Kisah Nur, Relakan 7.500 Meter Tanah Pribadi Demi Sekolah Terdampak Bencana

ADVERTISEMENT

Kisah Nur, Relakan 7.500 Meter Tanah Pribadi Demi Sekolah Terdampak Bencana

Cicin Yulianti - detikEdu
Sabtu, 17 Jan 2026 15:00 WIB
Kisah Nur, Relakan 7.500 Meter Tanah Pribadi Demi Sekolah Terdampak Bencana
Nur, kepala madrasah yang hibahkan tanahnya seluas 7.500 meter untuk dibangun sekolah. Foto: Kemenag
Jakarta -

Aksi mulia kepala sekolah satu ini barangkali dapat menjadi teladan bagi detikers. Nur Ali Harahab, Kepala MTsN 7 Tapanuli Selatan menghibahkan tanahnya seluas 1.500 meter untuk membangun sekolah yang terdampak bencana di Sumatera Utara.

Ia merelakan tanah yang terletak di Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut tersebut untuk dikembangkan menjadi madrasah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baru Jabat Kepala Madrasah Sejak Agustus 2025

Nur memang sudah mengabdi sebagai guru selama 20 tahun. Namun, jabatan kepala madrasah baru ia enyam pada Agustus 2025.

Meski masih singkat, Nur merasa harus totalitas dalam memberikan pengabdiannya. Terlebih ia ingin berkomitmen besar terhadap pendidikan agama.

ADVERTISEMENT

"Dulu di Angkola Selatan belum ada madrasah. Dari situlah muncul niat saya dan suami, kalau suatu hari punya rezeki membeli tanah, kami ingin menghibahkannya untuk madrasah," tuturnya dikutip dari laman Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama, Sabtu (17/1/2026).

Beli Tanah dengan Pinjaman Bank

Perjuangan Nur dalam mendapatkan tanahnya ini tidaklah mudah. Bahkan, ia dan suami harus meminjam uang ke bank untuk membelinya.

Walaupun demikian, Nur tak menyesali sama sekali. Tanah tersebut memang sudah diniatkan untuk hibah sekolah.

"Saya ingin madrasah ini betul-betul menjadi milik umat dan negara. Kalau dikelola Kementerian Agama, insyaallah bisa bertahan dan terus melayani pendidikan anak-anak," ujarnya.

Pernah Rasakan Jadi TKI

Nur adalah lulusan Pendidikan Agama Agama (PGA) tahun 1990. Sebelum menjadi guru, Nur pernah bekerja sebagai tenaga kerja di berbagai daerah bahkan Arab Saudi.

Setelah merasakan pengalaman bekerja itu, Nur berpikir bahwa pendidikan menjadi sangat penting untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Dari sana ia bersungguh-sungguh dalam hal pendidikan.

Lewat madrasah yang akan dibangun, Nur berharap akan lahir banyak generasi muda yang berakhlak dan berilmu. Ia juga berpesan kepada para guru untuk mengajar dengan setulus hati.

"Marilah kita semua berniat tulus dan ikhlas untuk memperluas pendidikan agama. Dengan pendidikan agama, anak-anak bangsa akan menjadi generasi yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Sesuai semboyan kita, ikhlas beramal," ajaknya.



(cyu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads