Kisah Guru di Pelosok Kaltara Lakukan Mitigasi Learning Loss Akibat PJJ

Erwin Dariyanto, Faqihah Muharroroh Itsnaini - detikEdu
Kamis, 11 Feb 2021 20:51 WIB
Belajar dari Rumah
Ilustrasi potensi learning loss akibat PJJ (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang masih berlangsung karena pandemi Covid-19 berpotensi menimbulkan learning loss. Sejumlah pihak, terutama pendidik, membagikan kisah mereka dalam melakukan mitigasi learning loss dengan kiat tertentu.

Sejak Maret 2020, jutaan anak harus mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang membuat guru dan siswa sulit melakukan interaksi tatap muka.
Kendala-kendala pelaksanaan PJJ seperti kesenjangan infrastruktur, penguasaan teknologi rendah, dan terbatasnya kepemilikan alat belajar seringkali dirasakan, terutama pada daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).

"Selama sekolah ditutup, tugas atau PR memang selalu dikerjakan dengan baik. Namun setelah kembali dibuka, ternyata dari 21 siswa, ada 10 siswa yang mengalami penurunan kemampuan membaca. Ini tandanya tugas mereka dikerjakan orang tua, tanpa pendampingan yang tepat," ujar Fahridha Aryanti, guru kelas 2 SD Integral Hidayatullah, Kab. Malinau, Kalimantan Utara dalam Webinar 'Mitigasi Learning Loss untuk Mencegah Kerugian Ekonomi dan Sosial di Masa Depan Akibat PJJ Berkepanjangan', yang digelar Inovasi dan Universitas Borneo Tarakan, Kamis (11/2/2021).

Kondisi ini dinamakan learning loss, di mana anak mengalami penurunan kemampuan belajar, perkembangan emosi dan psikologi terganggu, rentan putus sekolah, dan berpotensi sulit mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depan karena kompetensi berkurang.

Senada dengan Faridha, sejumlah guru di Kalimantan Utara juga mengakui adanya masalah yang dihadapi anak didik di daerah masing-masing. "Guru kesulitan menangani kemampuan membaca anak yang berbeda. Selain itu, karena belum mengetahui kemampuan siswa, para guru menjadi kesulitan dalam memberi bahan ajar yang sesuai," tutur Warsiyah, kepala SDN 013 Bulu Perindu, Kab. Bulungan.

Berbagai cara ditempuh pengajar untuk mengatasi permasalahan ini. Seperti dengan memetakan kemampuan membaca siswa, terbagi dalam tiga kelompok: kelompok belum mengenal huruf, kelompok mengenal huruf, dan kelompok lancar membaca.

Kiat ini dilakukan Faridha dengan tidak terlalu fokus mengejar kurikulum, lalu melakukan pembelajaran terdiferensiasi sesuai kemampuan murid, dan berkoordinasi dengan melibatkan orangtua untuk mempercepat pemulihan kemampuan belajar anak.

Sementara, Puji Lestari guru Kelas 2 SDN TU 2 Tana Tidung, Kab. Tana Tidung memiliki kiat yang berbeda. "Awalnya kami berkoordinasi dengan Disdik dan Tim Pengembang Kurikulum. Lalu kami membuat sosialisasi instrumen, menyusun hasil analisis, baru menentukan bahan dan moda ajar. Hasilnya adalah lembar instrumen diagnostis (formative assesment)," jelas Puji.

Ia mengatakan, sekolahnya menggunakan Lembar Aktivitas Siswa (LAS) berdasarkan kemampuan anak. LAS dibagikan sekali seminggu secara door-to-door (dari rumah ke rumah) dengan pendampingan guru yang mematuhi protokol kesehatan. Warsiyah sendiri menerapkan strategi KKG (Kelompok Kerja Guru) untuk memitigasi learning loss melalui pembelajaran sesuai kemampuan siswa.

"Kami menggunakan kurikulum khusus yang lebih mudah, pendampingan belajar untuk anak didik dan guru dalam KKG, refleksi perkembangan anak dan permasalahan guru setiap satu kali seminggu, mensosialisasikan kurikulum darurat pada orangtua, dan membuat catatan pemetaan kemampuan siswa," papar Warisyah.

Terbukti, berbagai kiat khusus para pengajar membuahkan hasil yang cukup baik. Sekitar 5 bulan, terjadi peningkatan kemampuan membaca sejumlah siswa.
Dr. Jero B. Darmayasa, Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran-LP3M UBT menyebutkan, perlu adanya pemulihan pembelajaran pada siswa pasca pandemi Covid-19.

"Caranya dengan melakukan observasi dan asesmen, menyesuaikan rencana pembelajaran ke model yang baru, menyusun program pendampingan, lalu implementasi dengan koordinasi bersama pihak-pihak terlibat," ujar Jero.

Hal yang terpenting adalah, mitigasi learning loss dapat dilakukan melalui beberapa tahapan secara konsisten. Seperti pembelajaran yang harus menyesuaikan tingkat kemampuan siswa, pendampingan dan pelatihan rutin, koordinasi dengan orangtua, dan memfokuskan pembelajaran pada literasi serta numerasi.

Tak lupa, pemberian asesmen saat pembelajaran tatap muka (PTM) kembali dilaksanakan, dan tes diagnostik agar dapat selalu update dengan kondisi siswa.

Saksikan juga 'Anjuran Mendikbud Bila Pembelajaran Jarak Jauh Sulit Diterapkan':

[Gambas:Video 20detik]



(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia