Cerita Pemburu Beasiswa

Kisah Inspiratif Mahasiswa RI Raih Beasiswa di Spanyol: Gagal Tes Bahasa 3 Kali

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Rabu, 19 Mei 2021 12:02 WIB
Kisah Inspiratif Mahasiswa RI Raih Beasiswa di Spanyol: Gagal Tes Bahasa 3 Kali
Foto: Handoyo/Kisah Inspiratif Mahasiswa RI Raih Beasiswa di Spanyol: Gagal Tes Bahasa 3 Kali.
Jakarta - Handoyo merupakan mahasiswa PhD dari Indonesia yang menerima beasiswa untuk melanjutkan studi S3-nya di Spanyol, tepatnya di Universitat de Barcelona. Dia mendapatkan beasiswa tidak semudah 'membalikkan telapak tangan'.

Ia pernah gagal 3 kali dalam tes kemampuan bahasa Inggris atau IELTS (International English Language Testing System) yang notabene merupakan syarat wajib dalam pendaftaran beasiswa.

"Saya dulu pernah sampai empat kali baru bisa mencapai standar minimumnya (IELTS), karena nilainya naik-turun," cerita Handoyo sambil tertawa pada detikEdu dalam Program Lipsus detikcom dengan PPID (PPI Dunia), Selasa (18/5/2021).

Perlu diketahui, standar minimal skor IELTS untuk jenjang S3 di luar negeri mencapai 7. Sementara itu, untuk jenjang pendidikan S2, standar minimumnya masih di bawah jenjang S3, yaitu 6,5.

Hal itulah yang membuat dosen jurusan Teknik Geologi di Institut Teknologi Sumatera (ITERA) ini sudah memulai persiapan tes IELTS sejak tahun 2018, setahun sebelum ia melakukan pendaftaran. Dalam persiapannya pun ia terdaftar dalam sebuah konsultasi pendidikan luar negeri di Lampung dan mengikuti tes IELTS di sana.

"Tes IELTS-nya itu mulai April 2019, tes pertama sudah bagus dan sedikit lagi (skornya). Tes kedua itu malah turun, tes ketiga naik lagi, jadi kayak tidak stabil gitu (skornya)," kata Handoyo.

Menurut Handoyo, tes IELTS yang disyaratkan untuk studi ke luar negeri tidaklah mudah. Oleh karena itu, ia membutuhkan persiapan yang lama untuk tes bahasa Inggris tersebut hingga setahun lamanya.

"(Tes IELTS) bukan sesuatu yang mudah. Kita harus persiapkan dari agak lama, bisa setahun persiapannya dari September 2018 untuk berangkat tahun 2019," tuturnya.

Kemudian pada tahun 2019, Handoyo mulai mendaftar program beasiswa yang dibiayai oleh pemerintah Indonesia, yaitu beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk dosen. Menurutnya, saat itu pendaftar beasiswa LPDP khusus dosen tersebut mencapai sekitar 1.700 dosen.

Sementara kuota penerima yang diberikan pemerintah hanya sebanyak 100 dosen dari seluruh dosen di Indonesia. Hingga akhirnya, Handoyo termasuk dalam daftar 100 dosen terpilih dalam beasiswa tersebut.

Handoyo memilih Spanyol sebagai negara tujuannya bukan tanpa alasan. Ada dua pertimbangan utama yang membuatnya memantapkan pilihan di Spanyol sebagai tempat melanjutkan studi S3-nya.

Pertama, riset di salah satu kampus Spanyol cocok dengan minatnya. Kemudian, calon supervisor (pembimbing) dari Spanyol dinilai lebih kooperatif dibandingkan dengan supervisor dari pilihan negara lainnya, yaitu Italia, Inggris, Austria, dan Portugal.

"Supervisor dari Spanyol ini (berdasarkan komunikasi personal lewat) email lebih kooperatif, komunikasinya lancar, dan responsnya cepat. Jadi kita nyaman," jelas Handoyo.

Sebagai informasi, sebelum mendaftar beasiswa ke luar negeri, peserta beasiswa diimbau untuk mencari calon supervisor terlebih dahulu guna mendapatkan LoA (letter of acceptance) dari pihak kampus.

Adapun tentang jurusan pilihannya, yaitu Geophysical Engineering, Fakultas Earth Science, ia mengaku karena masih linier dengan mata kuliahnya di kampus. Selain itu juga dengan jurusannya semasa studi S1 dan S2.

Sebagai penutup, Handoyo membagikan tips bagaimana memperoleh beasiswa S3 di luar negeri tepatnya Spanyol. Ia menyebut persiapan tes IELTS dan dokumen LoA (letter of acceptence) merupakan faktor penting sebelum mendaftar beasiswa.

"Kemampuan bahasa Inggris adalah harga mati, pemberi beasiswa itu biasanya punya syarat minimum tes kemampuan bahasa Inggris yang harus dipenuhi," tutupnya.

Simak Video "Gaji UMR, Office Boy ini Menyisihkan Rezeki untuk Tuna Wisma"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia