Jadi Dosen di Kampus India Ini Wajib S3, Gaji Profesor Bisa Capai Rp 50 Juta

ADVERTISEMENT

Jadi Dosen di Kampus India Ini Wajib S3, Gaji Profesor Bisa Capai Rp 50 Juta

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Rabu, 18 Feb 2026 18:30 WIB
Jawaharlal Nehru University (JNU)
Jawaharlal Nehru University. Foto: Khanahmedsam/Wikimedia Commons
Jakarta -

Ada fakta menarik menjadi dosen di India, khususnya di Jawaharlal Nehru University (JNU). Hal ini diceritakan oleh salah satu mahasiswa S3 di sana, Mohd. Agoes Aufiya.

Jawaharlal Nehru University (JNU) adalah kampus negeri elite yang mendapat subsidi besar dari pemerintah India. Bukan hanya biaya kuliah yang terjangkau, kampus ini juga memiliki standar tinggi untuk pengajarnya.

Semua dosen di kampus tersebut harus memiliki gelar S3, dengan gaji tinggi yang dapat menembus Rp 50 juta per bulan untuk profesor senior.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah, kampus ini hanya menerima dosen minimal S3, itu ya gaji pertamanya 10 juta. Tapi masih belum termasuk tunjangan-tunjangan yang lainnya. Tapi kalau sudah profesor senior seperti pembimbing saya, itu bisa di angka 30-40 hingga 50 juta per bulan, ujar Agoes, dalam wawancara bersama detikEdu pada Senin (9/2/2026).

Agoes mengatakan dosen di JNU juga mendapat tunjangan diluar upah bulanan. Tunjangan yang dimaksud berupa rumah dinas di dalam kampus dengan fasilitas yang lengkap, dan dapat ditempati sampai habis masa pensiun.

ADVERTISEMENT


Selain dosen dan mahasiswa yang tinggal di dalam kampus, staf hingga karyawan juga mendapat fasilitas tempat tinggal di JNU. Luas area kampus elite tersebut dengan asrama dan fasilitas lengkap di dalamnya, ibarat seperti sebuah kota.

"Jadi seluruh dosen tinggal di dalam kampus. Kebayang nggak luasnya kampus ini? Luas sekali kampus ini. Ibarat kayak satu kota sendiri. Dan uniknya lagi, pekerja karyawan di kampus ini, stafnya, dalam tanda kutip, kita sebut juga dia pegawai pemerintah. Mereka juga punya tempat tinggalnya di dalam," jelasnya.

Menurut Agoes, Jawaharlal Nehru University adalah contoh yang baik dari pemerintah pusat dalam mengelola pendidikan tinggi. Kampus yang didirikan di atas tanah hibah Perdana Menteri pertama Jawaharlal Nehru ini seakan menyampaikan bahwa seperti inilah seharusnya pendidikan.

Hebatnya, pendidikan tinggi di kampus negeri elite tersebut tidak bergantung pada beasiswa apa pun. Agoes juga mengatakan ini bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah Indonesia untuk belajar dari cara India mengelola kampus negerinya.

Bahkan, sangat memungkinkan bagi Indonesia menerapkan hal serupa. Sekalipun belum mampu menyediakan asrama berikut fasilitasnya, pemerintah bisa menekan biaya kuliah di kampus-kampus negeri unggulan.

"Di sini peran negara itu benar-benar ada. Ini yang saya pikir luar biasa dan semoga bisa menjadi inspirasi di Indonesia. Misalnya dari peraturan presiden kah misalnya. Ataupun mungkin paling rendah misalnya dari tingkat kementerian kah misalnya. Kita memiliki beberapa kampus-kampus negeri yang bagus seperti UI, UGM, UNAIR," tutur Agoes.

"Misalnya seperti asrama, mes, ataupun dapur asrama. Setidaknya biaya semesterannya terjangkau, tanpa harus beasiswa," pungkasnya.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads