Ingin Geluti Cyber Security? Ini Tips dari Periset Malaysia Samantha Khoo

ADVERTISEMENT

Ingin Geluti Cyber Security? Ini Tips dari Periset Malaysia Samantha Khoo

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 20 Okt 2026 18:00 WIB
Samantha Koo, periset cyber security dan kebijakan teknologi di Institute of Strategic and International Studies Malaysia
Samantha Khoo, periset cyber security dan kebijakan teknologi di Institute of Strategic and International Studies Malaysia. Foto: Nikita Rosa/detikcom
Jakarta -

Keamanan siber atau cyber security merupakan salah satu bidang yang naik daun seiring perkembangan teknologi. Tapi sebenarnya, apa itu cyber security?

Cyber security adalah bidang yang berfokus pada perlindungan sistem komputer, jaringan, dan data dari berbagai ancaman seperti serangan, kerusakan, atau akses yang tidak sah. Melansir dari laman Telkom University, permintaan akan tenaga ahli di bidang ini terus meningkat, terlebih dengan adanya artificial intelligence (AI).

Samantha Khoo, periset cyber security dan kebijakan teknologi di Institute of Strategic and International Studies Malaysia, menceritakan awal mula ketertarikannya pada cyber security berasal dari video gim. Ia melihat jika dunia video gim cenderung didominasi oleh laki-laki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hanya ada sedikit pemain perempuan. Jadi saya bertanya-tanya, mengapa perempuan tidak tertarik pada gim?" ungkap Samantha kepada detikEdu dalam Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 di Komplek BRIN Auditorium Gedung BJ Habibie, Jalan MH Thamrin Nomor 8 Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Semakin dewasa, Samantha juga semakin tertarik dengan hak asasi manusia dan media sosial. Ia akhirnya memutuskan untuk mendalami Digital Diplomacy in Cyberspace di Geneva Graduate Institute, Swiss.

ADVERTISEMENT


"Dan menurut saya, itu adalah pertama kalinya saya benar-benar mencermati bagaimana diplomasi dapat diterapkan secara daring. Momen itu juga memicu ketertarikan saya untuk memahami lebih jauh mengenai aspek diplomasi siber," tuturnya.

Pengalaman magangnya menjadi titik awal terjun ke dunia cyber security. Ia mempelaiari tentang cyber security, militer, dan beragam sistem keamanan di Asia Pasifik.

"Saya memutuskan kalau saya menyukai bidang cyber security karena ada begitu banyak hal, terutama terkait teknologi yang sedang berkembang seperti AI, enkripsi kuantum, dan cloud computing. Di mana terkadang saya merasa ada kesenjangan yang cukup lebar antara pengetahuan teknis dengan pihak yang menyusun kebijakan namun tidak memahami aspek teknis dalam ilmu komputer," tuturnya.

Terjun ke Kebijakan Cyber Security

Berbekal pengalaman, keterampilan, dan tekad yang kuat, Samantha akhirnya terjun ke dunia advokasi cyber security. Dalam pekerjaannya, Samantha mendorong bagaimana dunia teknologi termasuk AI bisa digunakan untuk mengadvokasi perempuan, anak-anak, dan minoritas.

"Jadi banyak dari kebijakan AI yang saya tekuni berfokus pada gender, algoritma media sosial, misinformasi, dan bagaimana kami bisa mengedukasi orang-orang tentang hal tersebut," jelasnya.

Tim tersebut juga berhasil mendorong pendirian National AI Office, institusi resmi yang bertugas mengorganisir pengembangan AI di Malaysia.

Keterampilan di Cyber Security

Untuk pelajar perempuan yang ingin menekuni bidang ini, Samantha menyarankan koding sebagai keterampilan yang perlu dikuasai.

"Jika membutuhkan data, ingin riset statistik, koding adalah keterampilan yang dibutuhkan," ujarnya.

Keterampilan koding bisa ditekuni secara mandiri ataupun mengikuti bootcamp. Saat ini, komunitas nonprofit mulai membuka bootcamp koding khusus perempuan.

Selain koding, penulisan kreatif juga penting. Ia melihat jika kebijakan teknologi informasi membutuhkan kemampuan menulis yang kuat.

"Terutama saat ini, di mana bidang teknologi sangat berfokus pada STEM, kita perlu memahami bahwa dalam ranah kebijakan, penulisan dan pemilihan kata menjadi sangat penting. Satu kata bisa memiliki makna yang sangat beragam jika ditafsirkan secara berbeda oleh pemerintah," ungkapnya.

"Jadi, menurut saya, di satu sisi kita memang perlu menguasai aspek teknis, seperti koding jika memungkinkan, tetapi di sisi lain, dalam bidang humaniora, kemampuan menulis kreatif akan sangat bermanfaat," tuturnya.

Sebagai penutup, Samantha mendorong perempuan yang masih ragu untuk menekuni cyber security untuk memulai.

"Jika kamu memiliki keterampilan, kemampuan, dan kepemimpinan. Menurut saya, kamu hanya perlu memiliki rasa percaya diri," pesannya.



(nir/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads