Perjuangan Ardi Kuliah Sembari Narik Ojol, Kini Supervisor Pabrik Nikel Morowali

ADVERTISEMENT

Perjuangan Ardi Kuliah Sembari Narik Ojol, Kini Supervisor Pabrik Nikel Morowali

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Selasa, 06 Jan 2026 10:00 WIB
Perjuangan Ardi Kuliah Sembari Narik Ojol, Kini Supervisor Pabrik Nikel Morowali
Foto: (via LPDP)
Jakarta -

Pernah melakoni jadi rider ojek online demi membiayai kuliah, Ardi Alam Jabir kini berkarier sebagai supervisor di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Ini kisahnya.

Ardi lahir dari keluarga sederhana. Keluarganya bertahun-tahun merantau sebagai penambang rakyat di Kalimantan, kemudian kembali ke Makassar dan membuka toko sembako.

Kondisi keluarga Ardi membuat kuliah di matanya menjadi 'barang mewah'. Namun berkat prestasi akademik, ia diterima di Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin (UNHAS) melalui beasiswa Bidikmisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesempatan besar datang di akhir masa kuliah saat ia ditawari program student exchange ke Jepang. Pilihan itu tidak mudah. Kalau pilihan tak diambil, Ardi bisa cepat lulus dengan beasiswa Bidikmisi. Bila diambil, Ardi harus merelakan satu semester lagi masa kuliah yang tak ditanggung beasiswa Bidikmisi.

Dengan berbagai pertimbangan, Ardi memantapkan hati karena mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang. Konsekuensinya, berarti menambah satu semester tanpa beasiswa.

ADVERTISEMENT

"Jadi ketika saya extend perkuliahan ini saya memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan lainnya," kata Ardi dilansir dari laman LPDP.

"Saat itu saya memutuskan untuk narik ojek online untuk setidaknya untuk bisa mengcover biaya perkuliahan dan juga biaya sehari-hari saya selama berkuliah gitu," imbuhnya.

Studi di Jepang dan Tiongkok Bentuk Karakter dan Keahlian

Keputusan Ardi tetap ikut pertukaran pelajar ke Jepang tak salah. Pengalaman di Ehime University, Jepang membuka wawasan dan pengalamannya terhadap lingkungan riset dan belajar internasional. Dampaknya juga memunculkan semangat Ardi untuk studi lanjut di luar negeri.

Setelah lulus, ia mendapatkan beasiswa Indonesia-China LPDP-CSU-GEM dan pada 2019 berangkat ke Central South University, China. Di sana, ia belajar disiplin, menghargai waktu, dan etos kerja yang fokus. Kekhawatirannya soal makanan halal dan ibadah sebagai muslim teratasi karena banyak restoran halal dan masjid di Changsha.

Pandemi COVID-19 sempat mengubah rencana. Ardi kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliah daring, namun tetap menjalani program magang di PT QMB New Energy Materials di Morowali.

Talenta Lokal dalam Industri Nikel

Lulus pada 2022, Ardi langsung bekerja di perusahaan yang sama. Berkat pengalaman magang, adaptasinya cepat, termasuk saat berinteraksi dengan rekan dan atasan asal China. Dalam tiga tahun, ia sudah menduduki posisi Supervisor di divisi Research and Development.

"Jenjang kariernya sangat cepat. Untuk saya dan teman-teman seangkatan, sekarang kami sudah berada di level manajerial. Ada yang menjadi supervisor, sebagian lainnya memegang peran kepemimpinan," terang Ardi.

Kini, fokus Ardi lebih pada pengembangan karyawan melalui pelatihan dan proyek penelitian, mulai dari optimasi proses produksi hingga pengembangan produk baru dan pemanfaatan limbah produksi menjadi nilai tambah.

Indonesia menyumbang hampir setengah produksi nikel dunia dengan cadangan terbesar di Sulawesi dan Maluku Utara. Nikel penting untuk stainless steel dan baterai kendaraan listrik, sehingga hilirisasi melalui smelter dan fasilitas pengolahan menjadi prioritas meski membutuhkan investasi besar pada infrastruktur dan SDM.

"Harapan saya ke depan, Indonesia bisa memiliki industri pengolahan logam yang benar-benar murni dan 100 persen lokal," kata Ardi, yang bercita-cita menjadi dosen.

"Sebenarnya, ada banyak sekali potensi yang bisa dieksplorasi di Indonesia bukan hanya dari kekayaan sumber daya alam yang sudah kita miliki, tetapi juga dari pengembangan ilmu di bidang metalurgi," tambahnya.

Pengalaman kuliah di China juga mengajarkan bahwa limbah elektronik bisa diolah kembali menjadi logam, sehingga mengurangi eksploitasi alam.

"Di sana, limbah elektronik tidak lagi dianggap sebagai sampah, melainkan diolah kembali untuk menghasilkan logam. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pengambilan dari alam," tutur Ardi.

Bagi Ardi, hilirisasi sejati bukan hanya soal pabrik dan smelter, tetapi juga membangun kapasitas manusia agar Indonesia tidak hanya kaya nikel, tetapi juga berdaulat dalam penguasaan teknologi pengolahannya.




(nwk/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads