Mahasiswa ITB Ubah Limbah Rumah Tangga-Sampah di Kampus Jadi Briket Arang

ADVERTISEMENT

Mahasiswa ITB Ubah Limbah Rumah Tangga-Sampah di Kampus Jadi Briket Arang

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Kamis, 22 Jan 2026 08:30 WIB
Mahasiswa ITB Ubah Limbah Rumah Tangga-Sampah di Kampus Jadi Briket Arang
Foto: (Dokumentasi ITB)
Jakarta -

Sabut kelapa limbah rumah tangga dan sampah-sampah daun di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) mengilhami dua mahasiswa ITB ini untuk memanfaatkannya menjadi sumber energi. Bentuknya, briket arang organik alias bio-briket.

Adalah dua mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi, Fakultas Teknologi Industri ITB, Arsyad Arif Novitrian dan Indah Patricia Suwandoro, yang mengolah sampah di kampusnya sebagai solusi energi alternatif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Briket Berbahan Sabut Kelapa-Sampah Daun

Inovasi utama dari bio-briket ini terletak pada formulasi bahannya, terutama penggunaan sabut kelapa dan daun kering yang mampu menghasilkan briket secara efisien.

"Kami menggabungkan dua bahan dengan karakter berbeda (yakni) daun kering yang cepat menyala dan serabut kelapa yang memiliki kadar lignin tinggi, sehingga menghasilkan briket yang efisien," kata Arsyad dilansir dari laman ITB, dikutip dan ditulis, Kamis (22/1/2026).

ADVERTISEMENT

Produk ini sepenuhnya ramah lingkungan karena menggunakan bahan pengikat alami berupa pati tapioka. Daun kering dikumpulkan dari lingkungan ITB Kampus Jatinangor, sedangkan serabut kelapa diperoleh dari limbah rumah tangga.

Bio-briket ini juga unggul dari sisi performa. Daun kering yang terkandung di dalamnya mudah menyala karena kandungan volatilnya, sementara struktur arang serabut kelapa membuat durasi pembakaran lebih lama.

Proses pembakarannya menghasilkan lebih sedikit asap dan bau dibandingkan pembakaran limbah secara langsung. Seluruh bahan yang digunakan bersifat terbarukan, dan abu sisa pembakaran dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk.

Pembuatan bio-briket ini relatif sederhana dan mudah direplikasi. Limbah organik pertama-tama dikeringkan, kemudian dikarbonisasi dalam kaleng tertutup hingga menjadi arang. Arang tersebut dihaluskan, dicampur dengan perekat alami berupa pati tapioka, lalu dicetak secara manual.

Tahap akhir dilakukan dengan pengeringan selama dua hingga tiga hari di bawah sinar matahari, menghasilkan briket siap pakai yang efisien dan ramah lingkungan.

Potensi dan Tantangan

Secara ekonomis, bio-briket ini dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai solusi energi alternatif bagi rumah tangga maupun industri kecil.

"Jika diproduksi massal, perkiraan biaya produksi berada di kisaran Rp500-1.000 per briket, (sementara) harga jual di sekitar Rp1.500-2.000. Usaha ini tetap menguntungkan sekaligus membantu pengelolaan limbah," ungkap tim peneliti.

Meski menjanjikan, pengembangan bio-briket ini masih menghadapi tantangan, terutama dalam menstandarisasi komposisi bahan baku dan memastikan konsistensi proses pengeringan.

Untuk tahap berikutnya, tim berencana melakukan pengujian nilai kalor dan emisi secara kuantitatif di laboratorium, menetapkan harga jual standar, serta bekerja sama dengan bank sampah dan UMKM lokal guna membangun model ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Karya inovatif ini sudah ditampilkan dalam pameran bertajuk 'ALICE: Abyanara's Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment' yang digelar oleh Mahasiswa Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi FTI ITB angkatan 2024.




(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads