Adakah Orang yang Kebal COVID-19? Peneliti Ini Beri Jawaban

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 24 Okt 2021 07:01 WIB
Rusia mencatat varian terbaru COVID-19 yang dinamakan AY.4.2. Varian Corona ini diketahui pertama kali ditemukan di Inggris.
Foto: AP Photo
Jakarta - Tren kasus positif COVID-19 bisa tetap meningkat hingga akhir tahun 2022. Hal itu bisa terjadi jika pemerintah tidak kembali menggiatkan testing, tracing, treatment (3T).

Demikian dipaparkan oleh epidemiolog Universitas Griffith, Dicky Budiman seperti dikutip dari CNN Indonesia pada Jumat (22/10/2021).

Terlebih lagi, prediksi ini didukung apabila penanganan pandemi COVID-19 hanya terkonsentrasi pada vaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok. "Untuk herd immunity itu perjalanannya masih panjang, kita belum tahu seberapa besar proteksi vaksin, sehingga kalau tidak kuatkan 3T, kondisi menanjak ini bisa sampai akhir tahun depan," katanya.

Dia mengingatkan bahwa vaksinasi COVID-19 fungsinya hanya untuk meringankan angka kesakitan dan kematian, tidak untuk menurunkan kasus.

Membicarakan soal COVID-19, ada penelitian dalam jurnal Nature Immunology yang mengungkapkan ide kemungkinan adanya orang-orang yang secara genetik kebal terhadap COVID-19.

Dilansir dari Science Alert, dua individu memiliki setidaknya 99,9 persen gen yang identik satu sama lain. Tetapi, 0,1 persen sisanyalah yang membuat keduanya unik. Saat perbedaan gen ini semakin diketahui, maka kemungkinan untuk menciptakan obat yang menyerupai gen tersebut juga semakin besar.

Berdasarkan ide tersebut, sekelompok peneliti yang dipimpin oleh ahli imunologi dari Academy of Athens, Yunani, Evangelos Andreakos melakukan penelitian terhadap orang-orang di seluruh dunia. Mereka mencari orang-orang yang mungkin saja kebal terhadap virus SARS-CoV-2.

Para ilmuwan tersebut mencatat, bahwa terkadang dalam suatu keluarga yang terinfeksi COVID-19, hanya ada satu yang terhindar. Sementara, ada juga sejumlah laporan yang menyebutkan mereka yang tidak terinfeksi, meskipun sudah terpapar COVID-19 beberapa kali.

Sebelum penelitian ini, sudah ada sejumlah studi lain yang mencoba menjawab persoalan tersebut, tetapi sejauh ini hanya didapatkan perbedaan kecil.

Misalnya, pada tahun lalu ada penelitian yang menyampaikan bahwa khususnya golongan darah O tampak menunjukkan sedikit resistensi terhadap infeksi parah COVID-19. Ada juga penelitian lain yang mengamati berbagai protein seperti reseptor ACE2 atau TMEM41B yang digunakan virus corona untuk masuk dan bereplika di dalam sel.

Para peneliti dari Yunani itu kemudian mengamati keluarga yang tidak terinfeksi, yang memiliki kontak dengan orang-orang bergejala COVId-19. Mereka melakukan pengamatan dengan tolok ukur ketiadaan alat pelindung diri selama setidaknya 1 jam per hari dan selama 3-5 hari pertama gejala.

Hasilnya kemudian dicek dengan PCR negatif dan tes darah negatif, empat minggu setelah paparan. Ini dilakukan utamanya untuk mencari sel T, guna memastikan bahwa orang yang bersangkutan belum pernah terinfeksi virus corona di waktu sebelumnya.

Saat ini, para peneliti itu masih menerima partisipan dari seluruh dunia.

Menurut mereka, COVID-19 kemungkinan masih akan ada untuk waktu yang lama. Sehingga menemukan orang-orang yang secara genetik bisa terhindari dari COVID-19 adalah hal yang dapat memberi manfaat besar pada semua orang. Utamanya, jika ada jenis baru yang sangat ganas muncul.

Simak Video "Jejak Langkah dr. Boyke, Sang Edukator Seks Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia