Alat Deteksi Dini Penyakit Tiroid Autoimun Buatan Ilmuwan UB Jadi Jawara

Alat Deteksi Dini Penyakit Tiroid Autoimun Buatan Ilmuwan UB Jadi Jawara

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 05 Des 2022 07:00 WIB
Peneliti UB ciptakan alat deteksi dini penyakit tiroid autoimun
Foto: Dok. Universita Brawijaya/Peneliti UB ciptakan alat deteksi dini penyakit tiroid autoimun
Jakarta -

Sekelompok peneliti asal Universitas Brawijaya (UB) memperoleh juara terbaik (Diamond Award) kategori inovasi alat kesehatan (ALKES) pada Indonesia Healthcare Innovation Award (IHIA).

Tim tersebut menciptakan alat deteksi dini penyakit tiroid autoimun berbasis thyroid peroxidase (TPO) dan thyroid stimulating hormone receptor (TSHR).

Penghargaan tersebut diserahkan kepada ketua tim, Prof Dr Aulanni'am, drh, DES pada Kamis (24/11/2022) lalu di The Ballroom Djakarta Theatre.

"Sangat bahagia sekali bisa mewakili UB, peneliti khususnya, dan kelompok peneliti yang sudah dua kali menang. Alhamdulilah ini kerja tim yang luar bisa," jelas Prof Aul, dikutip dari laman resmi Universitas Brawijaya.

Dia menyebut, penghargaan tersebut adalah yang kali ketiga didapatkan timnya. Sebelumnya, Prof Aul dan tim meraih penghargaan dari Wakil Presiden RI dan Indo HCF dengan alat rapid test GAD65.

Sebagai informasi, Indonesia Healthcare Innovation Award sendiri adalah penghargaan bergengsi yang digagas oleh IndoHC Forum dan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, BKKBN, BRIN, 16 organisasi bidang kesehatan, serta didukung oleh perusahaan produk kesehatan.

Penyelenggaraan program ini adalah dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-58 tanggal 12 November lalu.

Soal alat deteksi dini penyakit tiroid autoimun, Prof Aul menjelaskan anak-anak yang lahir dari ibu hamil yang terkena hiper/hipotiroid rentan terkena gizi buruk atau stunting. Menurutnya, dia dan tim pun akan memproduksi alat ini sebagai unggulan.

"Kita tahu selama ini tes pengukuran kadar tiroid pengukuran t3 dan t4 di lab. Awal-awalnya tanpa gejala klinis dan di tes dengan t3 dan t4 di laboratorium tidak bisa menunjukkan adanya kelainan tiroid yang berkaitan dengan autoimun. Sehingga, kit ini akan bagus karena 1 kit menilai hipo dan hiper," urainya.

Alat pendeteksi penyakit tiroid ini akan menjadi unggulan, sebab sesuai dengan program pemerintah tahun 2024 tentang target penurunan stunting sebesar 10 persen.

Masyarakat Bisa Akses karena Murah dan Simpel

Prof Aul menjelaskan, sekarang ini penderita penyakit tiroid autoimun mencapai 2-5 persen populasi dunia.

Perempuan yang hamil rentan dengan penyakit autoimun. Apabila tidak segera ditangani, maka bisa menyebabkan keguguran, stunting, sampai IQ rendah pada anak yang dilahirkannya.

Sederet risiko tersebut disebabkan ketidakseimbangan hormon tiroid selama kehamilan.

Karya doktor Biokimia Molekuler ini adalah bagian dari program penelitian RISPRO LPDP dan berjalan sejak September 2020. Pendanaannya didukung oleh LPDP dan Kementerian Keuangan RI.

Selain itu, penelitian ini adalah hasil kolaborasi antara UB dan PT Bio Farma (Persero). Penggunaan alat deteksi dini yang diciptakan Prof Aul diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat Indonesia karena harganya relatif murah, sederhana, tidak butuh alat khusus yang rumit, dan bisa dipakai di fasilitas kesehatan tingkat 1 di seluruh Indonesia.

Pada satu tahun ke depan, Prof Aul berharap alatnya dapat dipasarkan secara nasional dan internasional sebagai karya anak bangsa dari UB.

Sementara, menurut Rektor UB, Prof Widodo, alat deteksi tiroid tersebut kini tengah masuk tahap uji klinis. Jika hasilnya bagus, maka ke depan diharapkan uji klinisnya bisa lebih banyak.

"Sehingga nanti harapannya tahun depan bisa dilepas ke pasar dan bisa dipakai masyarakat," kata dia.



Simak Video "Krisdayanti Jadi Dosen Tamu di Universitas Brawijaya"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia