Kenapa Sih Remaja Cewek Bisa Keranjingan Drama Korea? Ini Kata Pakar Unair

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 06 Mei 2021 15:15 WIB
The Penthouse 2, Kim Young Dae dan Kim Hyun Soo
Kim Hyun Soo salah satu aktor Korea yang punya banyak penggemar di Indonesia (Foto: dok SBS)
Jakarta - Drama Korea udah lama jadi bagian gelombang budaya pop Korea Selatan. Gelombang budaya pop Korea disebut juga hallyu atau Korean wave. Drama Korea alias drakor bahkan bisa bikin orang Indonesia jadi keranjingan, terutama remaja perempuan. Kenapa ya bisa begitu?

Rupanya, menurut Pakar Kajian Sinema Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Igak Satrya Wibawa, kegemaran remaja perempuan sama drama Korea adalah bagian dari demam Korean wave yang sedang menjamur di Indonesia.

Gelombang budaya Korea di seluruh dunia juga disebut Korean culture invasion, atau perluasan budaya Korea.

"Saya mengambil asumsi dari awal, ada beberapa kemungkinan faktor penyebabnya, yang utama tentu saja karena adanya demam Korean Wave. Ini menjadi kecenderungan bahwa tren adalah salah satu faktor penting." jelas Igak dalam keterangan yang diterima detikedu, Kamis (6/5).

Igak menuturkan, remaja perempuan menduduki rating tertinggi sebagai penikmat drama Korea karena drakor memang ditujukan kepada penonton perempuan. Drama Korea dibuat dengan mengarah kepada ikatan emosional yang secara stereotip lebih dimiliki oleh perempuan.

"Tidak hanya drama Korea sebenarnya, tetapi konsep drama sejak dulu memang diarahkan pada audience perempuan. Drama dibuat untuk mereka yang menyukai sentuhan-sentuhan psikologis emosional, dan itu lebih besar ada pada perempuan," kata dosen Kajian Sinema Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unair itu.

Di samping itu, para produser drakor juga melengkapi karya drama dengan sajian fisik yang mempesona, plus alur cerita yang dramatis.

"Semua drama pasti menjual narasi-narasi emosional dan fisik rupawan, itu standar dari drama, cuma masalahnya mereka sedang dalam puncak popularitas," kata doktor bidang Creative Arts di School of Media Creative Arts and Social Inquiry Curtin University, Australia, itu.

Igak menuturkan, salah satu faktor yang enggak kalah penting adalah pilihan media penyebaran. Pada era milenial seperti ini, layanan digital menjadi pilihan utama yang banyak digunakan remaja.

Karena itu, strategi penetrasi pasar drama Korea memilih menjual tayangan drama ke platform digital. Menurut Igak, strategi ini efektif membuat drakor lebih ditonton generasi muda dibanding sinetron tanah air.

"Sinetron tanah air hanya dimunculkan melalui tayangan televisi, sementara televisi bukan lagi menjadi pilihan media generasi sekarang. Itu void (kekosongan) yang diisi drama Korea. Mereka muncul melalui media internet, streaming berbayar, aplikasi mobile, youtube dan lain-lain, yang itu jauh lebih efektif penetrasi pasarnya ketimbang melalui televisi," jelas Igak.

Igak menuturkan, cerita drama Korea yang berbeda dengan drama lain juga mendukung penonton menyukai drakor. Menurutnya, drama Korea menyajikan cerita yang berbeda dengan cerita dalam kehidupan sehari-hari. Dari situ, terlihat adanya kreativitas para kreator dan bagaimana mereka berkarya dengan bebas dan kreatif.

"Mencari tau sesuatu di luar apa yang kita alami sehari-hari mungkin akan lebih menarik. Sehingga, itu mungkin faktor penyebab mereka menyukai drama Korea. Ada hal-hal yang tidak mereka temukan di dalam kehidupan sehari-hari, tapi mereka temukan dalam drama Korea," ujarnya.

Menurut Igak, jika dibandingkan dengan sinetron tanah air, drama Korea punya pangsa pasar sendiri, yaitu para penikmat televise. Hal yang perlu diperhatikan adalah menjaga kualitas dengan menampilkan cerita yang berbeda.

Ia berpendapat, kreator tanah air akan jauh lebih sulit untuk mengusik pemenang pasar seperti kreator drama Korea ini. Sementara, berpindah ke media internet seperti yang dilakukan drama Korea pun tidak cukup.

Igak menambahkan, perlu banyak strategi lain karena Korean wave juga datang ke semua lini, seperti musik, film, kuliner, fashion, dan lain-lain.

"Prinsip dasar dunia kreatif adalah kalau kamu tidak bisa menjadi yang terbaik, jadilah yang pertama, karena menjadi yang pertama otomatis menjadi yang terbaik. Tetapi kalau kamu tidak bisa menjadi yang terbaik dan pertama, jadilah yang berbeda, karena dengan menjadi yang berbeda, kamu akan menjadi yang pertama dan bisa jadi yang terbaik," kata Igak.

Ternyata begitu strategi hallyu dalam drama Korea yang bikin remaja perempuan suka banget menonton drakor. Nah, gimana menurut kamu analisis di atas? Setuju? (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia