Ritus Gotong Royong Beasiswa Kuliah di NTT: Poka Sawar Limbang Sama

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 11 Agu 2022 09:30 WIB
ilustrasi kelulusan
Ritus poka sawar limbang sama, gotong royong mendanai kuliah di NTT. Foto: thinkstock
Jakarta -

Warga Desa Lembur Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) punya ritus bergotong royong untuk pendidikan. Di desa ini, warga bersama-sama membiayai seorang anak lulusan SMA yang punya keinginan kuat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi agar dapat kuliah.

Ritus 'beasiswa' di Lembur, NTT ini disebut Poka Sawar Limbang Sama. Istilah ini juga populer dengan sebutan Pesta Sekolah.

Poka Sawar Limbang Sama merupakan merupakan perkembangan dari tradisi Poka Sawar Limbang Sama, Poka Soet Limbang Oken. Tradisi ini bermakna saling membantu atau gotong royong dalam membantu pemenuhan kebutuhan warga satu kampung.

Dikutip dari laman Puslapdik Kemdikbud, ritus Poka Sawar Limbang Sama, Poka Soet Limbang Oken dilakukan nenek moyang Suku Manggarai di Desa Lebur sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini kemudian dikembangkan menjadi Poka Sawar Limbang Sama pada tahun 1970-an. Di ritus ini, warga bergotong royong membiayai kuliah anak.

Dengan ritus ini, lulusan SMA di Desa Lembur dapat menempuh pendidikan tingggi dan menjadi tokoh masyarakat. Berikut sejarah dan pelaksanaan ritus gotong royong untuk membiayai kuliah lewat Poka Sawar Limbang Sama'.

Ritus Gotong Royong Danai Biaya Kuliah di NTT

Bambu Sebatang Dipikul Banyak Orang

Peneliti Lukman Solihin dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbudristek mendapati, tradisi Pesta Sekolah atau Poka Sawar Limbang Sama' mengacu pada pepatah masyarakat Manggarai, yaitu betong sa tede pola ata do, toe nganceng pola agu nu.

Pepatah yang dianut masyarakat Manggarai ini berarti "bambu sebatang dipikul banyak orang, tidak bisa dipikul sendiri," seperti ditulis Luman dalam Tradisi Pesta Sekolah : Beasiswa Ala Masyarakat Manggarai Nusa Tenggara Timur, Jurnal Seri Studi Kebudayaan III: Menaksir Gerak dan Arah Pembangunan Indonesia Timur, Prodi Antropologi Universitas Brawijaya.

Pengembangan Tradisi Wuat Wa'i

Ditelusuri lebih jauh, Poka Sawar Limbang Sama merupakan pengembangan dari tradisi Wuat Wa'i. Tradisi Wuat Wa'i adalah perayaan keluarga inti saat anaknya hendak merantau ke luar daerah untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Perayaan ini dihadiri keluarga besar, tokoh masyarakat, pengusaha, dan lainnya.

Bedanya, dalam tradisi Wuat Wa'i, ada ritual adat seperti pemberian wejangan dan nasehat dari orang tua dan tetua kampung kepada anak yang hendak merantau serta pemotongan ayam. Sementara itu, ritus Poka Sawar Limbang Sama semata-mata hanya dalam rangka pengumpulan sumbangan.

Digelar saat Musim Panen

Ritus Poka Sawar Limbang Sama digelar setiap menjelang kelulusan anak dan penerimaan mahasiswa baru. Namun, tak jarang ritus ini juga digelar di tengah-tengah semester, tergantung kesiapan keluarga atau adanya kebutuhan dana yang mendesak.

Namun, ritus ini umumnya digelar bertepatan dengan panen cengkeh, kakao, dan kemiri yang menjadi komoditas unggulan masyarakat Manggarai.

Sumbangan hingga Lelang

Sebelum menggelar ritus Poka Sawar Limbang Sama, keluarga dekat bermusyawarah menentukan jumlah sumbangan wajib. Besarannya mempertimbangkan kepantasan yang berlaku saat itu. Misalnya Rp 100 ribu, Rp 200 ribu, atau besaran lainnya.

Contoh, jika ditentukan Rp 200 ribu, lalu tuan rumah bisa mengajak 100 orang, maka akan terkumpul sekitar Rp 20 juta. Besaran ini bisa ditambah dengan sumbangan sukarela atau penjualan melalui mekanisme lelang aneka makanan, minuman, rokok, dan sebagainya. Harga yang digunakan yakni di atas harga pasar.

Sumbangan dari yang Berpenghasilan

Tuan rumah lalu mencatat orang yang menyumbang beserta nilainya. Catatan ini berfungsi sebagai bahan pertimbangan jika penyumbang nanti gantian menjadi tuan rumah sehingga besaran sumbangan bisa disamakan.

Orang-orang yang diundang untuk menyumbang biaya kuliah ini umumnya laki-laki yang sudah punya penghasilan,baik yang sudah berkeluarga maupun yang belum berkeluarga.

Ritus Poka Sawar Limbang Sama pun dapat menjadi upaya menjaga modal sosial. Dengan demikian, muncul investasi keuangan yang terbentuk karena adanya relasi sosial.

Lukman mendapati, ritus Poka sawar Limbang Sama tidak hanya menguatkan kohesi sosial, tetapi juga mendorong kesatupaduan untuk membentuk jaringan kepentingan bersama guna mencapai hasil yang diinginkan bersama pula.

Bagaimana tradisi terkait pendidikan di daerahmu, detikers?



Simak Video "Kisah Para Petani China Lulusan Perguruan Tinggi"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia