Stres Tak Selalu Buruk, Ternyata Bisa Memperkuat Ingatan

ADVERTISEMENT

Stres Tak Selalu Buruk, Ternyata Bisa Memperkuat Ingatan

Kalila Untsa - detikEdu
Kamis, 22 Okt 2026 08:00 WIB
Ilustrasi Stres karena Pandemi
Ilustrasi stres Foto: Dennu Putra/Infografis detikcom
Jakarta -

Stres kerap dianggap mengganggu konsentrasi dan daya ingat. Namun, penelitian menunjukkan dalam kondisi tertentu, stres justru dapat membantu seseorang mengingat pengalaman dengan lebih kuat, terutama peristiwa yang melibatkan emosi intens atau memiliki makna personal.

Orang yang mengalami stres tubuhnya akan melepaskan hormon kortisol. Para ilmuwan telah lama mengetahui hormon tersebut dapat memperkuat ingatan emosional. Namun, mekanisme yang terjadi di dalam otak untuk menghasilkan efek tersebut belum sepenuhnya dipahami.

Kini, peneliti dari Yale University menemukan petunjuk penting mengenai proses tersebut. Studi mereka mengungkap kortisol memperkuat ingatan emosional dengan mengubah aktivitas jaringan otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi dan pembentukan memori. Hormon tersebut sekaligus meningkatkan koordinasi di antara jaringan-jaringan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan ini memberikan pemahaman lebih mendalam tentang mengapa pengalaman tertentu dapat membekas begitu kuat dalam ingatan, sementara pengalaman lainnya cepat terlupakan.

"Kita semua mengalami stres, dan laboratorium saya tertarik untuk memahami bagaimana stres bisa memberikan manfaat," ujar Elizabeth Goldfarb, penulis penelitian sekaligus asisten profesor psikiatri di Yale School of Medicine dan psikologi di Faculty of Arts and Sciences seperti dikutip dari Science Daily.

ADVERTISEMENT

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Advances dengan judul "Dynamic brain mechanisms supporting salient memories under cortisol".


Bagaimana Hormon Stres Memengaruhi Ingatan?

Penelitian sebelumnya, baik pada manusia maupun hewan pengerat, menunjukkan stres dan kortisol dapat meningkatkan kemampuan mengingat peristiwa yang melibatkan emosi. Para ilmuwan juga telah mengetahui bahwa sejumlah bagian otak, termasuk amigdala, berperan penting dalam proses tersebut.

Amigdala merupakan bagian otak yang berperan dalam memproses emosi dan mengenali pengalaman yang dianggap penting. Meski demikian, cara kortisol memperkuat ingatan masih menjadi pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.

Salah satu tantangannya adalah banyak wilayah otak terlibat dalam berbagai fungsi mental sekaligus. Kondisi ini membuat peneliti sulit memisahkan pengaruh hormon terhadap respons emosional dari pengaruhnya terhadap pembentukan ingatan.

"Pembentukan ingatan atas pengalaman emosional melibatkan sejumlah proses berbeda di otak. Pertama, otak mengenali suatu pengalaman sebagai sesuatu yang emosional atau intens. Kedua, pengalaman tersebut dikodekan menjadi ingatan jangka panjang," kata Goldfarb, yang juga merupakan anggota Wu Tsai Institute di Yale, sebuah inisiatif penelitian interdisipliner yang berfokus pada kajian kognisi.

Para peneliti berupaya mengamati kedua proses tersebut secara terpisah. Dengan demikian, mereka dapat mengidentifikasi bagaimana kortisol memengaruhi kemampuan otak dalam mengenali makna emosional suatu pengalaman sekaligus menyimpannya sebagai ingatan yang bertahan lama.

Untuk menyelidiki mekanisme tersebut, tim peneliti Yale melakukan eksperimen dengan melibatkan partisipan yang diberi pil berisi hidrokortison, salah satu bentuk kortisol sintetis, atau plasebo yang tidak mengandung zat aktif.

Setelah mengonsumsi pil, para partisipan diperlihatkan serangkaian gambar sambil menjalani pemindaian menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI). Teknik pencitraan ini mengukur perubahan aliran darah dan kadar oksigen yang berkaitan dengan aktivitas otak, sehingga peneliti dapat mengidentifikasi wilayah otak yang aktif selama seseorang menjalankan tugas tertentu.

Saat melihat gambar-gambar tersebut, partisipan diminta melaporkan reaksi emosional mereka terhadap setiap gambar. Sehari kemudian, peneliti menguji seberapa baik mereka mengingat gambar yang sebelumnya telah dilihat.

Setiap partisipan menjalani eksperimen sebanyak dua kali, yakni satu kali setelah menerima hidrokortison dan satu kali setelah menerima plasebo. Penelitian ini menggunakan desain double-blind, yaitu kondisi ketika partisipan maupun peneliti yang menjalankan eksperimen tidak mengetahui zat yang diberikan pada setiap sesi.

Dengan metode tersebut, peneliti dapat membandingkan respons otak orang yang sama ketika menerima hidrokortison dan ketika hanya menerima plasebo.

Kortisol Mengubah Cara Jaringan Otak Bekerja Sama

Hasil penelitian menunjukkan dua pengaruh utama. Pertama, kortisol meningkatkan kemampuan partisipan untuk mengingat pengalaman yang memiliki makna emosional. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya.

Kedua, dan yang lebih penting, kortisol memperkuat ingatan emosional melalui perubahan yang berbeda pada jaringan otak yang bertugas memproses emosi dan membentuk ingatan.

Pada jaringan yang berkaitan dengan emosi, kortisol membuat pola aktivitas otak menjadi lebih konsisten dan meningkatkan keterlibatan jaringan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa hormon tersebut membantu otak merespons makna emosional suatu pengalaman dengan lebih kuat dan konsisten.

Sementara itu, pada jaringan yang berhubungan dengan ingatan, kortisol membuat pola aktivitasnya lebih spesifik dalam memproses informasi emosional. Temuan ini menunjukkan bahwa otak menyesuaikan cara mengodekan pengalaman yang memiliki nilai emosional.

Kortisol juga meningkatkan koordinasi antara jaringan yang memproses emosi dan jaringan yang membentuk ingatan. Dengan kata lain, hormon tersebut tampaknya membantu kedua sistem otak bekerja lebih selaras ketika seseorang mengalami peristiwa yang memiliki bobot emosional.

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa stres memperkuat ingatan emosional melalui sejumlah mekanisme otak yang saling berinteraksi, bukan hanya melalui satu wilayah atau proses tunggal.

Mengapa Pengalaman Emosional Lebih Mudah Diingat?

Temuan ini membantu menjelaskan mengapa stres tidak serta-merta meningkatkan kemampuan mengingat semua hal. Pengaruhnya cenderung selektif, yakni membuat pengalaman yang dirasakan sangat intens atau bermakna lebih mungkin tersimpan dalam ingatan.

Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan kemampuan otak beradaptasi ketika menghadapi situasi penuh tekanan. Dalam kondisi tersebut, otak dapat memprioritaskan informasi yang dianggap penting.

"Respons stres pada dasarnya bersifat adaptif dan dapat membantu membentuk ingatan yang kuat. Namun, efek ini khususnya berlaku pada pengalaman yang Anda rasakan sangat intens secara emosional atau bermakna," kata Goldfarb.

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang berperan adalah meningkatnya keterlibatan jaringan otak yang memantau intensitas emosi. Karena itu, ketika seseorang mengalami stres saat mempelajari sesuatu yang baru, menghubungkan materi tersebut dengan unsur yang menarik atau perasaan yang kuat dapat membantu proses mengingat.

Temuan ini juga memberikan petunjuk mengenai strategi belajar. Mengaitkan informasi dengan sesuatu yang menarik, relevan secara personal, atau mampu membangkitkan emosi berpotensi membuat materi lebih mudah diingat, termasuk dalam situasi penuh tekanan.

Dengan demikian, stres tidak selalu mengganggu ingatan. Dalam kondisi tertentu, stres justru dapat membantu otak menentukan pengalaman mana yang perlu mendapat perhatian lebih besar dan memperkuat jaringan yang terlibat dalam penyimpanannya.

Halaman 2 dari 2
(pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads