Seperti Apa Rasanya Kuliah Fast Track S1-S2? Launa Silky Bagikan Pengalamannya

ADVERTISEMENT

Seperti Apa Rasanya Kuliah Fast Track S1-S2? Launa Silky Bagikan Pengalamannya

Nikita Rosa - detikEdu
Rabu, 13 Mei 2026 08:30 WIB
Launa Silky Karenindra Rokhmat
Launa Silky Karenindra Rokhmat. (Foto: Unpad)
Jakarta -

Launa Silky Karenindra Rokhmat berhasil mendapat predikat wisudawan terbaik Program Magister Unpad TA 2025/2026. Menamatkan Sarjana dan Magister dalam waktu singkat, Launa menuturkan, dirinya mengikuti pogram fast track.

Fast track adalah program akselerasi studi yang memungkinkan mahasiswa S1 diUnpad merampungkan studi S1 dalam waktu lebih singkat dan lebih hemat biaya. Pada program ini, mahasiswa dapat mulai mengambil mata kuliah S2 sejak semester 7 di program S1.


Launa sendiri mengikuti fast track pada Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di awal mengikuti perkuliahan, Launa mengaku proses adaptasi bukanlah hal yang mudah. Namun, dukungan lingkungan dan teman-teman membuatnya perlahan menikmati proses belajar.

"Bagi saya, pencapaian ini bukan semata hasil usaha saya sendiri, melainkan karena dukungan dari orang-orang di sekitar saya," kata Launa dalam laman Unpad dikutip Selasa (12/5/2026).

ADVERTISEMENT

Fokus Organisasi dan Kepanitiaan di Jenjang Sarjana

Pengalaman organisasi dan kepanitiaan ia fokuskan saat jenjang Sarjana. Dari pengalaman itu, ia mengembangkan kemampuan bekerja sama dan pengalaman organisasi.

Pada jenjang ini pula ia mulai tertarik menjadi peneliti.Launa kemudian mendaftarkan diri mengikuti program fast track. Selain peluang riset yang lebih besar, ia juga tertarik dengan potensi pendanaan dan hibah penelitian yang bisa didapat.

Tantangan Selama Fast Track

Launa mengaku salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya muncul saat melakukan penelitian terkait pengembangan material Molecularly Imprinted Polymers untuk sensor HbA1c sebagai biomarker diabetes. Dalam prosesnya, eksperimen harus berulang kali dilakukan karena material yang disintesis belum memberikan respons sensor sesuai harapan.

"Dalam beberapa percobaan polimer yang saya sintesis belum terbentuk dengan baik atau respons sensornya belum sesuai harapan, sehingga eksperimen harus diulang berkali-kali. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa penelitian merupakan proses panjang yang membutuhkan evaluasi dan ketekunan," ujarnya.

Berhasil Terbitkan Jurnal Q1

Selain aktif melakukan penelitian, Launa juga berhasil menerbitkan artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi Q1. Proses publikasi tersebut dimulai dari menentukan topik penelitian yang relevan dan memiliki unsur kebaruan (novelty).

Menurutnya, tantangan terbesar dalam publikasi ilmiah adalah memastikan data penelitian benar-benar kuat dan konsisten. Selain itu, proses revisi dari reviewer juga membutuhkan ketelitian.

"Kadang kami juga perlu mengecek ulang hasil penelitian atau menambahkan data analisis tertentu agar penjelasannya lebih lengkap," jelas Launa.

Launa berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak takut mencoba hal baru. Ia berharap mahasiswa lain bisa tetap konsisten menjalani proses belajar karena setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing.

"Trust the process, karena setiap pengalaman pasti membawa pelajaran bagi kita," pesannya.




(nir/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads