Cerita Guru Menteri Nadiem: Bawel dan Sudah Bisa Negosiasi Sejak Kelas 3 SD

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 25 Nov 2021 21:00 WIB
Menteri Nadiem bersama ketiga gurunya di SD Al Izhar memperingati Hari Guru Nasional 2021.
Menteri Nadiem bersama ketiga gurunya di SD Al Izhar mengenang masa SD sang menteri sambil memperingati Hari Guru Nasional 2021. Foto: Tangkapan layar kanal YouTube Kemendikbud RI
Jakarta - Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar Puncak Perayaan Hari Guru Nasional 2021 di Jakarta International Expo, Kamis (25/11/2021). Sejumlah guru menghadiri peringatan tersebut. Tiga di antaranya rupanya guru SD Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Pada perayaan tersebut, Nadiem Makarim mengundang ketiga guru semasa sekolah di SD Al Izhar, Jakarta ke panggung. Ketiganya yaitu Anwar, Sakinah, dan Anggerina Nutriana.

Menteri Nadiem Makarim dan Anwar, guru SD Nadiem saat kelas 6 SD di SD Al Izhar Jakarta.Menteri Nadiem Makarim dan Anwar, guru SD Nadiem saat kelas 6 SD di SD Al Izhar Jakarta. Foto: Tangkapan layar kanal YouTube Kemendikbud RI


Anwar menuturkan, sudah 25 tahun ia tidak bertemu Nadiem. Ia bercerita, dirinya sudah terakhir mengajar Nadiem saat kelas 6 SD, ketika usia pria yang disebutnya "Mas Menteri" tersebut masih berusia 12 tahun.

"Nadiem itu kelas 6 dengan saya, anak yang paling bawel. Paling kritis," kata Anwar.

Nadiem menuturkan, ia samar-samar ingat sempat bermasalah di masa SD karena dituduh menanyakan terlalu banyak pertanyaan. Sakinah, guru yang disapa Nadiem dengan "Bu Ina" membenarkannya.

"Betul, karena intinya adalah kritis, lalu suka mempunya hal-hal yang baru, inovasinya juga sangat menarik," tutur Ina.

Anwar menuturkan, dari pertanyaan-pertanyaan sang murid, ia belajar bersama muridnya.

"Jadi kita juga belajar sebetulnya dari Mas Menteri ini kecil dulu. Tahun '96 udah ngomongin nuklir. Saya inget itu," tutur Anwar.

"Seneng saya, karena saya juga jadi belajar. Banyak hal yang saya enggak tahu, Mas Menteri sudah tahu (lalu bertanya), nah jadi kita cari sama-sama dulu. Pertanyaan-pertanyaannya enggak terduga lho ini. Jadi kita kadang sama-sama 'ayo kita cari perpustakaan atau sumber lain," imbuhnya.

Nadiem, menuturkan, ia bersyukur dididik oleh guru-guru hebat tersebut. Sebab, ketiga guru SD-nya tersebut memberikan ruang berekspresi dan bertanya.

"Satu hal yang selalu saya ingat dari ketiga guru ini adalah kenceng, tetapi selalu memberi ruang ekspresi. Jadi selalu memberi apresiasi pada pertanyaan," jelasnya.

Sakinah dan Anggerina Nutriana, guru SD Menteri Nadiem Makarim di SD Al Izhar Jakarta.Sakinah dan Anggerina Nutriana, guru SD Menteri Nadiem Makarim di SD Al Izhar Jakarta. Foto: Tangkapan layar kanal YouTube Kemendikbud RI

Anggerina, guru yang disapa Nadiem sebagai "Bu Nina" menuturkan, ia tidak mengira sang murid di kelas 3-nya kelak jadi menteri. Namun, ia sudah mengira Nadiem kelak akan jadi pemimpin.

"Kalau menjadi menteri saya tidak mengira, tetapi jadi pemimpin, iya. Jadi pemimpin apa saja, karena sudah kelihatan dari Nadiem kelas 3 (SD)," tuturnya.
Nina menuturkan, sejak kecil Nadiem sudah bisa bernegosiasi. Sambil bernostalgia, ia menceritakan upaya Nadiem agar ada perwakilan guru di SD-nya saat itu yang dapat ikut donor darah.

"Beliau juga dari kelas 3 SD sudah bisa bernegosiasi. Jadi waktu itu kita ada donor darah kelas tiga, tidak ada satupun guru yang donor di kelas 3. Nadiem dan beberapa kawannya berusaha agar ada satu guru yang bisa donor. Jadi Nadiem berusaha negosiasi pada saya karena badan saya paling besar. Kalau guru yang lainnya tidak boleh berdonor, saya masih boleh," tutur Nina.

"Lalu Nadiem mengantar saya yang sebenarnya bisa (eligible jadi pendonor), tetapi oleh dokter dinyatakan tidak bisa donor. Kemudian Nadiem bernegosiasi ke tenaga medisnya, sampai saya akhirnya diizinkan untuk jadi pendonor darah. Itulah keberaniannya," kata Nina.

Nadiem menuturkan, keberanian sejak masa kecil itu yang ia gunakan kembali untuk bernegosiasi memperjuangkan guru honorer.

"Mudah mudahan berhasil, ya" kata Nina.

Anwar juga memperlihatkan foto kenangannya dengan Nadiem bersama murid-muridnya semasa SD selesai Ebtanas (kini UN). "Itu lagi senang-senangnya," tuturnya.

"Itu lagi Ebtanas ya? Sekarang udah dibuang sama Mas Menteri," kata Nadiem berseloroh, diacungi jempol bapak gurunya.

"Jangan salah, dulu (nilai) ebtanas saya tinggi, jadi bukan karena nilai saya jelek jadi saya hilangkan UN-Nya," imbuh Nadiem.

Nadiem menuturkan rasa terima kasih kepada ketiga guru yang sudah mendidiknya sejak kecil. Baginya, mengenang masa lalu tersebut mengingatkannya terus untuk menggerakkan Merdeka Belajar.

"Bu Nina, Bu Ina, Pak Anwar, terima kasih sebesar-besarnya atas jasa Anda, terima kasih telah mendidik saya waktu kecil, terima kasih sudah mentolerir kekurangajaran saya, dan manipulatif (-nya saya), tetapi akhirnya bisa berkontribusi kembali kepada dunia pendidikan," tuturnya.

" Sama sekali itu semua spontan, semua foto-fotonya belum saya lihat. Tetapi mengenang masa lalu saya, melihat dari mana kita datang, melihat guru-guru yang menyentuh kita, selama hidup kita, itu merupakan alasan pertama kami di Kemendikbudistek merasa ini adalah misi yang terpenting sekarang. Bukan misi pemerintahan, tetapi misi gerakan, yaitu Merdeka Belajar," pungkas Nadiem.



Simak Video "Hari Guru Nasional, Nadiem Makarim: Guru Nyalakan Obor Perubahan"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia