Mahasiswa Asal 5 PTN Ini Buat Buku 3D Berbasis AR, Bangkitkan Minat Sejarah Anak SD

Mahasiswa Asal 5 PTN Ini Buat Buku 3D Berbasis AR, Bangkitkan Minat Sejarah Anak SD

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 05 Des 2022 10:00 WIB
Sekelompok mahasiswa buat buku popup 3D berbasis augmented reality (AR) untuk bangkitkan minat sejarah siswa SD
Foto: Dok. Dokumentasi Tim TiJar via Muhammad Helmi Yahya/Tim TiJar
Jakarta -

Berangkat dari rendahnya minat siswa SD terhadap sejarah, lima mahasiswa asal perguruan tinggi negeri (PTN) yang berbeda menciptakan buku popup 3D disertai fitur augmented reality (AR).

Kelima mahasiswa ini adalah Muhammad Helmi Yahya dari prodi Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Brawijaya (UB), Amieruddin Rizqi Ghazali dari prodi Teknologi Pasca Panen Institut Teknologi Bandung (ITB), Maulana Aziz dari Ilmu Komputer Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Mutiara Tabitha Kamal dari Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip), dan Laksmi Widya Arini dari prodi Kriminologi Universitas Indonesia (UI).

Kreativitas dalam membuat bahan ajar itu membawakan medali emas bagi mereka dalam ajang Tanoto Student Research Award (TSRA) melalui inovasi alat peraga pendidikan berbasis teknologi.

Buku popup 3D berbasis AR tersebut dinamakan TiJar (Timbul Sejarah). Target penggunanya adalah anak-anak SD kelas 4-6.

Sejarah Kurang Diminati karena Format Lisan-Tulisan

Motivasi Muhammad Helmi Yahya dan kawan-kawan menciptakan inovasi ini adalah rendahnya minat anak SD terhadap sejarah. Siswa-siswa tersebut tak cukup tertarik karena penyampaian materi sejarah hanya melalui lisan dan tulisan.

Fakta ini didapat Helmi dan tim berdasarkan studi literatur maupun data lapangan.

Oleh karenanya, mereka mengharapkan karya kreatif tersebut mampu menarik minat murid dalam mendalami dan memahami sejarah dan menumbuhkan rasa nasionalismenya.

"Demi membangkitkan nasionalisme dan pesan dari proklamator kemerdekaan Indonesia, bapak Ir Sukarno, 'Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah'," ucap Helmi dengan mantap saat dihubungi oleh detikEdu pada Sabtu (3/12/2022).]

Buku TiJar tidak memuat banyak tulisan bagi pembacanya. Namun, saat membuka buku pop up tersebut, siswa bisa membuka aplikasi AR dan melakukan scan untuk memunculkan animasi yang berisi penjelasan.

Helmi dan kawan-kawan pun telah menguji produk belajar ini ke sembilan anak-anak SD Pembinaan Anak-Anak Salam ITB.

"Mereka antusias dan tertarik dengan produk buku pop up 3D kami, ditambah aplikasi AR bisa memvisualisasikan gambar serta audio," ujar Helmi.

Bagaimana Bisa Bergabung Menjadi Satu Tim?

Bagi yang penasaran bagaimana kelima mahasiswa dari PTN berbeda ini bisa menjadi satu, sebagai informasi kegiatan TSRA tahun ini memang berbeda dari tahun lalu. Para peserta dari kampus-kampus mitra Tanoto harus berkolaborasi dalam satu tim.

Namun, tentunya jarak yang berjauhan cukup menjadi kendala. Helmi mengaku sulitnya saling menyelaraskan waktu.

"Kami satu tim dari lokasi yang berbeda-beda dan progress pengerjaan dilakukan secara online menurut kami kurang maksimal, sulit menyinkronkan waktu yang pas satu tim untuk melanjutkan progress," urainya.

Kendati begitu, semua tetap berlangsung dengan baik dan uji buku sejarah bertajuk TiJar ini dapat terlaksana.



Simak Video "Ombudsman Terima Laporan Kasus Kecelakaan Hasya, Ini Proses Selanjutnya"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia