Deni Maulana sempat khawatir akan masa depan pendidikannya kelak. Namun siapa sangka, kesulitan ekonomi mengantarkan Deni menjadi mahasiswa berprestasi UGM.
KisahDeni bermula saat ia kehilangan sang ayah. Waktu itu,Deni masih duduk di bangku SMA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semasa hidup, ayah Deni merupakan buruh tani serabutan sementara ibunda bekerja sebagai pekerja migran di Yordania. Beruntungnya, ibu Deni selalu memotivasinya untuk menggapai cita-cita.
Ibunda Sampai Menjual Cincin
Agar anak-anaknya bisa sekolah, ibu Deni sampai menjual cincin kesayangannya. Lewat peristiwa itu, motivasi Deni semakin membara.
"Dari peristiwa itu saya belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berbentuk kata-kata, tetapi pengorbanan yang sering kali tidak terlihat," ungkapnya dalam laman UGM, Rabu (6/5/2026).
Mimpi bagi Deni bukan lagi sekadar keinginan, melainkan tanggung jawab. Deni terus memupuk prestasi hingga meraih medali emas Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) baca puisi tingkat nasional. Berbekal lebih dari 200 penghargaan, Deni membidik prodi Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM lewat jalur SNBP.
Ingin Jadi Mahasiswa Berprestasi dari Semester 1
Usai euforia diterima sebagai mahasiswa baru, Deni kembali membidik target baru: Mahasiswa Berprestasi.
"Keinginan menjadi mapres sudah ada sejak semester 1. Motivasi saya lahir dari latar belakang keluarga buruh tani, dengan orang tua lulusan sekolah dasar. Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk bermimpi besar," ujarnya.
Deni bercerita motivasinya mengikuti Mapres hingga tingkat nasional adalah untuk memperluas dampak dari inisiatif sosial yang ia kembangkan sekaligus membuktikan bahwa setiap orang dari latar belakang apapun memiliki kesempatan yang sama.
Selama lima semester, Deni konsisten membangun portofolio akademik dan nonakademik. Ia aktif mengikuti kompetisi nasional dan internasional, organisasi, pengabdian masyarakat, volunteer, menjadi mentor beasiswa, hingga mendirikan kelas bimbingan belajar puisi bernama Puisi Akademia. Deni juga meraih ratusan penghargaan di bidang akademik dan non akademik.
"Alhamdulillah, hingga hari ini saya bisa meraih lebih dari 150 lebih penghargaan selama di UGM, baik dalam akademik maupunnonakademik,"tuturnya.
Ia juga aktif sebagai kreator konten pendidikan yang berbagi pengalaman seputar masuk perguruan tinggi dan beasiswa. Deni bahkan membuka kelas bimbingan beasiswa gratis bagi ratusan siswa.
Sempat Direndahkan
Ketika mulai bermimpi kuliah di UGM, tidak sedikit orang yang meragukan langkahnya. Cuta-cita itu dianggap terlalu jauh untuk seorang anak buruh tani. Namun, Deni memilih menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk melangkah lebih jauh. "
"Mimpi tidak pernah salah. Yang salah hanya jika kita menyerah sebelum mencobanya," tegasnya.
Deni berpesan agar mahasiswa tidak pernah berkecil hati dengan latar belakang keluarga yang dimiliki. Menurutnya, mimpi tidak pernah membedakan dari mana seseorang berasal.
"Percayalah bahwa rezeki yang tertakar tidak akan tertukar, dan mimpi yang dijaga dengan sabar akan menemukan jalannya untuk menjadi nyata," pesannya.
(nir/nah)











































