Mau Bangun Rumah Tahan Gempa? Simak Spesifikasinya dari Dosen UMM Ini

Mau Bangun Rumah Tahan Gempa? Simak Spesifikasinya dari Dosen UMM Ini

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikEdu
Rabu, 30 Nov 2022 17:00 WIB
Rumah Tahan Gempa
Foto: Rumah Tahan Gempa (Istimewa)
Jakarta -

Gempa mau tak mau jadi bagian dari Nusantara, yang berada di atas 3 lempeng benua. Maka, ke depan perlu dipikirkan warga untuk membangun rumah tahan gempa. Seperti apa syarat dan spesifikasinya?

Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir Erwin Rommel MT mengatakan, berkaca dari gempa Cianjur M 5,6 pada Senin (21/11/2022) lalu, sebagian besar bangunan di Cianjur adalah bangunan rendah dan sederhana yang belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa.

"Kebanyakan masyarakat awam beranggapan bahwa gempa yang terjadi lebih berdampak signifikan pada bangunan tinggi saja. Nyatanya, bencana gempa bisa mengakibatkan kerusakan pada semua bangunan, baik rumah tinggal maupun gedung-gedung bertingkat," kata Erwin, dilansir dari laman UMM.

Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) UMM itu mengatakan bahwa untuk membangun rumah sederhana tahan gempa, ada sederet hal yang harus diperhatikan.

1. Membuat bangunan dengan bentuk sesimetris mungkin.

2. Cukup tersedianya pengaku pada dinding. Minimal setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis.

3. Memberi pengangkuran yang cukup pada setiap sambungan elemen pada bangunan. Misalnya sambungan dari dinding ke balok fondasi, sambungan dinding ke kolom, ataupun sambungan balok ke konstruksi atap.

"Ada beberapa model bangunan sederhana tahan gempa sudah dikenalkan kepada masyarakat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Di antaranya rumah sederhana tahan gempa berbahan kayu, bambu, dan beton. Spesifikasi utama yang harus dipenuhi agar rumah tahan gempa yakni adanya integritas bangunan," urai dia.

Erwin memaparkan, rumah tahan gempa dapat tercipta jika seluruh elemen-elemen dari bangunan mulai dari fondasi, balok sloof, kolom, dinding, serta balok atap tersambung dengan baik dan benar. Selain itu, perlu adanya penyalur beban dari satu elemen ke elemen lain agar bangunan tidak mudah runtuh dan dapat menahan beban gempa.

Diakuinya, pembuatan rumah tahan gempa memang tak murah, bahkan membutuhkan biaya lebih mahal dibanding rumah biasa yang tak tahan gempa. Namun, masalah komponen biaya ini bisa disiasati dengan penggunaan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Bila baja mahal, maka bisa diganti dengan bambu atau rotan sebagai tulangan. Kayu juga bisa digunakan sebagai bahan pengganti alternatif.

Tips lainnya, yakni mengetahui perkembangan kondisi patahan atau sesar yang ada di sekitar tempat tinggal. Harus dipahami tingkat kerawanan gempa pada desain bangunan yang kita buat agar lebih siap.

Selanjutnya adalah pemberian edukasi kepada masyarakat tentang mitigasi dan penyelamatan korban.

"Perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang antisipasi dan mitigasi ketika terjadi gempa Bumi. Selain itu, pemerintah daerah dan pusat bisa melakukan pemetaan dan relokasi secara menyeluruh terhadap bangunan-bangunan yang telah berdiri. Utamanya terhadap bangunan yang berada di daerah jalur sesar dan juga yang berpotensi untuk menjadi sesar aktif di kemudian hari," tandas dia.

Semoga semakin banyak warga yang membangun rumah tahan gempa ya, detikers...



Simak Video "Warganet Bagikan Momen Cianjur Diguncang Gempa M 4,3"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia