanya apakah aturan telah diterapkan secara benar, tetapi juga apakah manusia yang terdampak oleh aturan tersebut tetap diperlakukan sebagai pribadi yang bermartabat.
Refleksi Wolterstorff menjadi relevan ketika pendidikan modern semakin dipengaruhi oleh logika manajerial yang menekankan efisiensi, produktivitas, dan keterukuran. Namun ketika dijadikan ukuran utama keberhasilan, manusia dapat kehilangan tempatnya sebagai tujuan dan hanya dipandang sebagai sarana pencapaian target institusional. Di sinilah keadilan tidak lagi hanya berbicara tentang keteraturan sistem, tetapi juga tentang kemampuan sistem menghormati martabat manusia yang hidup di dalamnya.
Perspektif Wolterstorff tersebut menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat dunia pendidikan. Para pendidik adalah pribadi-pribadi yang menginvestasikan waktu, tenaga, pengalaman, dan perhatian untuk membentuk generasi berikutnya.
Sayangnya, dalam budaya birokrasi modern, manusia sering dinilai berdasarkan apa yang dapat diukur. Padahal tidak semua hal yang paling penting dalam pendidikan dapat dihitung. Kesabaran seorang pendidik mendampingi peserta didik yang sedang kehilangan motivasi belajar tidak muncul dalam laporan kinerja. Keteladanan moral yang ditunjukkan seorang pendidik tidak selalu tercermin dalam instrumen evaluasi.
Demikian pula kepedulian, empati, dan pengorbanan yang menjadi inti panggilan seorang pendidik. Ia mungkin berhasil mengubah arah hidup seorang peserta didik yang sedang terpuruk, tetapi kontribusi semacam itu sering kali tidak pernah masuk dalam indikator keberhasilan institusi. Ketika pendidikan hanya menghargai apa yang dapat diukur, ada risiko bahwa manusia dinilai lebih berdasarkan performanya daripada martabatnya.
Keadilan di Balik Keteraturan
Wolterstorff membedakan antara keteraturan dan keadilan. Sebuah sistem dapat menciptakan keteraturan administratif, tetapi belum tentu menghadirkan keadilan yang sesungguhnya. Keadilan menuntut pengakuan terhadap martabat manusia yang hidup di dalam sistem tersebut. Pemikiran ini menghadirkan koreksi yang penting bagi dunia pendidikan, yaitu pendidikan pada dasarnya adalah ruang relasi antarmanusia. Ia tidak dapat direduksi menjadi sekumpulan prosedur dan indikator.
Karena itu, pembenahan pendidikan perlu menjaga keseimbangan antara kepastian aturan dan tata kelola yang baik dengan penghormatan terhadap martabat manusia yang menjalankan dan mengalami sistem tersebut. Tanpa aturan, pendidikan akan kehilangan arah. Namun tanpa penghormatan terhadap manusia yang terlibat di dalamnya, pendidikan berpotensi kehilangan jiwanya.
Pada akhirnya, kualitas sebuah kebijakan pendidikan tidak hanya terlihat dari seberapa rapi ia disusun atau seberapa tinggi target yang berhasil dicapai. Kualitasnya juga terlihat dari kemampuannya melihat wajah-wajah yang berada di balik angka, data, laporan, dan prosedur.
Sebab pendidikan tidak lahir dari dokumen. Pendidikan lahir dari perjumpaan manusia dengan manusia. Dan mungkin, di tengah budaya yang sibuk mengukur, pendidikan perlu mengingat kembali bahwa manusia lebih besar dari indikator yang mewakilinya. Keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa banyak hal yang berhasil diukur, melainkan oleh seberapa baik manusia dibentuk, dihargai, dan dimanusiakan
*) Sugianto, MDiv, MTh
Dosen STT Reformed Indonesia, Jakarta
*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detikcom











































