Cerita Lea Jadi Lulusan Terbaik ITB, Bermula dari Riset Kampung Unik Ini

ADVERTISEMENT

Cerita Lea Jadi Lulusan Terbaik ITB, Bermula dari Riset Kampung Unik Ini

Cicin Yulianti - detikEdu
Rabu, 07 Jan 2026 17:00 WIB
Cerita Lea Jadi Lulusan Terbaik ITB, Bermula dari Riset Kampung Unik Ini
Lea pada momen wisuda. Foto: ITB
Jakarta -

Aprilea Sofiastuti Ariadi menjadi nama yang disorot dalam wisuda Institut Teknologi Bandung (ITB) periode Oktober 2025 lalu. Ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik magister ITB.

Perempuan dengan sapaan akrab Lea tersebut dinyatakan lulus dari program studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Bagaimana Lea bisa meraih predikat lulusan terbaik magister ITB?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan Kuliah di ITB

Lea sendiri bukan warga asal Bandung. Ia merantau ke Bandung untuk bekerja di sebuah biro arsitektur.

Selama bekerja, Lea sudah terlibat di berbagai proyek, misalnya proyek publik perancangan alun-alun hingga perpustakaan.

ADVERTISEMENT

Selama lima tahun berkarier, Lea telah mengerjakan proyek-proyek berat. Sehingga ia terdorong untuk mendalami ilmu yang sudah ia peroleh itu.

"Kalau dari aku pribadi, (jadi) ingin belajar lebih banyak untuk memberi lebih banyak," ujarnya dikutip dari laman ITB, Rabu (7/1/2026).

Lea melihat apa yang terjadi di ruang akademik dengan apa yang ada dengan dunia profesional sangat berbeda. Meski demikian, lewat pendidikan ia yakin bisa lebih mengeksplorasi gagasan secara lebih luas.

Tak salah, setelah melanjutkan magister Lea mendapatkan banyak ilmu baru. Ia juga mendapat kesempatan mengikuti beberapa studio bersama exchange student, yang memberinya lebih banyak pengalaman kolaborasi lintas budaya.

"Lebih fresh di idea-nya, referensi-referensinya," tuturnya.

Angkat Kampung Ini sebagai Topik Tesis

Dalam menyusun tesis, Lea mengangkat topik penelitian berasal dari pengalaman profesionalnya dan kompetensi desain yang pernah dijalanin. Menurutnya, banyak entitas di kampung halamannya yang unik.

Sebelumnya Lea mengikuti kompetisi desain di Singapura. Dari sana, ia menjadi tertantang untuk merancang arsitektur sebuah wilayah yang lebih besar.

"Itu pertama kali saya merancang skala yang sebesar itu. Itu benar-benar besar banget dan ternyata skala itu harusnya multidisiplin, ada rancang kota, ada Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) segala macam. Tapi karena waktu itu kita hanya dari arsitektur saja, jadi yang didesain arsitekturnya," katanya.

Lea kemudian mencari tahu sejarah kampung-kampus di Pulau Jawa yang juga berkembang dari sungai menjadi pemukiman. Akhirnya ia menemukan bahwa Kampung Sewu, Solo yang menarik untuk diteliti.

"Ada kampung yang diapit oleh Bengawan Solo, dan sungai yang menghubungkannya bernama Kali Pepe. Dulunya terdapat kedua sungai yang menghubungkan kota Solo dengan major port di Pulau Jawa. Dari situ akhirnya saya memulai tesis itu," katanya.

Adapun alasan lain Kampung Sewu dipilih untuk topik penelitian karena daerah tersebut merupakan bandar penting yang menghubungkan wilayah dalam Kota Solo dengan kawasan sekitar sungai.

Akan tetapi, fungsi dari daerah tersebut kini sudah memudar dan tidak lagi strategis. Hal tersebut dikarenakan perubahan moda transportasi masyarakat masa kini.

Ia pun berusaha menemukan cara untuk mengembalikan fungsi tersebut lewat penelitiannya. Ia menekankan agar nilai sejarah, budaya, dan identitas lokalnya tetap terjaga.

Setelah lulus S2, Lea akan berencana kembali aktif bekerja profesional. Ia ingin pengalaman praktiknya lebih berkembang dan membuka kesempatan ke depannya.




(cyu/nah)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads