Studi di Luar Negeri

Kisah Mahasiswa RI Kuliah di Belgia: Perbedaan Suhu dan Ramah Sepeda

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 19 Mei 2021 13:43 WIB
Kisah Mahasiswa RI Kuliah di Belgia: Perbedaan Suhu dan Ramah Sepeda
Foto: Bulan Sugiarto/Kisah Mahasiswa RI Kuliah di Belgia: Perbedaan Suhu dan Ramah Sepeda.
Jakarta - Kuliah di dua kampus berbeda di luar negeri ternyata bisa dilakukan. Bulan Sugiarto mahasiswi S2 Indonesia, saat ini kuliah di Ghent University & KU Leuven, Belgia, melalui beasiswa IUPFOOD (Inter-University Program of Food Technology).

Bulan menceritakan pengalamannya dalam program Lipsus detikEdu dengan PPID (PPI Dunia). Mulai dari sistem kuliah, perbedaan suhu, hingga transportasi umum. Dia juga menceritakan perkuliahan online di era pandemi.

"Sistem online di sini lebih menuntut pelajar untuk belajar sendiri. Namun, komunikasi dengan dosen juga lancar. Menariknya tiap kampus di sini punya platform online khusus untuk materi kuliah ataupun tugas ujian jadi lebih mudah," cerita Bulan kepada detikEdu (18/5/2021).

Kisah Mahasiswa RI Kuliah di Belgia: Perbedaan Suhu dan Ramah SepedaKisah Mahasiswa RI Kuliah di Belgia: Perbedaan Suhu dan Ramah Sepeda. Foto: Bulan Sugiarto

Bagi Bulan, sistem kuliah Belgia dan Indonesia yang berbeda tidak jadi masalah. Namun dia sedikit bermasalah dengan perbedaan suhu dan waktu. Belgia memiliki musim yakni panas, salju, semi, dan gugur. Bulan wajib menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.

"Seumur hidup tinggal di negara subtropis, terus kemarin winter jadi terasa banget dinginnya, apalagi salju. Lalu perbedaan waktu juga, misal saat winter siangnya sedikit banget terus sekarang masuk spring siangnya lebih panjang," terang Mahasiswi Jurusan Teknologi Pangan.

Perbedaan suhu dan waktu pada akhirnya bisa diatasi. Bulan selanjutnya mengalami tantangan pada pilihan transportasi di kota tempat tinggalnya Leuven. Di Indonesia, Bulan biasa menggunakan kendaraan pribadi.

"Kalau di Indonesia seringnya pakai kendaraan pribadi, tapi kalau di sini sering pakai sepeda dan transportasi umum. Ke mana-mana murah dan gampang, bis datang juga tepat waktu. Setiap 10 menit sekali datang dan sampai dengan cepat," kata Bulan yang menempuh S1 di Universitas Sebelas Maret ini.

Menurut Bulan, jalan kaki di Belgia menyenangkan karena fungsi trotoar bisa digunakan secara maksimal. Berbeda dengan beberapa trotoar di Indonesia yang kurang bisa dipakai.

"Naik sepeda juga sangat ramah karena ada jalur sendiri dan itu tidak bisa dilewati kendaraan lain. Kalau ada mobil lewat ya mobil itu harus ada di belakang pesepeda. Boleh nyalip kalau emang bisa," kata Bulan

Begitulah kehidupan mahasiswa Indonesia di Belgia lewat beasiswa. Kamu tertarik kuliah di sini?

Simak Video "Kisah WN Belgia di Yogya Terdampak Pandemi dan Bertahan Hidup"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia