Teks Sumpah Pemuda, Makna, dan Tokoh Pentingnya, Siapa Saja?

ADVERTISEMENT

Teks Sumpah Pemuda, Makna, dan Tokoh Pentingnya, Siapa Saja?

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 21 Okt 2026 06:30 WIB
Museum Sumpah Pemuda menjadi salah satu destinasi edukatif yang penuh nilai sejarah di Jakarta Pusat. Berlokasi di Jalan Kramat Raya No. 106, museum ini menyimpan jejak penting perjuangan pemuda Indonesia dalam merumuskan semangat persatuan yang tertuang dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Diorama Kongres Pemuda Kedua di Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya No 106, Jakarta. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Sumpah Pemuda kembali diikrarkan pada berbagai kegiatan peringatan setiap tanggal 28 Oktober. Untuk menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda, kamu dapat mempelajari kembali teks Sumpah Pemuda, makna yang terkandung di dalamnya, serta tokoh-tokoh penting dalam perumusannya.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda sebagai hari nasional yang bukan hari libur diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959. Diteken pada 16 Desember 1959, Hari Sumpah Pemuda dinyatakan Sukarno, presiden RI saat itu, sebagai hari bersejarah bagi nusa dan bangsa Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teks Sumpah Pemuda

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, berikut teks Sumpah Pemuda yang dapat dibacakan.

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

ADVERTISEMENT

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Makna Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda dalam buku Sejarah Sumpah Pemuda: Latar Belakang, Ikrar, dan Maknanya menjelaskan, Sumpah Pemuda dibuat dan diikrarkan dengan makna sebagai berikut

1. Sumpah Pemuda merupakan sebuah tekad dan semangat untuk benar-benar bersatu.

2. Sumpah Pemuda menutup ide-ide kesukuan atau provinsialisme.

3. Pemuda pada 1928 sudah menyadari keberagaman etnis dan agama, dan bahwa hanya dengan persatuan Indonesia dapat meraih kemerdekaan.

4. Sumpah Pemuda merupakan langkah awal bagi generasi muda dalam menyatukan langkah dan pandangan dalam kehidupan bermasyarakat, yang menjadi landasan pijak bersama untuk normalisasi kehidupan yang damai sejahtera, melintasi batas-batas entitas etnis dan agama.

Tokoh Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda Kedua, 27-28 Oktober 1928 yang digelar untuk memperkuat rasa persatuan dan kebangsaan Indonesia pada anak muda Indonesia. Kongres tersebut dipanitiai oleh perwakilan dari berbagai daerah dan kelompok pemuda. Berikut di antaranya:

  1. Ketua kongres: Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI)
  2. Wakil Ketua: RM Djoko Marsaid dari Jong Java
  3. Sekretaris: Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond
  4. Bendahara : Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond
  5. PembantuI : Djohan Mohammad Tjai dari Jong Islamieten Bond
  6. Pembantu II : R Katjasoengkana dari Pemoeda Indonesia
  7. Pembantu III : RCL Senduk dari Jong Celebes
  8. Pembantu IV : Johannes Leimena dari Jong Ambon
  9. Pembantu V : Mohamad Rocjani Soe'oed dari Pemoeda Kaoem Betawi

Ada tiga rapat pada Kongres Pemuda Kedua. Rencananya, pada rapat pertama, Mohammad Yamin membahas tentang persatuan dan kesatuan bangsa, serta dasarnya.

Rapat kedua direncanakan membahas masalah pendidikan, yang disampaikan oleh Poernamawoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, Djoko Sarwono, dan Ki Hadjar Dewantara. Namun, karena kegiatan Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara tak jadi hadir ke kongres tersebut sehingga pidatonya ditiadakan.

Alhasil, rapat kedua pun diisi Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro yang membahas pentingnya pendidikan kebangsaan, keseimbangan pendidikan di sekolah dan rumah, dan pendidikan secara demokratis.

Sementara itu, rapat ketiga antara lain dijadwalkan untuk membahas tentang peran kepanduan dalam membentuk jiwa mandiri dan disiplin yang dibutuhkan dalam pergerakan oleh Ramelan dan Theo Pengamanan.

Mr Soenario pada rapat tersebut juga dijadwalkan membahas pergerakan Pemoeda Indonesia terhadap Pemuda Internasional, yang kemudian menyoroti pentingnya nasionalisme dan demokrasi di samping kepanduan.

Pada rapat ketiga, WR Supratman membawakan Indonesia Raya dengan biola. Lagu ini kemudian jadi lagu pergerakan.



(twu/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads