Kritiknya Dijawab Seskab Teddy, Ini Profil Dino Patti Djalal

ADVERTISEMENT

Kritiknya Dijawab Seskab Teddy, Ini Profil Dino Patti Djalal

fahri zulfikar - detikEdu
Selasa, 02 Jun 2026 14:00 WIB
Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal dan Seskab Teddy Indra Wijaya.
Foto: (Repro detikcom)/Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal dan Seskab Teddy Indra Wijaya.
Jakarta -

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal mengkritik kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dino menyebutkan bahwa Prabowo menjadi kepala negara yang paling sering pergi ke luar negeri sejak menjabat.

"Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri," katanya dalam video yang diunggah di akun resminya, Sabtu (30/5/2026), dilihat Selasa (2/6/2026).

Dino menyarankan Prabowo sebagai presiden untuk mengurangi perjalanan ke luar negeri. Ia juga mengimbau agar presiden tidak menganggap remeh suara publik mengenai isu perjalanan luar negeri yang terlalu sering.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," ujarnya.

Menurut Dino, perjalanan ke luar negeri seorang presiden memakan biaya yang besar. Ini termasuk biaya rombongan tim, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler, hingga pengamanan.

ADVERTISEMENT

Untuk mengurangi perjalanan ke luar negeri, Dino menyarankan lima hal, yakni mengandalkan video call atau Zoom untuk komunikasi, memanfaatkan kunjungan ke forum internasional untuk bertemu kepala negara yang hadir, kunjungan internasional harus disusun secara profesional dan terencana, lebih banyak menerima tamu negara ketimbang pergi ke luar negeri, serta terakhir, keterlibatan lebih aktif dari Menlu Sugiono untuk misi diplomatik yang bersifat taktis.

Tanggapan Seskab Teddy Wijaya

Kritik Dino, kemudian ditanggapi oleh Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Teddy mengakui bahwa Dino merupakan diplomat hebat yang pernah menjabat sebagai Wamenlu, meski hanya 3 bulan. Ia juga berterima kasih atas masukan yang diberikan Dino.

"Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur," ujar Teddy di akun media sosial Instagram milik Sekretariat Presiden, Senin (1/6/2026).

"Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," imbuhnya.

Dalam videonya, Teddy menjelaskan satu per satu poin yang disampaikan Dino. Salah satunya soal biaya perjalanan luar negeri presiden. Ia mengatakan bahwa kelebihan biaya yang telah dianggarkan negara sepenuhnya ditanggung pribadi oleh Presiden Prabowo.

Kemudian, untuk rombongan perjalanan presiden ke luar negeri, jumlahnya sudah dikurangi dari periode sebelumnya. Menurut Teddy, dulu rombongan sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang, kini hanya 50-60 orang.

"Kemudian yang kedua, jumlah rombongan. Ini sangat penting. Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran. Lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi kalau dulu, itu sekali luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," jelasnya.

Lantas siapa sebenarnya Dino Patti Djalal? Berikut profilnya.

Profil Dino Patti Djalal dan Pendidikannya

Dino Patti Djalal lahir di Belgrade, Yugoslavia pada 10 September 1965. Ia merupakan anak dari diplomat senior Hasjim Djalal, yang juga dikenal sebagai pakar hukum laut internasional.

Berkat ayahnya, Dino sudah mengenal dunia diplomat sejak kecil. Ia juga akrab dengan pergaulan internasional, antara lain pernah tinggal di Kanada, Yugoslavia, hingga Singapura.

Berikut profil pendidikan Dino dari SD hingga PhD:

1. SD Muhammadiyah

2. SMP AL Azhar Jakarta

3. McLean High School, Virginia, AS

4. S1 Political Science, Carleton University, Kanada

5. S2 Political Science, Simon Fraser University, Kanada

6. PhD: International Relations, London School of Economics and Political Science, Inggris.

Dengan latar belakang pendidikan dan diplomasinya, Dino menjelma menjadi tokoh yang kemudian disebut "Bapak Diaspora Indonesia". Ia mendirikan Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) yang memiliki jaringan lebih dari 100.000 orang.

Pada 2012, ia semakin dikenal luas karena perannya meluncurkan Kongres Dunia Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles. Ia mencetuskan istilah "diaspora Indonesia" dan menggagas Jaringan Diaspora Indonesia di seluruh dunia.

Karier dan Prestasi

Dino sendiri bukan sosok asing bagi pemerintahan Indonesia. Ia sudah bergabung dengan Departemen Luar Negeri Indonesia pada 1987, menjadi juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004-2010, hingga menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat pada 2010-2013.

Dihitung sejak 1987, Dino Patti Djalal sudah berkiprah hampir 40 tahun di dunia diplomasi Indonesia. Berikut ini rangkuman kariernya, dikutip dari dinopattidjalal.com.

1. Bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia pada 1987

2. Menjadi diplomat di London, Dili, dan Washington DC

3. Juru bicara Pemerintah Indonesia dalam referendum PBB di Timor Timur pada 1999

4. Direktur Urusan Amerika Utara pada 2002

5. Juru bicara, penasihat kebijakan luar negeri, dan penulis pidati Presiden SBY pada 2004-2010

6. Duta besar RI untuk AS pada 2010-2013

7. Menerima Bintang Jasa Utama pada 2010

8. Memenangkan penghargaan bergengsi "Marketeer of the Year" pada 2013

9. Menerima Bintang Mahaputra Adipradana pada 2014

10. Wakil Menteri Luar Negeri pada Juni-Oktober 2014

11. Pernah menjabat sebagai anggota Dewan Gubernur Institut Perdamaian dan Demokrasi

12. Mendirikan Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) pada 2015

13. Anggota Komite Eksekutif Forum Perdamaian Paris

14. Mendirikan 1000 Lingkaran Abrahamik, sebuah program antaragama untuk mempromosikan rasa saling menghormati dan melawan fanatisme yang diwariskan dari akar rumput dengan melibatkan para pemimpin agama Islam, Kristen, dan Yahudi dari berbagai negara

15. 1000 Lingkaran Abrahamik terpilih untuk ditampilkan di Forum Perdamaian Paris pada 2017 dan menerima Penghargaan Antarbudaya untuk Inovasi dari Austria pada 2020

16. Ketua Dewan Direksi World Resources Institute (WRI) Indonesia

17. Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) pada 2018

18. Pemegang Rekor Dunia Guinness untuk ansambel angklung terbesar, yang ia selenggarakan pada 2011

19. Penulis 11 buku tentang kepemimpinan.




(faz/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads