#77PortraitAnakBangsa

Firman Sukawirya, Pahlawan Penyambung Asa Anak-anak Disabilitas

Atta Kharisma - detikEdu
Rabu, 10 Agu 2022 16:41 WIB
Shot on OPPO Reno8 Pro 5G.
Foto: OPPOShot on OPPO Reno8 Pro 5G. (Foto: Dok OPPO)
Jakarta - Setiap anak di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak guna menggapai cita-citanya. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Kehadiran Sekolah Luar Biasa (SLB) memang dapat menjadi penyambung asa bagi anak-anak penyandang disabilitas. Sayangnya, keterbatasan akses dan biaya kerap mengurungkan niat para orang tua untuk memberikan kesempatan belajar bagi sang anak.

Kondisi ini juga terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat hanya ada 6 SLB untuk pendidikan anak berkebutuhan khusus. Ironisnya, hanya satu dari enam sekolah tersebut yang milik pemerintah, sementara sisanya dikelola oleh swasta yang menetapkan biaya pendidikan tinggi.

Sedikitnya jumlah SLB untuk anak berkebutuhan khusus ini menggugah hati Firman Sukawirya. Pria berusia 54 tahun merasa dirinya perlu mendedikasikan waktunya untuk merawat harapan anak-anak penyandang disabilitas memperoleh pendidikan yang layak.

Baginya, anak-anak penyandang disabilitas berhak memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak normal. Sebab, tidak ada satupun dari mereka yang memilih untuk terlahir dengan disabilitas.

Bermodalkan keyakinan tersebut, Firman bersama rekan-rekannya pada tahun 2013 merintis SLB Cahaya Qur'an. Institusi ini dibangun sebagai jawaban untuk pendidikan anak-anak penyandang disabilitas yang terkendala oleh minimnya akses dan biaya.

Kendati niat mulia tersebut, perjalanan Firman dan rekan-rekannya tidaklah mulus. Saat pertama kali didirikan, SLB Cahaya Qur'an kurang bisa menarik perhatian orang tua dari anak-anak disabilitas.

Alasannya karena mereka pesimis anak yang menyandang disabilitas bisa menikmati masa depan layaknya anak-anak normal. Tapi niat tulus dan tekad yang ditunjukkan Firman dalam memberikan sosialisasi kepada para orang tua akhirnya kembali memunculkan harapan mereka dan menitipkan anak-anaknya di SLB Cahaya Qur'an.

Untuk dapat benar-benar membantu anak-anak merealisasikan cita-cita mereka, Firman bahkan rela meninggalkan dunia perhotelan yang telah ia geluti selama bertahun-tahun. Di tahun 2002, Firman mantap memutuskan fokus pada kegiatan sosial dan beralih menjadi relawan.

SLB Cahaya Qur'an yang berdiri pada tahun 2013 ini pada awalnya hanya diperuntukkan bagi penyandang tuna netra. Tapi seiring berjalannya waktu, Firman mendapati kalau banyak anak-anak di sekitar yang menyandang berbagai macam disabilitas yang juga membutuhkan pendidikan layak. Alhasil, SLB Cahaya Qur'an membuka pintunya bagi anak-anak penyandang disabilitas mulai dari tuna netra, tuna wicara, tuna grahita hingga down syndrome.

Agar anak-anak mendapat pendidikan yang maksimal, Firman pun ikhlas merogoh dana dari kantong pribadinya. Ditambah dengan bantuan dari para relawan dan donatur lain, Firman optimis SLB Cahaya Qur'an yang ia rintis dapat memberi manfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.

Dengan visi memberikan anak-anak disabilitas masa depan yang sama dengan anak-anak normal, Firman dan para pengajar di SLB Cahaya Qur'an terus berusaha tanpa kenal lelah memotivasi, mengasah, serta mengembangkan talenta yang dimiliki oleh anak-anak penyandang disabilitas agar dapat menjadi bagian dari masa depan bangsa Indonesia.

(fhs/ega)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia