Mahasiswa UI Tangkap Kabut dengan Limbah Jerami, Jadi Alternatif Sumber Air

Mahasiswa UI Tangkap Kabut dengan Limbah Jerami, Jadi Alternatif Sumber Air

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 27 Nov 2022 15:00 WIB
Contoh implementasi inovasi limbah jerami penangkap kabut untuk menjadi sumber alternatif air bersih.
Contoh implementasi inovasi limbah jerami penangkap kabut untuk menjadi sumber alternatif air bersih. Foto: Dok. Orogensys
Jakarta -

Berangkat dari kekurangan air berulang di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) merancang inovasi menangkap kabut untuk jadi alternatif sumber air bersih. Caranya yakni dengan menggunakan limbah jerami padi.

Para mahasiswa UI tersebut terdiri dari Yudha Adi Putra (Geofisika 2020), Ralfy Ruben Rialdi (Geofisika 2020), Rizka Destiana Novani (Geologi 2020), Matthew Aristotheo (Teknik Mesin 2020), dan Andika Faishal Aziz (Teknik Mesin 2020), dengan pembimbing Dr Retno Lestari, MSi.

Mereka mencatat, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Gunungkidul menunjukkan bahwa kekeringan air pada 2021 berdampak pada 16 kecamatan dan menyulitkan kehidupan sekitar 127.000 warga Gunungkidul.

Limbah Jerami Padi Penangkap Kabut

Para mahasiswa tersebut mencoba merancang penangkap kabut ramah lingkungan Orogensys. Inovasi ini dibuat dengan bahan limbah padi yang dapat menangkap air dengan baik.

Sebab, limbah jerami pertanian Gunungkidul yang melimpah dan lokasi kabupaten di dataran tinggi memungkinkan inovasi mereka tidak hanya bermanfaat, tetapi juga berkelanjutan.

Yudha, ketua Tim PKM-Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) UI ini menuturkan, mereka mulai merancang Orogensys lewat studi literatur, analisis masalah di Gunungkidul, dan analisis solusi permasalahan sejak Maret 2022 lalu.

"Ketika kami telusuri, kesulitan air di Kabupaten Gunungkidul bermuara pada kondisi geologis. Jenis batuan karbonat yang mendominasi membuat akuifer air terletak terlalu dalam sehingga menyebabkan air tanah sulit untuk dimanfaatkan oleh warga," terang Yudha, dikutip dari laman resmi kampus, Sabtu (26/11/2022).

Theo, salah satu mahasiswa penggagas, menambahkan bahwa limbah jerami punya kekuatan dan daya serap kabut yang tinggi.

Agar bisa diterapkan secara luas, para mahasiswa perlu melaksanakan riset lanjutan untuk penyempurnaan cetak biru Orogensys.

Pilot project penangkap kabut ini sedianya dilaksanakan di Desa Natah, salah satu desa dengan kekeringan tinggi di Gunungkidul. Setelah itu, Orogensys dapat diproduksi dan diimplementasi secara masal.

Ruben, salah satu mahasiswa penggagas Orogensys, menuturkan bahwa timnya berharap penangkap kabut ini bisa menyediakan air bersih untuk Gunungkidul dan daerah-daerah lain yang mengalami kekeringan.

Dengan demikian, sambungnya, inovasi mereka bisa mendukung Sustainable Develompent Goal (SDG) 6, yaitu memastikan ketersediaan dan manajemen yang berkelanjutan atas air dan sanitasi untuk semua warga.

"Kami berharap Orogensys dapat memberikan harapan bagi warga atas kesulitan air yang mengancam penghidupan warga Gunungkidul sekaligus menunjukan bahwa Indonesia memiliki potensi-potensi lokal untuk menyelesaikan isu-isu global," pungkasnya.



Simak Video "Meksiko Utara Diterpa Gelombang Panas dan Kekeringan"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia