Oktober di Indonesia identik dengan momen pergantian musim kemarau ke musim hujan. Oktober biasanya tanpa tanggal merah libur nasional sehingga terasa sangat lama dengan panjang 31 hari. Namun, benarkah pernah ada 'hari' yang menghilang pada Oktober?
Kalender Oktober 1582 disebut memiliki kejanggalan yang pada akhirnya memiliki sejarah menarik. Pada masa itu, manusia mengalami 10 hari hilang dari kalender. Kok bisa ya?
Dikutip dari postingan Instagram Direktorat SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), begini sejarahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
10 Hari Hilang dari Kalender
Pada Kamis, 4 Oktober 1582, masyarakat di wilayah Eropa menjalani hari-hari seperti biasanya. Namun, ketika hari berganti, kalender langsung menunjukkan Jumat, 15 Oktober 1582 atau 'menghilangkan' tanggal 5-14 Oktober.
Ensiklopedia Britannica menambahkan bahwa pada milenium pertama Masehi, umat Kristen menggunakan kalender Julian yang merupakan penyempurnaan dari kalender Republik Romawi. Kalender Julian menganggap satu tahun berlangsung selama 365 hari 6 jam.
Padahal, Bumi membutuhkan sekitar 365 hari 5 jam 48 menit untuk menyelesaikan satu kali revolusi mengelilingi Matahari. Dengan begitu, ada selisih sekitar 11 menit dan 14 detik setiap tahunnya.
Kesalahan kecil ini menumpuk seiring waktu, akibatnya kalender tersebut bergeser sekitar satu hari untuk setiap 314 tahun. Permasalahan semakin besar, lantaran sisa waktu ini menggeser siklus musim.
Umat Kristen kala itu juga semakin kesulitan menghitung tanggal Paskah. Masalah yang semakin membesar ini membuat konsili akhirnya mengusulkan reformasi kalender kepada para Paus pada Abad Pertengahan.
Tetapi tidak ada tindakan yang diambil pada saat itu. Dengan begitu, meskipun cacat, Kalender Julian tetap menjadi kalender resmi Gereja Kristen.
Perubahan Kalender
Usai terus digunakan, sebuah perubahan terjadi dalam sidang tahun 1562. Konsili Trent mengeluarkan dekrit yang menyerukan Paus untuk memperbaiki masalah tersebut.
Setelah bertahun-tahun berkonsultasi dan melakukan penelitian, Paus Gregorius XII menandatangani bulla kepausan pada Februari 1582. Ketentuan itu menyatakan bahwa kalender Julian direformasi dan kemudian dikenal sebagai kalender Gregorian.
Reformasi ini didasarkan pada saran ilmuwan Italia Luigi Lilio dan modifikasi oleh matematikawan-astronom Yesuit Christopher Clavius. Penetapan kalender Gregorian ternyata berpengaruh pada bulan Oktober.
Pengaruh tersebut menyatakan bahwa 10 hari dihapus dari kalender untuk menggeser ekuinoks musim semi dari 11 Maret ke 21 Maret. Gereja memilih menghapuskan 10 hari di Oktober untuk menghindari melewatkan festival-festival Kristen besar.
Berbagai negara langsung menerapkan perubahan ini, seperti Spanyol, Portugal, Polandia, dan Italia. Negara-negara yang mengadopsi kalender baru ini tiba-tiba melaju 10 hari lebih cepat daripada wilayah benua lainnya.
Meski tak langsung diterima, pada akhirnya negara-negara non-Katolik mulai mengadopsi kalender Gregorian. Wilayah Protestan di Jerman dan Belanda beralih pada abad ke-17.
Britania Raya dan wilayah-wilayah Kekaisaran Britania mengikuti jejak tersebut pada tahun 1752 dan menyebarkan kalender Gregorian ke seluruh dunia.
