Perjuangan Guru Mengajar di Pelosok saat Pandemi: Pakai Facebook hingga WA

Puti Yasmin - detikEdu
Jumat, 19 Mar 2021 18:06 WIB
Guru Honorer tengah mengajari anak-anak Suku Kaili Unde
Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso/Perjuangan Guru Mengajar di Pelosok saat Pandemi: Pakai Facebook hingga WA
Jakarta - Pandemi COVID-19 membuat kegiatan belajar-mengajar dilakukan secara jarak jauh atau menggunakan online. Terlintas, tak ada masalah dalam pelaksanaan ini, namun berbeda jadinya saat dilakukan di daerah-daerah.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) diputuskan oleh pemerintah sebagai cara belajar-mengajar sejak Maret 2020 kemarin. Hal itu dilakukan demi mencegah penyebaran virus COVID-19 semakin meluas.

Biasanya, para guru akan menerangkan materi secara langsung melalui aplikasi online. Para siswanya pun akan memerhatikan dari rumah masing-masing dengan aplikasi serupa.

Namun, hal ini tak bisa dilakukan oleh para guru dan siswanya di daerah pelosok. Pasalnya, ada banyak kekurangan yang memengaruhi proses PJJ hingga tak bisa dilaksanakan dengan baik.

Salah satunya dirasakan oleh Wilfridus Kado, seorang guru di SMK Negeri 7 Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Ia mengaku sarana dan prasarana di daerahnya tidak mendukung pembelajaran jarak jauh, seperti saat menggunakan aplikasi Zoom tidak bisa lancar karena jaringan yang sulit.

"Pakai Zoom itu data dan jaringan itu belum terlalu maksimal. Sering putus-putus kalau pakai Zoom, dan anak-anak nggak ada HP juga, listrik pun sering padam juga," ungkap dia saat berbincang dengan detikcom.

Untuk itu, pria yang akrab disapa Frid ini biasa menggunakan media sosial Facebook untuk berkomunikasi dengan anak didiknya. Pasalnya, untuk mengakses Facebook sendiri tidak diperlukan kuota alias gratis.

Terlebih, menurutnya, anak didiknya merasa nyaman saat menggunakan Facebook sebagai sarana pembelajaran.

"Kami menggunakan Facebook, kan di Facebook ada yang pakai data dan ada yang gratis. Jadi kami membuat akun Facebook posting kami berikan tugas di situ. Murid-murid kalau kirim tugas lagi via Facebook. Di sini kan mungkin baru ramai (menggunakan Facebook) dan agak seru main sambil ngerjain (tugas)," jelas Frid.

Terkait kondisi ini, Frid yang juga tergabung dalam organisasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengaku pembelajaran menjadi tidak maksimal. Ia pun mengikuti anjuran pembelajaran tatap muka (PTM) dengan protokol kesehatan COVID-19.

"Pembelajaran belum terlalu maksimal, dan kita ikut anjuran dari pemerintah terkait PTM, sudah mulai rata-rata 30% sekolah, hanya kita ikuti protokol kesehatan," kata dia.

Senada dengan itu, guru di SMKN 1 Bolo Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Muhaimin mengaku menyiasati persoalan jaringan dengan memberikan fotocopy materi di sekolah sehingga anak-anak bisa datang dan mengambilnya untuk mengerjakan kembali di rumah masing-masing.

Menurut Muhaimin kondisi jaringan internet di daerahnya masih banyak kendalanya. Sehingga, ia lebih banyak melakukan aktivitas mengajar melalui aplikasi WhatsApp (WA) grup.

"Kalau di Bima keadaannya bervariasi, rata-rata menggunakan WA, dibuat grup kelas. Kalau secara umum Zoom banyak tetapi banyak sekolah yang nggak bisa menerapkan arena keadaan jaringan internet yang bervariasi. Jadi siasat guru dengan fotocopy materi yang dipelajari dan siswa datang ke sekolah dan ngambil untuk belajar di rumah," papar dia.

Selain itu, pria yang juga menjabat sebagai Kepala Madrasah di MTs Nurul Mukhtar Bima ini menjelaskan banyak rekan-rekan sejawatnya yang masih tidak bisa menggunakan komputer sebagai sarana pembelajaran. Tak hanya itu, para murid pun banyak tidak memiliki perangkat HP untuk belajar.

"Guru-guru kalau mau dibilang tidak terlalu bisa bermain komputer. Main WA di komputer saja kebanyakan nggak bisa. Kadang saya ajarin bermain WA. Siswa juga jarang memiliki smartphone jadi biasanya mereka berkelompok 2-3 orang menerima pembelajaran," jelas Muhaimin.

Buruknya jaringan juga menjadi masalah dalam pembelajaran jarak jauh di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Menurut guru di SMPN 3 Satap Tabukan Selatan Tengah, Ahmad Ridhwan para muridnya biasa mencari sinyal di pantai dan di atas gunung demi mendapatkan pembelajaran.

Namun, hal ini akan berbeda cerita ketika cuaca buruk tiba. Maka, anak-anak tidak akan mendapatkan jaringan internet sama sekali sehingga tidak bisa mengikuti proses belajar via online.

"Sangihe sendiri daerah kepulauan jadi untuk beberapa tempat kesulitan jaringan anak didik saya saya di pulau nggak ada jaringan sama sekali, jadi mereka cari tempat di pantai atau atas gunung. Kendala kalau cuaca buruk itu nggak ada jaringan," kisahnya.

Sama seperti yang terjadi di Bima, guru-guru di Sangihe ternyata juga belum menguasai IT. Sehingga hal ini menjadi tantangan untuk melaksanakan proses belajar-mengajar via online.

Untuk mengatasi hal itu, biasanya para pendidik akan membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Di sana, para guru akan melakukan pembelajar secara langsung.

Walaupun begitu, ia melihat ada hal positif di balik pembelajaran menggunakan perangkat digital ini. Misalnya, anak didiknya menjadi mengerti tentang perkembangan teknologi.

"Ada sisi positif, jadi anak-anak tahu tentang perkembangan teknologi dan pemanfaatannya, seperti Google, Google Class Room. Jadi anak-anak lebih mudah mencari sumber materi. Saat belajar tatap muka juga, menggunakan internet untuk mencari bahan belajar dan mengirim tugas," tutur dia.

Para guru pun berharap ke depannya pemerintah bisa meningkatkan sarana dan prasarana guna menunjang pembelajaran berbasis online ini. Dengan begitu, era digitalisasi bisa dirasakan semua orang di seluruh Indonesia.

"Sangat berharap besar karena nggak menutup kemungkinan dalam menggunakan digitalisasi karena akses 24 jam dan lebih luas dan praktis karena hal seperti mengerjakan soal kan bisa menghabiskan kertas dan dikerjakan di mana saja seperti google form," tutup dia.

Sementara itu, pemerhati pendidikan dari Universitas Kutai Kertanegara Riduan juga menilai bahwa diperlukan dukungan dari pemerintah pusat dan kepala daerah itu sendiri dalam melaksanakan program digitalisasi ke depan. Ia mencontohkan seperti perpustakaan jaringan.

"Harapan saya program digitalisasi ini harus ada dan masing kepala mempersiapkan sarana dan prasarana untuk digitalisasi, contoh digitalisasi perpustakaan jaringan yang ada dilengkapi dan mau tidak mau digitalisasi bahan ajar elektronik itu harus ada," tutup dia.

Simak Video "Pendidikan Pra Sekolah Untuk Mempererat Hubungan Anak dan Orang Tua, Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia