Lebaran di Negeri Rantau

Kisah Mahasiswa RI Lebaran di China: Masak Rendang dan Gulai Sendiri

Rosmha Widiyani - detikEdu
Rabu, 19 Mei 2021 16:30 WIB
Fauzan Abdul Aziz Rasyad dan teman-temannya saat perayaan Idul Fitri
Foto: Fauzan Abdul Aziz Rasyad/Kisah Mahasiswa RI Lebaran di China: Masak Rendang dan Gulai Sendiri
Jakarta - Idul Fitri menjadi momen kemenangan bagi tiap muslim di muka bumi. Tak terkecuali bagi Fauzan Abdul Aziz Rasyad yang sedang berkuliah di China. Momen Lebaran terasa spesial bagi Fauzan meski berada jauh dari Tanah Air.

Menurut mahasiswa asal Pekanbaru, Riau ini, pandemi COVID-19 telah mengubah suasana lebaran 2021. Sebagai ganti makan bersama selepas sholat Idul Fitri (Ied), Fauzan masak dan makan sendiri hidangan khas Lebaran.

"Sekarang udah kelamaan di kamar dan punya banyak waktu luang, jadi sering masak kaya opor, rendang, gulai gitu. Kita di sini ada empat orang jadi rutin latihan masak," kata mahasiswa Nanjing Forestry University ini.

Fauzan mengatakan, awalnya hanya bisa membuat hidangan sederhana. Masakan yang dibuat umumnya adalah segala jenis gorengan. Keterampilan memasaknya meningkat selama pandemi COVID-19.

"Namanya juga dikurung setahun nggak keluar keluar, gabutnya parah banget," ujar Fauzan saat dihubungi detikEdu, Selasa (18/5/2021).

Pandemi COVID-19 juga mengubah model silaturahmi. Fauzan dan teman-temannya hanya bisa melakukan silaturahmi secara online. Silaturahmi offline hanya bisa dilakukan dengan teman yang tinggal satu apartemen.

Untuk perayaan Idul Fitri, menurut mahasiswa 27 tahun ini, secara umum perayaannya sebelum pandemi sama dengan Indonesia. Namun perayaan hanya dilakukan dengan sesama mahasiswa muslim atau yang berasal dari Indonesia.

Fauzan Abdul Aziz Rasyad dan teman-temannya saat perayaan Idul FitriFauzan Abdul Aziz Rasyad. : Fauzan Abdul Aziz Rasyad

Sepanjang obrolan tentang perayaan lebaran 2021 di China, Fauzan sempat bercerita pelaksanaan puasa dan sholat di negeri tersebut. Sholat bisa dilakukan di tempat yang bersifat pribadi.

"Kita nggak boleh melakukan ibadah di tempat umum atau yang bisa dilihat orang. Kecuali di fasilitas yang memang untuk beribadah. Sholat di lorong asrama sebetulnya nggak boleh," kata Fauzan.

Masjid yang disebut Qing Zheng Si di China sedikit berbeda dengan Indonesia. Masjid di China tidak punya nama dan dibedakan berdasarkan wilayahnya. Sedangkan di Indonesia hampir semua rumah ibadah punya nama.

Bila tidak di masjid, mahasiswa tahun keempat ini melaksanakan sholat di kamar asrama. Saat sholat, jendela kamar ditutup sehingga tidak terlihat atau menarik perhatian orang lain.

Untuk puasa, Fauzan tidak menemui masalah saat melaksanakan ibadah tersebut. Fauzan cukup memberi tahu teman-temannya sedang puasa, sehingga tidak ikut makan siang bersama.

Dengan kondisi tersebut, Fauzan masih sempat buka puasa dan sholat bersama. Tentunya tidak bisa terlalu sering layaknya muslim di Indonesia. Jadwal kuliah dan aturan umum harus dipertimbangkan.

"Kita bisa buka puasa bersama 2-3 kali karena menyesuaikan dengan jadwal kuliah. Untuk sholat tarawih dan Idul Fitri dilakukan di masjid bersama teman-teman lainnya," ujar Fauzan.

Namun seperti di negara lain yang mayoritas bukan muslim, Fauzan juga menemui tantangan saat puasa Ramadhan. Sistem perkuliahan di China membuat Fauzan harus menyesuaikan diri.

"Kita harus adaptasi. Di sini ada kelas malam yang tabrakan dengan waktu buka puasa. Jadinya kita buka puasa sambil nungguin atau di sela-sela kelas," kata Fauzan yang kini berdomisili di Nanjing ini.

Fauzan mengakali waktu buka puasa dengan membawa jus atau minuman kaleng ke kelas. Jika waktu buka puasa tiba, dia akan langsung minum di sela kuliah. Solusi lain adalah langsung makan berat saat buka puasa tiba.

Selain saat buka puasa, mahasiswa kelahiran 1994 ini juga harus beradaptasi saat sahur. Dengan kondisi kebanyakan warung masih tutup, Fauzan terpaksa memasak.

Jika tidak sempat memasak, Fauzan menyiapkan makan sahur sejak malam. Hidangan tersebut baru dikonsumsi saat waktu sahur tiba.

Seperti mahasiswa lainnya, Fauzan juga ingin mudik saat Idul Fitri. Namun Fauzan tidak bisa melaksanakan niat tersebut, karena jeda waktu yang sangat minim. Jeda diperoleh antara pelaksanaan ujian akhir dan Idul Fitri.

"Saya sudah lima tahun nggak pulang. Kangen banget sama Indonesia, tapi nanggung pulang sekarang. Mending udah selesai baru balik ke Indonesia," kata Fauzan.

Fauzan mengatakan, dia sebetulnya bisa pulang kampung di libur Idul Fitri 2021. Jeda libur Idul Fitri dan ujian memungkinkannya pulang kampung lebih dulu. Namun pandemi COVID-19 kembali menunda keinginan tersebut.

Fauzan memang tak punya masalah melaksanakan puasa Ramadhan hingga merayakan lebaran 2021 di China. Adaptasi hingga pandemi COVID-19 tak membuatnya patah semangat atau menyerah. Namun dia tetap ingin segera menyelesaikan studi dan pulang kampung.

Simak Video "Wow! Lebaran Hari Kedua Pantai Pondok Bali Subang Ramai Pengunjung"
[Gambas:Video 20detik]
(row/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia