Kisah Hibakusha, Penyintas Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

Kisah Hibakusha, Penyintas Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 04 Des 2022 17:00 WIB
AUG 6 1974, AUG 5 1975, AUG 6 1975; Mrs. Fusako Kawahara, Survivor Hiroshima Atomic Blast; She talks in her living room in Denver about that day 30 years ago.;  (Photo By Dave Buresh/The Denver Post via Getty Images)
Foto: Denver Post via Getty Images/Dave Buresh
Jakarta -

Sementara peristiwa jatuhnya bom di Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu membuka celah kemerdekaan bagi rakyat Indonesia, warga sipil di kedua kota tersebut mengalami dampak bom atom.

Salah satu warga Hiroshima yang merasakan peristiwa pengeboman tersebut yaitu Sumiteru Taniguchi. Ia berusia 16 tahun saat Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Nagasaki, 9 Agustus 1945. Remaja laki-laki itu sedang mengantarkan surat dengan sepeda saat bom meledak.

Terkena ledakan, Taniguchi terhempas ke tanah dan kulit punggungnya robek. Akibatnya, ia dirawat di rumah sakit selama 3,5 tahun, dengan 2 tahun di antaranya berbaring tengkurap untuk perawatan luka dan infeksi bersama dokter, seperti dikutip dari History.

Kelak, Taniguchi meninggal karena kanker pada 2017, di usia 88 tahun.

Sumiteru Taniguchi merupakan salah satu hibakusha, sebutan bagi penyintas peristiwa jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Sementara itu, ratusan ribu orang diperkirakan tewas di peristiwa ini.

Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, 6 dan 9 Agustus 1945 menewaskan sekitar 150.000 - 190.000 korban jiwa, seperti dikutip dari laman Science.

Salah satu penyintas pengeboman Hiroshima dan Nagasaki lainnya yaitu Kunihiko Iida. Anak laki-laki ini masih berusia 3 tahun ketika peristiwa ini terjadi.

Iida tinggal di rumah yang berjarak 900 meter dari pusat pengeboman Hiroshima. Ledakan bom menghancurkan rumahnya. Ibu dan kakak perempuannya membawa Iida meninggalkan kota, tetapi meninggal karena terluka.

"Sampai masuk SD, kukira mereka hidup di suatu tempat, dan kami akan bertemu lagi suatu hari nanti," tuturnya.

Akibat terkena dampak ledakan bom atom Hiroshima, Iida terbaring di RS selama bertahun-tahun karena tubuhnya menjadi lemah. Ia mengalami anemia anak sehingga kerap pingsan di sekolah, maag, asma, tumor otak, dan pertumbuhan tiroid.

Penelitian Dampak Radiasi

Iida kelak berpartisipasi dalam studi dampak radiasi oleh peneliti Atomic Bomb Casualty Commission (ABCC) Amerika Serikat sejak akhir 1950, kini dinaungi Radiation Effects Research Foundation (RERF).

ABCC tidak berniat untuk menyembuhkan hibakusha. Komisi AS ini dibentuk pada 1946 oleh Angkatan Laut AS untuk meraih kesempatan unik dalam meneliti efek medis dan biologis radiasi. Karena itu, ABCC tidak punya reputasi baik di kalangan hibakusha.

Di sisi lain, Iida menjelaskan, studi ini penting untuk mengungkap bagaimana dampak bom atom yang menyengsarakan hibakusha atau penyintas bom atom. Harapannya, penelitian ini mendorong perdamaian.

Sebab, tidak semua dampak bom atom terlihat dari luar. Sejumlah korban mengalami luka bakar yang parah serta kanker yang dipicu radiasi, termasuk kanker darah (leukemia). Namun, kerusakan akibat radiasi juga banyak yang membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk terlihat.

Saat ini, salah satu penelitian yang berjalan yaitu bagaimana mekanisme molekuler saat paparan radiasi menyebabkan kanker.

Penelitian tim ini sebelumnya mendapat bahwa radiasi bom atom menyebabkan naiknya risiko leukemia, kanker perut, paru, hati, dan payudara, di samping gagal jantung, stroke, asma, bronkitis, dan masalah pencernaan.

Sementara itu, penelitian selama beberapa dekade juga tidak mendapati dampak pada keturunan orang-orang yang terkena radiasi. Namun, para penyintas bom atom atau hibakusha tetap mengalami diskriminasi.

Diskriminasi

Michiko Kodama berusia 7 tahun saat berlindung di sekolahnya yang dibangun dari kayu saat bom atom jatuh di Hiroshima.

Kodama tidak mengalami cedera parah, tetapi keluarga besarnya banyak yang mengalami penyakit akibat radiasi dan meninggal. Salah satunya yakni sepupunya, yang meninggal di pelukan Kodama karena memohon untuk minum, tetapi tidak bisa menelan airnya.

Lulus sekolah, Kodama kesulitan mencari pekerjaan. Ia pun dibantu masuk kerja di perusahaan lokal oleh gurunya. Kodama juga ditolak calon mertuanya untuk menikahi pacarnya karena sebagai hibakusha, darahnya dianggap tercemar.

Beberapa tahun kemudian, Kodama menikah dengan laki-laki lain dan memiliki dua anak perempuan. Namun, stigma hibakusha melekat pada anak Kodama, yang juga ditolak calon mertua. Bedanya, calon menantu Kodama menepis tentangan tersebut dan menikahi anaknya.

Perjuangan Larangan Senjata Nuklir

Setsuko Thurlow baru berusia 13 tahun saat pengeboman Hiroshima.

Pagi hari itu, ia melapor ke kantor kantor militer Hiroshima. Thurlow dan anak-anak perempuan lain direkrut untuk bantu memecahkan kode masa perang Jepang, seperti dikutip dari laman History.

Saat petugas kantor berbicara, Thurlow melihat semburan cahaya di luar jendela. Tiba-tiba, ia terkena ledakan sehingga terlempar ke udara. Saat ia sadarkan diri, Thurlow sudah terjepit di bawah puing-puing bangunan kantor.

Sembilan tahun setelah peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Thurlow kuliah di Virginia, Amerika Serikat. Wartawan lokal menanyai responsnya atas pengujian bom hidrogen AS di Samudra Pasifik yang mengakibatkan nelayan Jepang tewas akibat radiasi.

Ia mengaku marah atas kejadian itu. Namun, pemberitaan tentang respons Thurlow membuatnya dikirimi ujaran kebencian, disuruh kembali ke Jepang dan disebut pantas dibom.

Berangkat dari kegeramannya, Thurlow mulai bicara di ruang publik tentang efek buruk senjata nuklir dan pentingnya penghapusan penggunaannya.

Hingga menginjak usia 90 tahun, aktivis antisenjata nuklir ini menceritakan bagaimana ia melarikan diri dari puing-puing bangunan hari itu, melihat orang dengan kulit terbakar, dan organ tubuh putus, serta bagaimana keluarganya meninggal karena ledakan dan penyakit radiasi.

"Sebagai orang yang selamat dari Hiroshima, adalah tanggung jawab moral saya untuk terus memberi tahu dunia tentang hal itu sehingga pengetahuan dapat mencegah hal serupa terjadi lagi," katanya.

Thurlow juga bergerak dengan hibakusha lain, seperti Shuntaro Hida, seorang dokter yang selamat dari serangan Hiroshima, membantu merawat korban lain, berbicara secara internasional tentang dampak senjata nuklir. Ada juga aktivis Sunao Tsuboi, yang seorang mahasiswa di Hiroshima saat bom meledak.

Pada 2017, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengadopsi Perjanjian tentang Larangan Senjata Nuklir yang digagas para hibakusha, termasuk Thurlow, satu bulan sebelum Taniguchi meninggal. Hida dan Tsuboi meninggal di tahun yang 2017 dan 2021, di usia 100 dan 96 tahun.

"Saya khawatir tentang apa yang akan terjadi pada dunia ketika tidak ada lagi korban selamat dari bom atom," kata Taniguchi sebelum meninggal.

Di tahun itu, Thurlow menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas nama Kampanye Internasional untuk Menghapuskan Senjata Nuklir.



Simak Video "Lonceng Peringatan 77 Tahun Tragedi Bom Atom di Jepang"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia