Usai Sumpah Pemuda 1928, Pujangga-pujangga Ini Lahir

ADVERTISEMENT

Usai Sumpah Pemuda 1928, Pujangga-pujangga Ini Lahir

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 28 Okt 2026 06:00 WIB
Ilustrasi Sumpah Pemuda.
Foto: Gemini AI Ilustrasi Sumpah Pemuda.
Jakarta -

Peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 memicu peningkatan nasionalisme di Indonesia kala itu. Butir ketiga ikrar Sumpah Pemuda "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia" turut mendorong berkembangnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Usai Kongres Pemuda II yang menjadi momen lahirnya Sumpah Pemuda, terciptalah satu periode penting dalam sejarah sastra Indonesia. Menurut Muhri (2015: 39), seperti dikutip dari buku Esensi Sastra: Filsafat, Unsur, dan Sejarah Sastra di Indonesia karya Satya Yala Reksanegara, angkatan Pujangga Baru lahir setelah ikrar tersebut.

Sejarah Pujangga Baru Indonesia

Periode Pujangga Baru ditandai dengan terbitnya majalah Poedjangga Baroe pada 1933. Majalah ini digagas oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane yang selanjutnya dikenal sebagai tokoh utama Gerakan Pujangga Baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain Poedjangga Baroe, ada juga media-media lain yang dimanfaatkan para sastrawan untuk mengekspresikan ide seperti Timboel dan Pandji Poestaka. Keduanya punya rubrik khusus sastra.

Poedjangga Baroe, seperti dijelaskan dalam buku Sejarah Ringkas Kesusastraan Indonesia karya Muhri, bertujuan menyebarkan semangat baru dalam bidang kesusastraan, budaya, kesenian, dan sosial. Namun, tujuan akhirnya adalah terbentuknya persatuan bangsa.

ADVERTISEMENT

Angkatan Pujangga Baru memiliki karakter yang berbeda dari pendahulunya, Balai Pustaka. Karena karakteristik yang berbeda tersebut, maka Pujangga Baru dimasukkan ke dalam periode tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Selain itu, karena lahir pada tahun 1930-an, maka angkatan ini juga disebut sebagai angkatan tiga puluhan.

Tokoh-tokoh Poedjangga Baroe

Pada 1933-1935, Poedjangga Baroe dipimpin oleh:

  • Armijn Pane
  • Sutan Takdir Alisjahbana
  • Mr Sumanang

Pada 1935-1938, Poedjangga Baru dipimpin oleh:

  • Sugiarti
  • Mr Amis Syarifuddin
  • Mr S Moh Syah
  • Mr Sumanang
  • Dr Ng Purbacaraka
  • Sutan Takdir Alisjahbana

Sekretaris redaksi dipegang oleh:

  • Mr S Moh Syah (1936-1937)
  • Armijn Pane (1937-1938)
  • WJS Purwodarminto (akhir 1938 hingga pertengahan 1940).

Namun, selain tokoh-tokoh di atas, juga ada banyak tokoh lain yang membantu majalah ini. Mereka tersebar di seluruh Indonesia.

Karakteristik Angkatan Pujangga Baru

Gerakan Pujangga Baru bertujuan membangun sastra yang mencerminkan identitas bangsa yang tengah menuju kemerdekaan. Para sastrawan periode ini berupaya menciptakan karya yang tidak cuma bernilai estetis, tetapi juga menggambarkan semangat kebangsaan dan kemajuan masyarakat.

Disebutkan dalam buku Teori Sastra Indonesia Mutakhir oleh I Made Suarta, tema yang sering muncul dalam karya sastra era Pujangga Baru berkaitan dengan cinta tanah air, kebebasan individu, perkembangan budaya, dan perubahan sosial dalam masyarakat. Salah satu ciri pentingnya adalah penggunaan bahasa Indoensia yang lebih segar, ekspresif, dan bebas dari pola sastra Melayu klasik.

Para sastrawan periode ini berusaha menunjukkan gaya bahasa yang lebih modern dan teknik penulisan yang lebih berkembang. Tokoh yang ditampilkan juga lebih kompleks dan memiliki konflik psikologis lebih mendalam daripada karya periode sebelumnya.



(nah/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads