Hari Sumpah Pemuda 2026 Kapan Diperingati? Cek Tanggal dan Sejarah Peringatannya

ADVERTISEMENT

Hari Sumpah Pemuda 2026 Kapan Diperingati? Cek Tanggal dan Sejarah Peringatannya

Kalila Untsa - detikEdu
Kamis, 22 Okt 2026 07:00 WIB
Logo Hari Sumpah Pemuda 2026
Logo Hari Sumpah Pemuda 2026. Foto: Dok. Kemenpora
Jakarta -

Sumpah Pemuda merupakan ikrar kebangsaan yang lahir dari sebuah Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Pertemuan ini digagas oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Tujuan utama kongres ini adalah untuk memperkuat rasa persatuan dan kebangsaan Indonesia yang telah tumbuh di dalam tubuh para pemuda.

Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, pada 2026 ini merupakan peringatan ke-98. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah merilis tema dan jadwal peringatan hari bersejarah ini.

Hari Sumpah Pemuda ke-98 mengangkat tema 'Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia' yang juga tercermin dalam logonya. Nilai patriotik tercermin dalam grafik melingkar menyerupai sayap Garuda dengan pesan 'Patriot sejati bukan yang menguasai tanah, tapi yang menjaga cahayanya tetap hidup'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nilai gigih terkandung dalam grafik yang menyerupai panah ke arah kanan dengan pesan 'Gigih bukan sekadar bertahan, tapi terus menyala ketika yang lain padam'. Berempati sendiri tercermin dalam bagian tengah logo dengan pesan 'Kekuatan tanpa empati hanyalah kekerasan; empati menjadikan kekuatan bermakna'.

Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 diselenggarakan secara tatap muka pada Rabu, 28 Oktober 2026 pukul 08.00 (waktu setempat) hingga selesai di halaman kantor/lapangan atau dapat menyesuaikan. Adapun, susunan acaranya sebagai berikut.

ADVERTISEMENT

1. Peserta dan petugas upacara siap di tempat upacara;

2. Pemimpin upacara menyiapkan barisan;

3. Pembina upacara memasuki tempat upacara;

4. Penghormatan umum kepada pembina upacara;

5. Laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara;

6. Pengibaran bendera Sang Merah Putih;

7. Pembacaan Pancasila oleh pembina upacara, diikuti seluruh peserta;

8. Pembacaan teks keputusan kongres pemuda Indonesia 1928;

9. Pemberian tanda penghargaan di bidang kepemudaan (jika ada);

10. Sambutan pembina upacara;

11. Menyanyikan lagu-lagu Nasional (Bangun Pemudi Pemuda dan Satu Nusa Satu Bangsa);

12. Pembacaan doa;

13. Laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara;

14. Penghormatan umum kepada pembina upacara;

15. Upacara selesai.

Sejarah Singkat Kongres Pemuda I dan II

Kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda ini merupakan yang kedua. Kongres pertamanya diselenggarakan pada 30 April hingga 2 Mei 1926 di Gedung Vrijmetselaarsloge, Jakarta (sekarang gedung Bappenas). Kongres ini dihadiri oleh pemuda dari berbagai penjuru Indonesia yang tergabung dalam organisasi di daerah masing-masing.

Beberapa organisasi kepemudaan yang turut serta dalam kongres ini adalah Jong Java (Pemuda Jawa), Jong Sumatranen Bond (Pemuda Sumatra), Jong Batak atau Jong Bataks Bond, Jong Celebes (Pemuda Sulawesi), Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun, dan Jong Islamieten Bond.

Setelah kongres pertama berakhir, tidak ada keputusan besar yang dihasilkan, namun yang pasti adalah kongres ini menjadi pondasi awal menuju kongres kedua yang melahirkan ikrar para pemuda Indonesia.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 3 Mei 1928, para pemuda dari seluruh Indonesia kembali berkumpul untuk mendiskusikan perencanaan acara kongres kedua. Diskusi ini kemudian dilanjutkan pada 12 Agustus pada tahun yang sama untuk menentukan susunan panitia, susunan acara, waktu, tempat, dan biaya.

Dari pertemuan tersebut, para pemuda menyepakati bahwa kongres akan dilaksanakan pada 27-28 Oktober 1928 di tiga lokasi berbeda. Berdasarkan Museum Sumpah Pemuda, Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw menjadi tiga tempat menyelenggarakan kongres.

Disepakati pula bahwa seluruh biaya kongres akan ditanggung oleh berbagai organisasi yang menghadiri acara tersebut dan juga dari sumbangan yang bersifat sukarela.

Kongres Kedua yang Melahirkan Sumpah Pemuda

Pertemuan pertama dilaksanakan di gedung Katholieke Jongenlingen Bond pada 27 Oktober, Sabtu malam dan dibuka oleh sambutan ketua panitia kongres, Sugondo Djojopuspito.

Saat itu, Mohammad Yamin turut memaparkan arti dan hubungan persatuan dengan para pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan.

Pertemuan kedua terjadi di gedung Oost Java Bioscoop keesokan harinya yaitu 28 Oktober 1928, hari minggu pagi. Kali ini, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro menjadi pembicara dan mengutarakan beberapa hal terkait dengan hak pendidikan anak-anak.

Keduanya berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, dididik secara demokratis, dan ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah.

Lokasi pertemuan terakhir adalah Indonesische Clubgebouw, yang merupakan indekos di Jalan Kramat Nomor 106. Dengan Soenario, Ramelan, dan Theo Pengamanan yang menyampaikan pidatonya.

Berdasarkan seluruh diskusi dan pemaparan selama dua hari tersebut, terdapat beberapa keputusan yang disepakati oleh para pemuda. Pertama, Persetujuan tentang penggabungan semua organisasi kepemudaan dari berbagai daerah menjadi satu.

Kedua adalah ikrar yang hingga kini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Rumusannya tertulis dalam secarik kertas yang diberikan Mohammad Yamin kepada Sugondo Djojopuspito saat Soenario sedang berpidato. Isinya adalah sebagai berikut.

1. Kami putra putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

2. Kami putra putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Setelahnya, disepakati oleh seluruh hadirin kongres bahwa isi ikrar Sumpah Pemuda akan digunakan dalam setiap organisasi kebangsaan yang ada di Indonesia

Poin kesatuan tanah air, menunjukkan bahwa Indonesia menjadi satu-satunya tempat tinggal bagi seluruh bangsa Indonesia dalam menyelenggarakan pemerintahan dan kehidupannya. Poin kesatuan bangsa, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai daerah merupakan satu kesatuan. Poin kesatuan bahasa, menunjukkan bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan serta kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads