Cerita Hamas, Wisudawan UM Surabaya yang Sukses Berbisnis Konveksi

Cerita Hamas, Wisudawan UM Surabaya yang Sukses Berbisnis Konveksi

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 29 Okt 2022 16:00 WIB
Hajar Milad Satriawan atau Hamas, wisudawan UM Surabaya yang sukses berbisnis konveksi.
Hajar Milad Satriawan atau Hamas, wisudawan UM Surabaya yang sukses berbisnis konveksi. Foto: Dok. UM Surabaya
Jakarta -

Hajar Milad Satriawan mungkin tak tercatat sebagai wisudawan tercepat di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya). Ia pun sempat cuti kuliah. Namun, lika-liku kuliah di Fakultas Ekonomi sambil merintis usaha mengantarkan ia lulus sebagai wisudawan inspiratif yang sukses berbisnis.

Hamas, panggilan karibnya, semula sempat berkuliah dengan beasiswa atlet Tapak Suci selama 1 tahun. Untuk bertahan hidup dan lanjut kuliah di Surabaya, mahasiswa asal Lamongan, Jawa Timur ini lalu bekerja sebagai pengemudi ojek online di siang hari dan berjualan gorengan di malam hari mulai semester 3.

Hasil Kerja untuk Rintis Bisnis

Menginjak semester 4, Hamas mulai memutar otak agar dapat bekerja sendiri dan punya waktu istirahat. Syukur-syukur, harapnya, ia juga bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain.

Saat itu, ia mulai menjadi makelar konveksi. Hamas melihat peluang ini saat mendapati teman-temannya kerap mencari konveksi.

Alhasil, ia pun menjalin kerja sama dengan beberapa konveksi. Hasil usahanya dialokasikan Hamas untuk membayar biaya kuliah dan mencukupi kebutuhan makan di Surabaya.

Kendati melihat peluang besar di bisnis konveksi, Hamas saat itu masih mengemudi sebagai driver ojek online hingga semester 6. Hasil kerjanya sejak semester 4 turut ditabung untuk kelak memenuhi mimpinya membeli mesin konveksi sendiri.

"Kalau saya tidak mencoba mengubah nasib saya, kehidupan akan terus stagnan seperti ini. Ibu saya hanya penjahit di desa dan guru swasta honorer," kata Hamas, seperti dikutip dari laman kampus.

"Masih ingat betul waktu itu punya modal Rp 1 juta, saya pakai untuk membeli alat-alat sablon bekas, usaha itu saya lakukan di kos-kosan daerah Jojoran Surabaya," Hamas.
Hide quoted text

Hamas berprinsip, modal terbaik bukan uang, tetapi waktu muda dan semangat pantang menyerah.

"Laki-laki nangis boleh, nyerah jangan!" tuturnya menyemangati sambil tertawa.

Bisnis Konveksi

Hamas berhenti menjadi pengemudi ojek online di semester 6. Ia pun memfokuskan diri pada usaha konveksi. Bisnis mahasiswa ini pun kelak berhasil menambah beberapa mesin.

Kendati tak lulus tepat waktu dan sempat cuti kuliah, baginya perjalanan ini menjadi pelajaran berharga dan harus selalu disyukuri.

"Alhamdulillah saat ini sudah ada 15 mesin yang saya miliki sendiri, semuanya beroperasi di Lamongan. Sedang proses pembangunan untuk kantor konveksi dan akan membuka cabang di daerah Sekaran, Lamongan," terangnya.

Ia mengaku mantap kembali ke kota kelahiran dan mengembangkan bisnis di sana karena mengingat ibu dan adiknya yang masih SMP tingga berdua di rumah.

Kini, Hamas memiliki 15 karyawan di Hamas Garment. Karyawannya terbagi di divisi jahit, sablon, dan border computer.

Ia mengaku, kini omzet bisnis konveksi Hamas Garment mencapai puluhan juta rupiah per bulan dan hingga Rp 1 miliar dalam satu tahun.

"Semoga harapannya usaha ini semakin besar dan memiliki banyak manfaat untuk orang lain," katanya.



Simak Video "Workshop Pembuatan Inovasi Produk"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia