Jenazah Pun Bisa 'Berisik' dan Bergerak, Bukan Hal Mistis!

ADVERTISEMENT

Jenazah Pun Bisa 'Berisik' dan Bergerak, Bukan Hal Mistis!

Kalila Untsa - detikEdu
Selasa, 27 Okt 2026 20:31 WIB
Ilustrasi jenazah
Ilustrasi jenazah Foto: Thinkstock
Jakarta -

Kematian tidak selalu berarti seluruh perubahan pada tubuh langsung berhenti. Setelah napas dan detak jantung berakhir, tubuh manusia masih mengalami berbagai proses biologis. Dalam kondisi tertentu, jenazah bahkan dapat bergerak atau mengeluarkan suara yang terdengar menyeramkan.

Fenomena ini mungkin mengingatkan pada adegan film horor, ketika jenazah bergerak atau mengeluarkan suara misterius. Namun, penjelasan ilmiahnya tidak berkaitan dengan hal mistis.

Jenazah Bisa Bergerak Berbulan-bulan Setelah Meninggal

Pergerakan jenazah setelah kematian dikenal sebagai post-mortem movement. Tubuh manusia dapat terus mengalami perubahan posisi selama proses pembusukan, bahkan berbulan-bulan setelah kematian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah penelitian di Australia menggunakan kamera time-lapse untuk memantau perubahan posisi tubuh manusia yang mengalami pembusukan. Hasilnya menunjukkan pergerakan masih teramati selama setidaknya 16 bulan pengamatan.

ADVERTISEMENT

Secara kumulatif, beberapa bagian tubuh berpindah hingga sekitar 20 inci atau 51 sentimeter dalam riset yang diterbitkan dengan judul Quantifying human post-mortem movement resultant from decomposition processes.

Antropolog biologis Derek Boyd, yang turut memimpin Laboratorium Antropologi Forensik dan Bioarkeologi di University of Nevada, Las Vegas, menjelaskan pergerakan jenazah umumnya berlangsung secara halus.

"Tubuh dapat bergerak, tetapi belum tentu dengan cara yang dibayangkan kebanyakan orang. Gerakannya sangat halus," ujarnya seperti dikutip dari Popular Science.

Menurutnya, tubuh tidak akan tiba-tiba duduk atau memutar kepala seperti yang sering digambarkan dalam film horor. Perubahan posisi yang terjadi cenderung kecil dan berlangsung secara bertahap.

Mengapa Jenazah Bisa Bergerak?

Setelah kematian, tubuh mengalami sejumlah tahapan perubahan yang berkaitan dengan proses penguraian jaringan. Beberapa di antaranya dapat memengaruhi bentuk dan posisi tubuh.

Pada tahap awal, tubuh mengalami rigor mortis atau kekakuan mayat. Kondisi ini terjadi ketika otot menjadi kaku akibat perubahan biokimia setelah sirkulasi darah dan pasokan energi berhenti.

Selama proses tersebut, tegangan pada otot dan jaringan berubah. Akibatnya, bagian tubuh dapat mengalami sedikit pergeseran. Namun, perubahan ini biasanya berlangsung secara halus dan tidak selalu terlihat tanpa pengamatan khusus.

"Anda belum tentu akan melihat (pergerakan) tersebut kecuali Anda benar-benar fokus pada tubuh selama 48 jam pertama dan bahkan setelah itu pun, yang terlihat hanyalah ketegangan, tubuh yang kaku," kata Boyd.

Tahap berikutnya berkaitan dengan pembusukan dan pembentukan gas di dalam tubuh. Setelah kematian, enzim dalam tubuh mulai memecah sel-sel. Proses ini disebut autolisis. Pada saat bersamaan, bakteri dan mikroorganisme menguraikan jaringan tubuh dan menghasilkan gas melalui proses pembusukan yang dikenal sebagai putrefaksi.

Akumulasi gas dapat menyebabkan bagian tubuh membengkak. Perut dan jaringan tertentu, misalnya, bisa mengalami pengembangan secara bertahap. "Proses ini menyebabkan tubuh menjadi membengkak atau mulai menggembung, dan pembengkakan itu dapat mengakibatkan pembesaran yang dramatis," ujar Boyd.

Perubahan volume tersebut dapat memengaruhi posisi bagian tubuh dan membuatnya tampak bergeser. Seiring waktu, menurut Boyd gas yang terkumpul dapat keluar dari tubuh. Ketika pembengkakan berkurang, bentuk tubuh kembali berubah dan terkadang menimbulkan pergeseran kecil pada posisi jenazah.

Pergerakan juga dapat terjadi pada tahap pembusukan yang lebih lanjut, ketika jaringan lunak mulai mengering. Proses ini disebut desikasi. "Kita memiliki ligamen yang menghubungkan tulang satu sama lain, tendon yang menghubungkan otot ke tulang, dan pada tahap pembusukan selanjutnya ini, jaringan ikat tersebut dapat menyusut dan mengencang dan, dengan demikian, dapat menarik kerangka kita dengan berbagai cara," katanya.


Mengapa Jenazah Bisa Mengeluarkan Suara?

Selain mengalami perubahan posisi, jenazah juga dapat mengeluarkan suara setelah kematian. Fenomena ini berkaitan dengan proses fisik yang berlangsung selama penguraian tubuh, terutama pembentukan dan pergerakan gas serta cairan.

Saat masih hidup, tubuh manusia menghasilkan berbagai suara, mulai dari sendawa dan kentut hingga bunyi dari sistem pencernaan. Setelah kematian, gas yang terbentuk selama pembusukan juga dapat menghasilkan suara.

Direktur Eksekutif Order of the Good Death, Sarah Chavez, menjelaskan penumpukan gas selama pembusukan dapat menimbulkan bunyi seperti gemericik, gelembung, erangan, atau suara yang menyerupai desahan. Gas dan cairan yang bergerak melalui saluran tubuh, termasuk keluar melalui mulut atau hidung, juga dapat menghasilkan suara yang tidak terduga.

Bagi orang yang tidak memahami proses tersebut, bunyi dari jenazah mungkin terasa mengejutkan atau menyeramkan. Namun, suara itu bukan berarti jenazah kembali hidup atau sedang berkomunikasi.

"Hal itu bisa mengejutkan jika Anda tidak mengantisipasinya, tetapi tidak ada sesuatu yang supernatural terjadi," ujar Chavez.

Menurutnya, suara tersebut merupakan bagian dari proses biologis setelah kematian, ketika jaringan tubuh terurai dan gas serta cairan bergerak. Proses itu terkadang menghasilkan bunyi tanpa disengaja.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Isak Tangis Keluarga Sambut Kedatangan Jenazah Pilot Egon Erawan"
[Gambas:Video 20detik] (pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads