Perjuangan Dewi Meraih Titel Profesor di IPB, Antara Keluarga dan Karier

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 13 Mei 2021 19:00 WIB
Kampus IPB/ipb.ac.id
Foto: Kampus IPB/ipb.ac.id
Jakarta - Bercita-cita menjadi dosen sampai jadi profesor? Guru besar atau profesor adalah jabatan akademik tertinggi sesuai dengan tanggung jawabnya di keilmuan yang didalami.

Untuk menjadi profesor, Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Dewi Apri Astuti berupaya membagi waktu antara menjadi ibu, nenek, dan meraih guru besar.

Ibu tiga anak ini bercerita, semula hanya diizinkan suami studi di dalam negeri. Berjejaring dari dalam negeri rupanya membuka kesempatan Dewi mengadu ilmu dengan meneruskan postdoctoral di Jerman dan Jepang. "Wawasan di luar negeri menginspirasi saya untuk meningkatkan karya ilmiah, ilmu, dan wawasan di bidang saya," dalam siaran "Professor Insight" di kanal YouTube Direktorat SDM IPB, diakses Jumat (12/5).

Dewi menuturkan, ia sempat pindah mengajar dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) ke Fakultas Peternakan pada 2004-2005 sesuai pendidikan sarjananya. Ia berharap bidang keilmuan ini bisa diteruskan hingga profesor.

Tetapi karena baru empat tahun di Fakultas Peternakan, beberapa karya ilmiahnya harus dipilih yang sesuai untuk menjadi guru besar.

Dewi bercerita, di Departemen Nutrisi FKH, ia sempat membuat karya ilmiah tentang pakan komodo dan pakan burung di Ragunan. Kendati demikian, karya ilmiahnya tidak membahas pakan ternak.

Ia menambahkan, dekan Fakultas Peternakan saat itu menyarankannya tidak memakai karya ilmiah yang kurang sesuai.

"Saya nangis saat itu, karena ada 44 karil (karya ilmiah), KUM istilahnya, angka kredit dibuang. Tetapi saya pikir-pikir, kenapa saya sesali, kenapa harus saya kekep ,jadi saya bangkit, saya menulis karya-karya baru mengenai nutrisi ternak," kata Dewi.

Dewi menuturkan, pemenuhan karya ilmiah yang sesuai, S3, dan penugasan menjadi kunci mencapai guru besar.

"Penelitian secara khusus harus jadi perhatian. (Juga) Jenis jurnalnya, supaya tidak cancelled, kualitasnya, dan kesesuaiannya dengan bidang ilmu kita, di samping melengkapi SKS pendidikan di tempat yang baru. Walau di tempat lama bisa (dipakai kreditnya), tetapi tidak semua," saran Dewi.

Ia menambahkan, calon guru besar baiknya menyiapkan artikel untuk syarat khusus sesuai aturan terbaru. Baca dan ikuti aturan yang sedang berlaku, lalu ikuti saran saran dan masukan senat fakultas, senat akademik, dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

"Siapkan semuanya sesuai aturan agar tidak bolak-balik dan tidak lama," kata Dewi.

Dewi menambahkan, penelitian juga dilengkapi dengan perluasan kerjasama dan jejaring. Salah satu upayanya dulu yakni bekerja sama dengan Primate Center di Amerika Serikat terkait pangan primata, lalu diperluas sesuai ilmu peternakan.

"Karena saya diminta menambah karil nutrisi ternak dan hewan model, saya mencoba membuat jejaring, lalu juga UPM terkait nutrisi reproduksi masih terus berjalan," katanya.

Dewi menuturkan, jejaring membuat pertukaran informasi lebih mudah karena kerap dikirim undangan internasional dan informasi di asosiasi. "Keep in touch terus, jangan putus," tuturnya.

Dewi mengatakan, menjadi profesor merupakan hak dan kewajiban yang dijalaninya berdasar UU Guru dan Dosen. Berkarya sebagai profesor juga menurutnya menjadi jalan berkontribusi dan membagikan ilmu dengan kompetensi ahli kepada yang membutuhkan.

Ia menambahkan, jumlah profesor turut memengaruhi penilaian kinerja sebuah institusi. "Karenanya setiap dosen yang sudah punya karya, lalu kompetensinya sudah bisa dipertanggungjawabkan dengan semua persyaratan yang ada, berhak dan wajib menjadi profesor," terangnya.

Dewi mengingatkan, guru besar harus adaptif dengan pembelajaran dengan berbasis IT yang menarik dan informatif. "Lektor kepala millennials sudah dapat beradaptasi, dosen yang di atas 55 dan siap menjadi guru besar harus adaptif. Jadi berbagi dengan mahasiswa sambil meningkatkan kualitas," kata Dewi.





Simak Video "Jokowi Ucapkan Selamat ke Megawati: Konsistensi Beliau Sudah Teruji"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia