Mahasiswa ITS Olah Bambu jadi Bahan Bakar PLTU, Ini Cara Kerjanya

Mahasiswa ITS Olah Bambu jadi Bahan Bakar PLTU, Ini Cara Kerjanya

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 23 Des 2022 08:30 WIB
Mahasiswa ITS Kembangkan Bambu jadi Bahan Bakar PLTU.
Mahasiswa ITS Kembangkan Bambu jadi Bahan Bakar PLTU. (Foto: ITS)
Jakarta -

Tiga mahasiswa dari Departemen Teknik Elektro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menggagas terobosan baru. Melalui tanaman bambu, mahasiswa ini mengembangkan bahan bakar pengganti batubara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Ketiga mahasiswa ini adalah Muhammad Dzaky Kamal, Edwin Juanda Sirait, dan Mochammad Naufal Hakim. Tergabung dalam Tim Gryffindor, mereka menunangkan ide dalam esai berjudul Potensi Tanaman Bambu sebagai Bahan Bakar Co-Firing dengan Teknologi Torefaksi menuju Indonesia Net Zero Emission 2060.

Dalam esai tersebut mereka menjelaskan, terdapat potensi limbah bambu yang banyak ditemukan di masyarakat. Yang sebenarnya, limbah tersebut bisa diolah menjadi bahan bakar biomassa untuk PLTU.

Temukan Bambu Mirip dengan Batu Bara

Ketua Tim Gryffindor ITS Muhammad Dzaky Kamal mengungkapkan bambu dan batu bara memiliki kemiripan, yakni bambu memiliki nilai kalor yang hampir sama dengan batu bara.

Dengan temuan tersebut, tim Gryffindor memulai riset terkait penggunaan tanaman bambu sebagai bahan bakar. Proses itu kemudian dinamakan Co-Firing.

Co-Firing adalah suatu proses penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau bahan campuran batubara untuk PLTU. Melalui penambahan biomassa tersebut, diharapkan dapat menjadi solusi akan adanya pemanfaatan energi baru terbarukan.

"Selanjutnya, kami mencoba untuk inovasikan biomassa lain yang berasal dari sampah atau limbah," ungkap Dzaki dalam laman ITS dikutip Kamis (22/12/2022).

Proses Bambu Menjadi Bahan Bakar

Melalui metode torefaksi, lanjut Dzaky, tim besutan Power System Simulation Laboratory (PSSL) Departemen Teknik Elektro ITS tersebut berhasil menaikkan nilai kalor bambu sebesar 30 persen. Torefaksi merupakan pembakaran biomassa di suhu 200 derajat celcius pada keadaan kedap oksigen.

Pada tahap torefaksi ini, bambu akan dipanaskan hingga 200 derajat Celsius tersebut kemudian didinginkan.

"Dari tahap torefaksi ini, kami dapatkan nilai kalor bambu sebesar 5.300, lebih tinggi dari nilai kalor batu bara yang hanya 5.100," tambah Dzaky.

Melalui inovasi tersebut, tim Gryffindor ITS berhasil meraih Juara III pada Essay and Poster Competition CREATION 2022 yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Kimia, Universitas Diponegoro, beberapa waktu lalu.



Simak Video "100 Smart City di Indonesia, Kota Bandung Terbaik!"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia