Orang Italia kuno pra-Romawi diketahui sudah membangun saluran irigasi. Saluran air 100 meter ini jadi buktinya.
Saluran irigasi ini ditemukan di kota Monteoleone Sabino, Provinsi Rieti, Italia, demikian dilansir dari Archeolog Magz, Rabu (7/10/2026), dikutip Jumat (9/10/2026).
Direktorat Arkeologi, Seni Rupa, dan Lanskap untuk wilayah metropolitan Roma dan provinsi Rieti yang telah melakukan penyelidikan ilmiah, mengumumkan penemuan tersebut. Kelompok Speleologi-Arkeologi Vespertilio melakukan pekerjaan lapangan. Administrasi kota bekerja sama dengan tim tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saluran tersebut memiliki penampang melintang ogival, yang berarti bentuk lengkungan runcing. Dari hasil ekskavasi dan riset, diketahui masyarakat Italia pra-Romawi mengukir seluruh lorong di lapisan konglomerat. Konglomerat adalah batuan yang terbuat dari batu-batu bulat yang disemen bersama.
Lapisan lempung marl berada di antara lapisan-lapisan tersebut. Marl adalah sedimen yang kaya akan lempung. Semua batuan ini berasal dari zaman Pliosen-Pleistosen, sehingga para pekerja menembus lapisan batu dan lempung yang bergeser.
Pembuatan Saluran yang Terencana
Metode penggalian menunjukkan keahlian yang sesungguhnya. Pertama-tama, membuat terowongan samping dengan interval teratur. Kemudian mereka menggali secara paralel di sepanjang punggung bukit, tempat pintu masuk berada.
Pembuat saluran irigasi ini tidak menggali secara acak. Mereka menetapkan tata letak terlebih dahulu dan menyelesaikan saluran utama setelahnya. Setiap langkah mengikuti rencana yang jelas, dan rencana tersebut sesuai dengan bentuk lahan.
Temuan ini menambah gambaran tentang Sabina sebelum Romanisasi. Romanisasi berarti penyebaran kekuasaan dan budaya Romawi di seluruh Italia yang dimulai sekitar 27 SM.
Penemuan ini memberikan bukti baru tentang bagaimana orang-orang mengatur kehidupan di sini sebelum Roma mengambil alih kendali. Saluran tersebut menunjukkan pemukiman awal yang terencana di lahan tersebut.
Saluran Air Terhubung ke Jaringan Desa Kecil
Jaringan desa-desa kecil, yang disebut vici, meliputi area tersebut. Bersama-sama, desa-desa tersebut membentuk sistem yang terencana, bukan kumpulan rumah yang tersebar secara acak. Sebuah jalan strategis menghubungkan mereka.
Jalan tersebut menghubungkan daerah pedalaman Apennine dengan wilayah Sabina di tepi Sungai Tiber. Jadi, orang-orang di sini hidup dalam komunitas yang terhubung, bukan terisolasi.
Para petani kemungkinan besar menggunakan air tersebut. Saluran tersebut menangani drainase, perbaikan tanah, dan pengendalian air. Tujuannya adalah untuk membuat tanah lebih produktif. Drainase membersihkan kelebihan air dari ladang. Pengendalian air mengarahkan aliran air di lahan pertanian.
Menurut penelitian, proyek sebesar ini membutuhkan pusat kendali yang terorganisir. Proyek besar seperti ini membutuhkan perencanaan, tenaga kerja, dan komitmen jangka panjang.
Para pembangun saat itu diperkirakan juga membutuhkan uang dan keterampilan teknis. Biaya pekerjaan itu tinggi dan hanya permukiman yang sudah mapan yang mampu membayarnya.
Para peneliti mengaitkan pemukiman ini dengan pagus Mutuesci. Pagus adalah distrik teritorial pedesaan. Mutuesci memiliki sumber daya dan pengetahuan yang cukup untuk membangun saluran air tersebut.
Para arkeolog dan pakar gua (speleologi) masih meneliti temuan baru ini bersama-sama. Pendekatan ini memungkinkan tim untuk mempelajari struktur bawah tanah secara langsung. Para arkeolog membaca lapisan dan temuan. Spesialis gua menangani ruang bawah tanah yang sempit.
Bersama-sama mereka membaca dan menafsirkan bukti organisasi teritorial kuno yang masih terpelihara hingga saat ini. Sebagian besar bukti ini berasal dari zaman pra-Romawi.
