Kecilnya Biasa Saja, Dewasanya Jadi Juara? Ini Kata Sains

ADVERTISEMENT

Kecilnya Biasa Saja, Dewasanya Jadi Juara? Ini Kata Sains

Devita Savitri - detikEdu
Minggu, 04 Jan 2026 13:02 WIB
Kecilnya Biasa Saja, Dewasanya Jadi Juara? Ini Kata Sains
Ilustrasi juara. Studi temukan fakta baru dari menjadi jenius, begini penjelasannya. Foto: dok. midjourney/aldinabahri
Jakarta -

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie ungkap orang tua tidak perlu khawatir bila anak menampilkan kemampuan yang biasa-biasa saja. Kemampuan yang dimaksud seperti tidak juara kelas atau ahli dalam suatu bidang olahraga.

Melalui postingan di media sosial Instagram miliknya, Stella awalnya bertanya kepada sang anak, Bayu. Ia menanyakan apakah anaknya selalu dapat nilai paling terbaik di sekolah dan jawaban yang diberikan Bayu adalah tidak.

"Gak usah khawatir mungkin ini justru bagus," katanya kepada Bayu dikutip, Minggu (4/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa demikian?

ADVERTISEMENT

Kecilnya Biasa Saja, Dewasanya Jadi Jenius

Stella menyebutkan banyak orang yang bertanya-tanya tentang apa yang membuat sosok-sosok, seperti Michael Jordan, Beethoven, Charles Darwin, atau Copernicus menjadi seorang jenius. Asumsi kebanyakan orang adalah mereka semua sudah jenius sejak kecil.

Namun, asumsi itu kini terbantahkan dengan bukti sains terbaru melalui penelitian yang terbit di jurnal Science pada 18 Desember 2025. Penelitian berjudul 'Recent discoveries on the acquisition of the highest levels of human performance' itu menunjukkan bila pemenang Nobel dan atlet-atlet dunia memiliki kemampuan biasa saja ketika mereka kecil.

"Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science (jurnal akademik paling bergengsi di semua bidang) memberikan jawaban mengagetkan. Ternyata jenius olahraga, musik, catur, atau ilmuwan bukanlah jenius waktu kecil," ungkap Stella.

Data menunjukkan bila 90% dari atlet dunia, grandmaster catur, pemenang Nobel, dan komposer musik ternama bukanlah seorang juara ketika mereka kecil. Sebaliknya, lebih dari 80% kebanyakan atlet kecil yang meraih juara tidak menjadi atlet dunia. Data ini juga berlaku di berbagai bidang lainnya.

2 Faktor yang Membuat Seseorang Jadi Jenius

Dari studi tersebut, Stella mencatat dua faktor yang berperan penting membuat seseorang menjadi jenius. Keduanya yaitu:

1. Proses dan Waktu

Stella mengambil pepatah Jawa yakni "alon-alon asal kelakon" yang berarti pelan-pelan asal selamat. Pertumbuhan perlu dilakukan secara bertahap.

2. Lintas Disiplin

Seseorang bisa menjadi jenius ketika dewasa bila sewaktu kecil atau muda mereka banyak melakukan latihan di bidang lain, bukan hanya bidang yang ditekuninya. Sebaliknya, juara-juara kecil biasanya hanya intensif latihan satu hal.

"Tapi sangat sedikit dari mereka yang jadi juara dunia," jelasnya.

Stella mengajak orang tua, guru, pemerintah gunakan bukti sains ini untuk merancang pendidikan. Ia mengingatkan sudah saatnya pendidikan berpegang pada pendapat atau persepsi yang mungkin salah.

"Di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi kita akan berupaya untuk menerapkan temuan sains ini baik di sekolah Garuda maupun di perguruan tinggi agar pemuda-pemuda Indonesia juga bisa mempunyai kesempatan menjadi juara dunia di bidang apapun," tandasnya.




(det/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads