Mimpi adalah sebuah kemewahan. Begitulah kata Nazril Rommy Jiwa Cahyadi, siswa SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
Bagi Nazril, biasa ia disapa, bisa bersekolah hingga ke pendidikan tinggi dan mewujudkan mimpi, merupakan suatu hal yang mewah. Sebab sejak kecil ia ditopang oleh ibunya yang berjuang sendirian untuk membiayai keluarga.
Ayahnya sudah meninggal dunia dan ibunya bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan sejak 2018. Selama ini, ia tinggal bersama pakde dan budenya serta kakak dan adiknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ibu saya belum pernah pulang sama sekali dari awal bekerja hingga sekarang karena harus berjuang membiayai keluarga kami sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga," ujar Nazril kepada detikEdu, ditulis Kamis (16/4/2026).
Dari SMAU CT Arsa ke Kampus Luar Negeri
Dengan keterbatasannya, Nazril percaya akan sebuah mimpi. Baginya, mimpi itu gratis dan layak dicoba untuk diwujudkan.
Langkah pertamanya yakni bersekolah gratis di SMAU CT Arsa Sukoharjo. Menurut Nazril, sekolah tersebut telah memberinya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.
"Saya sangat berterima kasih kepada Ibunda Anita Ratnasari dan Ayahanda Chairul Tanjung karena telah mendirikan SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Sekolah ini telah memberi saya rumah sekaligus ruang untuk belajar dan membantu saya menemukan jati diri saya," katanya.
"Sekolah ini juga memberi saya keberanian untuk bermimpi tinggi dan mewujudkannya," imbuhnya.
Dengan tekad dan usahanya, pada 2026 ini, ia berhasil tembus ke kampus luar negeri. Nazril berhasil diterima di Wageningen University and Research, Belanda, jurusan Environmental Science, Animal Science, and Marine Science.
Bahkan, ia masih menunggu pengumuman kelolosan dari beberapa kampus lain, seperti University of Toronto, Monash University, University of Auckland, Adelaide University, hingga Tzu Chi University.
Ingin Meningkatkan Taraf Hidup Keluarga dan Jadi Peneliti
Apa yang Nazril capai saat ini, bukan hal yang mudah. Ia telah melewati kenyataan bahwa ia harus kehilangan ayahnya saat ibunya tidak ada di sampingnya karena tengah bekerja di luar negeri.
Tak lama setelah ayahnya meninggal, ia harus menghadapi situasi pandemi COVID-19. Saat itu, ia merasa terisolasi dari dunia, hingga merasa depresi.
"Saya berada di fase depresi berat saat itu. Untungnya, saya masuk ke SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo yang membantu saya untuk bangkit lagi dari keterpurukan. Sekolah ini benar-benar mengubah hidup saya," kenang Nazril.
Selama belajar di sekolah, ia tak pernah lepas dari motivasinya untuk mengubah kehidupan keluarganya. Ia juga ingin mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional sebagai peneliti.
"Saya ingin mendapatkan pendidikan kelas dunia yang membuka jalan untuk pekerjaan yang sepadan. Dengan demikian, saya akan bisa meningkatkan taraf hidup keluarga saya sekaligus memperkenalkan nama Indonesia ke ranah internasional," ungkap siswa asal Semarang tersebut.
"Cita-cita saya adalah menjadi seorang neuroscientist. Inilah penyebab saya mendaftar di program Neuroscience University of Toronto. Saya ingin menjadi bagian dari peneliti Indonesia yang membawa riset otak ke ranah praktis," lanjutnya.
Nazril mengaku perjuangannya belum selesai. Ia juga ingin anak-anak yang bernasib sama dengannya bisa berani mengejar impian mereka.
Ia juga mengajak untuk fokus mengejar impian tanpa membanding-bandingkan dengan anak-anak lain, terutama yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.
"Jangan pernah berhenti (bermimpi). Bagi orang seperti kita, kesempatan untuk mencoba dan mewujudkan mimpi adalah sebuah kemewahan yang sulit digapai," pesannya.
"Carilah support system yang akan membantu kalian untuk menggapai mimpi. It never hurts to reach out. Saya tahu betapa sulitnya memperjuangkan semua ini karena saya juga merasakannya. Tapi percayalah, kamu tidak sendirian," tutur Nazril.
(faz/nah)











































