Pelumas Kendaraan dari Minyak Nabati, Ini Inovasi Guru Besar UI

ADVERTISEMENT

Pelumas Kendaraan dari Minyak Nabati, Ini Inovasi Guru Besar UI

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Sabtu, 09 Mei 2026 11:00 WIB
Ilustrasi minyak. Foto: venars.original310717/Vecteezy
Jakarta -

Ketergantungan industri terhadap pelumas berbasis minyak bumi selama ini menyisakan persoalan serius bagi lingkungan. Selain sulit terurai, residu pelumas mineral berpotensi mencemari tanah dan air.

Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Prof Dr Ir Sukirno, M Eng, mendorong penggunaan pelumas berbasis minyak nabati sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan.

Dalam seminar ilmiah berjudul "Teknologi Pelumasan (Lubrication Technology): Produksi Pelumasbio (Biobased) Berbasis Minyak Nabati dan Pilihan Aplikasinya", ia menekankan, pelumas memiliki peran krusial dalam menjaga kinerja mesin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanpa pelumasan yang tepat, gesekan antarlogam dapat memicu panas berlebih, mempercepat keausan, hingga menyebabkan kerusakan mesin. Karena itu, inovasi pelumas yang efisien sekaligus ramah lingkungan menjadi kebutuhan mendesak di berbagai sektor industri.

Performa Tinggi, Lebih Aman bagi Lingkungan

Pelumas berbasis minyak nabati menawarkan sejumlah keunggulan teknis sekaligus ekologis. Selain mampu terurai di alam hingga lebih dari 90 persen, pelumas ini juga memiliki daya lekat yang lebih baik pada permukaan logam, sehingga perlindungan terhadap gesekan menjadi lebih optimal.

ADVERTISEMENT

Karakteristik lainnya meliputi stabilitas penggunaan yang baik, tidak mudah menguap, serta titik nyala lebih tinggi yang membuatnya lebih aman.

"Sebagai alternatif, pelumas berbasis minyak nabati dinilai lebih aman karena mudah terurai di alam. Bahkan, tingkat penguraiannya bisa mencapai lebih dari 90 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pelumas mineral," ujar Prof Sukirno, dilansir laman UI.

Keunggulan ini membuat pelumas nabati sangat relevan untuk aplikasi yang berisiko mencemari lingkungan, seperti grease, oli hidrolik, cairan pemotongan logam, hingga oli mesin dua langkah.

"Pelumas nabati sangat cocok digunakan pada aplikasi yang berpotensi mencemari lingkungan, seperti pelumas grease, oli hidrolik, cairan pemotongan logam, serta oli mesin dua langkah," ujarnya.

Tantangan Teknologi dan Arah Pengembangan

Meski menjanjikan, pengembangan pelumas nabati masih menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama terkait ketahanan terhadap suhu ekstrem.

Performa pada suhu tinggi maupun rendah masih perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi standar mesin modern. Untuk itu, rekayasa kimia dan pengembangan bahan aditif menjadi fokus utama dalam riset lanjutan.

Ke depan, pelumas berbasis minyak nabati diproyeksikan memiliki peluang besar untuk menggantikan pelumas konvensional. Dengan inovasi berkelanjutan, teknologi ini tidak hanya mendukung efisiensi industri, tetapi juga menjadi bagian penting dalam transisi menuju sistem produksi yang lebih ramah lingkungan.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads