Nama Jessy Wijaya pada Selasa (21/4/2026) lalu disebut dalam wisuda lulusan program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM). Bukan sebagai lulusan biasa, Jessy dinobatkan sebagai lulusan dengan IPK tertinggi.
Ia meraih IPK 3,97 sementara rata-rata IPK lulusan prodinya adalah 3,80. Jessy sendiri lulus dari pendidikan Spesialis Periodonsia di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi Lulusan Tercepat Program Spesialis
Selain meraih IPK tertinggi di programnya, Jessy juga jadi lulusan tercepat di program pendidikan spesialis. Ia lulus dalam waktu 2 tahun 11 bulan 17 hari.
Padahal di luar sana, rata-rata mahasiswa lulus dalam waktu 3 tahun 11 bulan. Meski kini meraih prestasi ini, Jessy mengaku tak pernah menargetkannya.
"Sejujurnya saya tidak pernah menargetkan untuk lulus tercepat atau mendapatkan IPK tertinggi, semuanya karena saya memang menyukai periodonsia, sehingga apa pun yang saya pelajari tidak terasa berat dan malah semakin membuat saya ingin terus belajar," ungkapnya, dikutip dari laman UGM, Sabtu (2/5/2026).
Tips Lolos Cepat dari UGM
Saat ditanya soal caranya lulus cepat, Jessy menjawab bahwa pilihan spesialis yang ia pilih sudah tepat. Jessy memilih Program Ilmu Kedokteran Gigi Klinis.
Di sana ia mendapatkan kesempatan untuk memahami teori lebih dalam. Sehingga saat lanjut spesialis, ia bisa fokus pada pendalaman perkembangan ilmu.
Cara lainnya adalah dengan mengambil riset yang masih berkorelasi dengan soal regenerasi jaringan penunjang sekitar gigi. Dengan begitu, ia mendapat kesempatan untuk merawat kesehatan gigi dan mulut yang lebih komprehensif.
Selain itu, Jessy sangat didukung oleh keluarga, teman, dan dosen. Sehingga ia bisa menyelesaikan pendidikan dengan lebih cepat.
"Berkat doa dan dukungan penuh dari keluarga yang selalu menemani pada setiap perjalanannya. Lalu, komitmen dosen adalah untuk membimbing dan mendukung agar berprestasi dan cepat lulus. Serta rekan-rekan residen yang sangat suportif dalam memberikan lingkungan belajar yang sehat dan menyenangkan," paparnya.
Jessy juga membagikan tantangan yang ia hadapi selama menjalani kuliah spesialis. Salah satunya, ia harus berinvestasi pada alat-alat bedah.
Namun, berkat prodi yang menyediakan fasilitas memadai, kendala tersebut dapat terselesaikan. Di samping kuliah, Jessy juga berkesempatan melakukan kegiatan seminar dan lomba internasional di luar negeri yang menambah pengalamannya.
"Saya ingin segera mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari dengan merawat pasien-pasien saya nantinya," harap Jessy seusai lulus.
(cyu/faz)











































