1 Botol 15 Aroma, Parfum Berbasis AI Inovasi Anak ITB

ADVERTISEMENT

1 Botol 15 Aroma, Parfum Berbasis AI Inovasi Anak ITB

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Sabtu, 11 Apr 2026 20:00 WIB
Tim Moneyfesteam ITB yang beranggotakan  Rayhan Hidayatul Fikri, Allodya Qonnita, dan Muhammad Abdillah Putra Alfera mengembangkan konsep sistem parfum modular berbasis AI.
Tim Moneyfesteam ITB mengembangkan konsep sistem parfum modular berbasis AI. Foto: Dok. L'OrΓ©al Indonesia
Jakarta -

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membuktikan inovasi bisa lahir dari keberanian melihat masalah sehari-hari secara berbeda.

Dilansir dari laman resmi ITB, melalui gagasan teknologi parfum berbasis kecerdasan buatan, tim mahasiswa ini berhasil menorehkan prestasi tingkat nasional dan akan membawa inovasi mereka ke panggung global di Paris pada Juni 2026.

Tim Moneyfesteam yang terdiri dari Rayhan Hidayatul Fikri, Allodya Qonnita, dan Muhammad Abdillah Putra Alfera mengembangkan konsep sistem parfum modular berbasis AI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inovasi ini menggabungkan teknologi, gaya hidup, dan kebutuhan personal pengguna dalam satu ekosistem yang adaptif. Prestasi ini sekaligus menunjukkan mahasiswa Indonesia mampu bersaing dengan inovator dari berbagai negara.

Berawal dari Masalah Sederhana, Lahir Inovasi Berbasis AI

Ide inovasi ini muncul dari pengamatan sederhana terhadap gaya hidup pria modern yang dinamis. Tim melihat parfum umumnya hanya dirancang untuk satu momen, sementara aktivitas sehari-hari menuntut fleksibilitas yang lebih tinggi. Dari sinilah lahir konsep sistem parfum modular yang bisa menyesuaikan berbagai situasi.

ADVERTISEMENT

"Azzaro Quintessence merupakan sebuah sistem parfum modular yang memungkinkan pria memiliki banyak identitas aroma dalam satu botol. Masalahnya sederhana, tetapi nyata, pria modern menjalani banyak peran dalam sehari, sementara parfum masih didesain untuk satu momen saja," ujar Abdillah, dikutip dari laman resmi ITB.

Inovasi ini menggabungkan empat kompartemen aroma yang dapat menghasilkan hingga 15 kombinasi scent. Sistem tersebut juga dilengkapi perangkat portabel berbasis MagSafe serta aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang memungkinkan personalisasi aroma secara real-time.

"Melalui sistem 4-in-1 fragrance, AI personalization, dan portable device, kami ingin menciptakan pengalaman parfum yang adaptif, praktis, dan personal sesuai gaya hidup pria masa kini," tambahnya.

Kolaborasi Multidisiplin Jadi Kunci Keberhasilan

Perjalanan menuju juara nasional tidaklah mudah. Tim harus menggabungkan aspek teknologi, emosi, dan bisnis dalam satu solusi yang realistis. Tantangan tersebut justru menjadi kekuatan utama inovasi mereka.

"Menjadikan semuanya satu solusi yang masuk akal, scalable, dan tetap terasa 'luxury' adalah proses yang panjang. Namun justru di situlah kekuatan ide kami terbentuk," kata Abdillah.

Selain itu, dinamika tim juga menjadi tantangan tersendiri. Salah satu anggota menjalani program pertukaran di National University of Singapore (NUS), sehingga koordinasi dilakukan secara daring. Meski demikian, ide mereka semakin matang karena adanya kolaborasi lintas latar belakang (manajemen dan teknologi).

"Kombinasi ini membuat ide kami tidak hanya kreatif secara konsep, tetapi juga feasible untuk direalisasikan. Kami bisa menyeimbangkan antara market insight dan technological execution," jelasnya.


Membawa Inovasi Mahasiswa ke Level Internasional

Prestasi ini menjadi langkah awal bagi tim untuk membawa inovasi mereka ke tingkat internasional. Mereka akan mempersiapkan konsep yang lebih matang, memperdalam analisis pasar global, serta menyempurnakan strategi presentasi.

Selain tim Moneyfesteam, mahasiswa ITB lainnya yang tergabung dalam tim AADC juga meraih juara 2 dan Favorite Winner. Inovasi mereka berupa perangkat parfum pintar yang memungkinkan pengguna mengombinasikan beberapa aroma sekaligus dengan lebih fleksibel.

Kedua tim pun berharap prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mencoba dan berinovasi.

"Jangan takut berpikir berbeda, tapi pastikan tetap grounded pada real problem. Kompetisi seperti brandstorm bukan hanya soal menang, tetapi bagaimana kita belajar melihat dunia dengan cara yang lebih tajam, kritis, dan kreatif," tutur Abdillah.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Penggunaan AI yang Gak Ditoleransi Grammy"
[Gambas:Video 20detik]
(rhr/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads