Demi Pahami Keluhan Pasien, Calon Dokter di UNS Semangat Belajar Bahasa Jawa

Devi Setya - detikEdu
Jumat, 27 Mei 2022 14:45 WIB
Aksara Jawa
Ilustrasi aksara jawa Foto: dombajr.blogspot.com
Jakarta -

Berlokasi di Solo, Jawa Tengah, menjadikan masyarakat di sekitar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kerap berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Hal ini terkadang membuat bingung mahasiswa yang berasal dari luar Jawa, termasuk mahasiswa kedokteran.

Beberapa mahasiswa kedokteran mengaku tak mengerti keluhan pasien yang berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Hal ini kemudian membuat Ariva Syiva'a, seorang mahasiswa Program Studi Profesi Dokter (PSPD) Fakultas Kedokteran (FK) UNS mencoba memecahkan masalah ini.

Dilansir dari uns.ac.id (27/5) Ariva mendirikan Doctor Javanese Minicamp yang merupakan sebuah gerakan sosial yang berfokus pada dokter muda UNS untuk belajar bahasa Jawa. Gerakan sosial ini dibentuk pada 17 Januari 2022.

Ariva Syiva'a, seorang mahasiswa UNS penggagas program belajar bahasa jawaAriva Syiva'a, seorang mahasiswa UNS penggagas program belajar bahasa jawa Foto: Humas UNS

Ariva menceritakan bahwa tak sedikit rekan mahasiswanya yang merasa bingung ketika berhadapan dengan pasien yang berbahasa Jawa. Terlebih lagi bagi lansia yang terkadang hanya fasih berbahasa Jawa.

"Tak sedikit rekan mahasiswa yang tengah berpraktik di RSUD dr. Moewardi mengeluh kebingungan ketika dihadapkan dengan pasien berbahasa Jawa. Berangkat dari keresahan akan minimnya kemampuan berbahasa Jawa di kalangan tenaga kesehatan yang mayoritas akan bekerja di pulau Jawa, program ini hadir untuk memfasilitasi mahasiswa, khususnya calon dokter, agar tidak kesulitan dalam memahami keluhan pasien," ungkap Ariva.

Ariva tidak sendiri, program belajar bahasa Jawa ini adalah bentuk kolaborasi antara mahasiswa Prodi Kedokteran FK UNS, serta alumni Prodi Pendidikan Bahasa Jawa UNS yang bernama Komunitas Si Ojan. Nantinya para mahasiswa kedokteran akan mempelajari bahasa Jawa dengan bimbingan dari anggota komunitas Si Ojan.

Adanya Doctor Javanese Camp ini juga terinspirasi dari pepatah Jawa, hal ini pun dijelaskan oleh Ariva.

"Terinspirasi dari pepatah 'wong Jawa aja nganti ilang jawane' yang berarti orang Jawa seharusnya memiliki kemauan untuk melestarikan ciri khas yang menjadi jati dirinya sebagai orang Jawa, saya terpantik untuk membantu rekan-rekan tenaga kesehatan agar bersama-sama kembali memunculkan figur dokter yang halus dan sopan, tercermin salah satunya dengan bahasa yang halus dan penuh tata krama pada saat melayani pasien," jelas Ariva.

Lantas siapa saja yang boleh mengikuti kegiatan ini?

Ariva menyebutkan kegiatan belajar bahasa Jawa ini ditujukan bagi mahasiswa Prodi Kedokteran UNS, baik mahasiswa preklinik maupun dokter muda. Selain menghasilkan figur dokter yang bisa berbahasa Jawa serta menjunjung tata krama, Doctor Javanese Minicamp juga turut andil dalam menangani kesehatan masyarakat.

Adapun program belajar bahasa Jawa yang terdapat dalam program Doctor Javanese Camp adalah bimbingan kelas bahasa Jawa secara intensif sebanyak tiga sesi. Fokus kelas bahasa dibagi menjadi keterampilan anamnesis, penyuluhan, dan menjadi pewara.

Usai mengikuti rangkaian kelas bahasa, para peserta akan mengikuti bakti sosial di Galpentjil Heritage di Desa Pereng sebagai sarana implementasi ilmu yang telah didapatkan. Implementasi kegiatan telah terlaksana pada bulan Maret lalu, sedangkan untuk periode berikutnya, Ariva mengatakan kegiatan akan hadir kembali pada bulan November 2022.

Kegiatan sosial ini nantinya berupa penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan, konsultasi dengan dokter spesialis berpengalaman, cek tekanan darah, cek asam urat, kolesterol, dan cek gula darah secara gratis.

Besar harapan Ariva agar program belajar bahasa Jawa ini bisa terus berjalan dan berkembang. Sebagai inisiator Doctor Javanese Camp, Ariva menyadari ada tantangan besar karena mahasiswa kedokteran umumnya memiliki jadwal akademik yang padat.

"Tetaplah aktif mengasah skill berbahasa Jawa untuk menolong pasien yang membutuhkan. Tidak hanya sekadar memberikan perawatan fisik kepada mereka, tapi lebih dari itu bisa berbagi kasih, semangat, dan harapan dengan bahasa yang akrab dengan keseharian pasien," pungkas Ariva yang merupakan mahasiswa penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (Baktinusa) oleh Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD).



Simak Video "Rektor UNS Soroti Kurang Meratanya Penyebaran Kualitas Guru"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia