Siswa MAN Insan Cendekia (IC) Pekalongan bernama Ahmad Ali Rayyan Shahab ini menorehkan capaian gemilang dengan memperoleh 15 letter of acceptance (LoA) dari kampus-kampus top dunia. Tak hanya itu, ia juga berhasil diterima di 3 perguruan tinggi negeri (PTN) favorit dalam negeri yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur International Undergraduate Program (IUP).
Meski memiliki pencapaian gemilang, Rayyan mengaku dirinya tidak termasuk dalam daftar siswa eligible Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Namun, ia pernah mengikuti pertukaran pelajar AFS Intercultural Program ke Finlandia selama 9 bulan.
Pertukaran pelajar selama 9 bulan mengharuskannya membagi performa di dua sekolah, di Indonesia dan Finlandia, sehingga berujung kurang optimal untuk memenuhi kriteria siswa eligible SNBP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai pelajar pertukaran 9 bulan itu aku tidak mengulang kelas, jadi aku di situ kan kayak harus nyambi sekolah dua sekolah gitu ya, sekolah di sana sama sekolah di Indonesia. Sehingga aku tidak bisa berperforma optimal di mana aku nanti bisa membuat aku jadi eligible SNBP, tapi itu aku diterima udah melalui International Undergraduate Program di ITB, UGM, dan ITS," ujarnya kepada detikEdu pada Senin (6/4/2026) saat dihubungi via telepon.
Maksimalkan Usaha, Gagal Persoalan Biasa
Rayyan berhasil diterima di jurusan Teknik Lingkungan ITS, jurusan Teknik Industri UGM, dan Teknik Lingkungan ITB. Kendati demikian, ia juga sempat ditolak oleh beberapa kampus favorit luar negeri yaitu Kyoto University, Tokyo University, dan University of California Berkeley.
Rayyan menganggap bahwa kegagalan adalah hal yang wajar, karena tidak semua yang diinginkannya harus didapat. Namun, kegagalan tersebut ia peroleh setelah berhasil mendapat universitas yang menjadi prioritasnya. Berarti, ia sudah mempersiapkan segala kemungkinannya dengan berusaha semaksimal mungkin.
"Jadi, tentunya aku juga gak mau kayak sugar coating di sini, artinya kegagalan diterima di universitas luar itu juga bisa menjadi hal yang sangat wajar perlu diketahui juga bahwa apa namanya ya gak bisa kayak kita dapat semua lah gitu kan. Jadi, aku itu mendaftar banyak kampus itu timeline-nya memang berbeda-beda gitu dan relatif banyak itu di kelas 12 semester satu," tuturnya.
Visi, Aksi, dan Konsistensi
Di balik pencapaiannya yang gemilang, Rayyan menegaskan dirinya bukan murid paling pintar baik secara akademik maupun organisasi. Akan tetapi, ia adalah murid yang memiliki visi, aksi dan konsistensi.
Baginya, memiliki visi adalah satu hal yang penting dimiliki setiap orang. Sebab, seorang visioner dapat mengetahui dan paham betul apa yang ia akan lakukan untuk masa depannya.
"Jadilah orang yang visioner, dan orang yang paham dengan apa yang mau dilakukan di masa depan, jadi punya bayangan konkret," ucapnya.
Selanjutnya, aksi yang ditunjukkan dengan mengeksplor minat dan bakat di luar kepentingan akademik. Apalagi jika ingin melanjutkan studi ke luar negeri, rata-rata kampus luar tidak hanya mencari mahasiswa yang pintar, tapi juga unik.
"Jadi, kampus luar negeri itu pengen teman-teman itu punya keunikan, bukan academic machine gitu loh, kalau cuman pinter tapi teman-teman itu tidak berbeda atau tidak punya keunikan, itu mereka tidak akan melihat teman-teman sebagai kandidat yang prospective," jelasnya.
Dan yang ketiga konsisten, ia memastikan apa yang dilakukan selama tiga tahun di SMA adalah hal bermakna. Maksudnya, ia telah melalui tahapan demi tahapan yang dibangun jauh sebelum memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, serta dijalani dengan konsisten.
"Punya makna dalam nanti melanjutkan di universitas luar negeri, misal aku melakukan exchange student, kemudian menulis, dan melakukan advokasi AICIS tadi, dan membentuk proyek di sekolah terkait dengan lingkungan itu aku konsisten kan, karena aku mau lanjut di teknik lingkungan," tandasnya.
Penulis adalah peserta program magang Kemnaker di detikcom.
(nah/nah)











































