Faktor Penyebab Jebloknya Nilai TKA: Distraksi Digital-Kualitas Pengajaran

Faktor Penyebab Jebloknya Nilai TKA: Distraksi Digital-Kualitas Pengajaran

Devita Savitri - detikEdu
Jumat, 02 Jan 2026 17:00 WIB
Faktor Penyebab Jebloknya Nilai TKA: Distraksi Digital-Kualitas Pengajaran
Pakar Unair beberkan faktor penyebab jebloknya nilai TKA murid, beri solusi ini. Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Pakar sekaligus Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (Unair) Tuti Budirahayu soroti jebloknya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/sederajat. Hasil tersebut dinilai merosot drastis terutama pada tiga mata pelajaran (mapel) wajib.

Seperti yang diketahui, terdapat tiga mapel wajib yang diujikan pada murid jenjang SMA/SMK/sederajat, yakni matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Pada jenjang SMA, nilai rata-rata TKA murid yakni bahasa Indonesia 57,39, Matematika 37,23, dan bahasa Inggris 26,71.

Sedangkan untuk jenjang SMK, nilai rata-rata TKAnya yakni bahasa Indonesia 53,62, matematika 34,74, dan bahasa Inggris 22,55. Nilai ini tentu jauh dari skor maksimal yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yakni 100.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

3 Faktor Penyebab Nilai TKA Murid SMA/SMK/Sederajat Jeblok

Melihat hal itu, Tuti menyinggung ada 3 faktor penyebab utama nilai TKA murid bisa merosot drastis. Adapun ketiga faktor penyebab tersebut yakni:

ADVERTISEMENT

1. TKA Bukan Ujian Penentu Masa Depan

Tuti melihat banyak murid yang mengikuti ujian TKA tidak melihat ujian ini sebagai suatu tes yang menentukan masa depan mereka. Mengingat TKA bersifat tidak wajib dan bukan syarat kelulusan.

Hal ini tentu berbeda dengan Ujian Nasional (UN) atau Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang kerap kali dianggap sebagai penentu nasib. Sifat itu membuat murid mau belajar sungguh-sungguh dan menjadi alat seleksi yang cukup baik untuk menyaring murid berprestasi menurutnya.

"Bahkan saking menakutkannya jenis ujian tersebut, cara-cara curang ditempuh oleh siswa yang memang tidak memiliki moral dan etika baik untuk. Demi dapat lolos dari dua jenis ujian tersebut," ungkap Tuti dikutip dari rilis resmi Unair, Jumat (2/1/2026).

2. Pengaruh Era Digital

Faktor kedua yang mempengaruhi jebloknya nilai TKA murid adalah adanya pengaruh era digital. Teknologi dan era digital dijelaskan Tuti ikut andil dalam mengubah perilaku belajar murid masa kini.

Banyak murid terlalu terpapar oleh gaya hidup instan seperti yang mereka lihat di media sosial. Mereka menonton kemungkinan sukses dalam waktu singkat dan mudah.

Tuti melihat distraksi digital ini membawa banyak dampak negatif bagi murid. Dari melemahkan daya kritis, melemahkan konsentrasi, melemahkan ketekunan membaca, serta membuat murid sulit berpikir analitis.

3. Kualitas Pendidikan

Kualitas pendidikan di sekolah-sekolah RI menjadi masalah yang lebih mendalam dari jebloknya nilai murid di TKA. Dalam pandangan Tuti, hasil TKA adalah cerminan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah kita saat ini.

"Jika kualitas pengajaran rendah, maka hasil ujian yang siswa peroleh juga tidak memuaskan," jelasnya.

Nilai TKA bisa menjadi indikasi bila metode pembelajaran di sekolah belum cukup efektif. Terlebih dalam membantu murid dalam memahami sebuah konsep secara mendalam.

Melihat hal ini, Tuti menilai perlu adanya reformasi pendidikan besar-besaran dengan menata ulang metode dan orientasi pembelajaran. Dibandingkan hafalan, murid seharusnya sudah menggunakan model pembelajaran yang menekankan penalaran.

"Jika ini yang terjadi maka harus ada upaya reformasi pendidikan besar-besaran. Di mana metode dan orientasi pembelajaran harus ditata ulang. Tidak lagi siswa disuguhi materi belajar hafalan tetapi sudah harus menuju model pembelajaran yang menekankan penalaran, pemahaman konsep dan cara-cara berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill/HOTS)," katanya Tuti lagi.

Solusi Hadapi Jebloknya Nilai TKA

Tidak hanya menjabarkan faktor penyebab, Tuti juga memberikan 3 solusi untuk mengatasi jebloknya nilai TKA murid jenjang SMA/SMK/sederajat, yaitu:

1. Tekankan Pentingnya Makna Belajar

Murid masa kini perlu disadarkan akan pentingnya makna belajar. Tidak hanya dibimbing agar bisa memahami materi, guru harus bisa mengaitkan materi pelajaran dengan isu-isu aktual di kehidupan nyata.

"Termasuk tantangan yang mereka akan temui di dunia kerja," papar Prof Tuti.

Semakin derasnya paparan teknologi memang tak bisa dihindari, namun bisa ditanggulangi dengan menekankan literasi digital secara kritis. Ketika literasi digital murid baik, mereka bisa memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mereka.

2. Reformasi Pendidikan

Reformasi pendidikan secara mendalam perlu dilakukan. Reformasi ini mencakup penataan ulang kualitas guru sebagai sumber daya manusia (SDM) utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas diri murid dan meminimalisir kesenjangan atau ketimpangan pendidikan di segala sektor.

"Meminimalisir kesenjangan atau ketimpangan pendidikan antarwilayah atau daerah, antarsekolah negeri dan swasta, dan antarsekolah yang dikelola oleh kementerian yang berbeda," imbuhnya.

3. Kuatkan Sinergi Sekolah, Orang Tua, dan Pemda

Terakhir, Tuti menyarankan agar pemerintah pusat menguatkan sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah (Pemda). Terutama dalam memberikan pendampingan belajar pada murid.

Mentoring dan konseling adalah program-program penting yang harus diperkuat. Program ini berguna untuk membantu murid yang membutuhkan perhatian khusus, baik secara akademik maupun psikologis.

"Kerja sama antara semua pihak ini akan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh, baik secara akademik maupun emosional," pungkas Prof Tuti.




(det/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads