12 Buku Pilihan Pustakawan Harvard, Ada Hamnet hingga How to Winter!

ADVERTISEMENT

12 Buku Pilihan Pustakawan Harvard, Ada Hamnet hingga How to Winter!

Kalila Untsa - detikEdu
Jumat, 09 Okt 2026 06:00 WIB
Boston, Massachusetts, USA - May 13, 2021: Baker Library on the Harvard Business School (HBS) campus. Dedicated in 1927 and named for George F. Baker, the benefactor who funded HBSs original campus. It is the largest business library in the world.
Baker Library salah satu perpustakaan milik Harvard University Foto: Getty Images/iStockphoto/APCortizasJr
Jakarta -

Membaca buku dapat menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang sekaligus menambah wawasan. Beragam genre yang tersedia memungkinkan pembaca memilih bacaan sesuai minat, mulai dari karya fiksi hingga nonfiksi.

Melalui Harvard Gazette, Harvard Library membagikan sejumlah rekomendasi buku pilihan para pustakawan dan stafnya. Daftar tersebut mencakup tiga kategori, yakni fiksi, fiksi ilmiah dan fantasi, serta nonfiksi.

Salah satu judul yang masuk kategori fiksi adalah Hamnet karya Maggie O'Farrell, yang telah diadaptasi ke layar lebar. Sementara itu, kategori nonfiksi menghadirkan How to Winter karya Kari Leibowitz, yang membahas cara mengubah cara pandang terhadap musim dingin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain kedua judul tersebut, buku apa saja yang masuk dalam daftar pilihan pustakawan Harvard? Simak selengkapnya di bawah ini.

Sains Fiksi dan Fantasi

1. All Systems Red oleh Martha Wells

All Systems Red karya Martha Wells adalah novel fiksi ilmiah tentang android pembunuh yang mulai mencari jati dirinya. Ceritanya berlatar masa depan ketika perusahaan besar menguasai perjalanan antariksa, dan setiap tim penjelajah dikawal android keamanan milik Perusahaan. Namun karena kontrak diberikan kepada penawar termurah, keselamatan bukan prioritas.

ADVERTISEMENT

Di sebuah planet jauh, para ilmuwan dikawal SecUnit yang sadar diri dan telah meretas modul pengendalinya sendiri. Ia menjuluki dirinya "Murderbot", meremehkan manusia, dan hanya ingin dibiarkan sendiri. Namun saat misi di dekatnya tiba-tiba kehilangan kontak, ia dan para ilmuwan harus mengungkap apa yang terjadi.

Buku ini pernah dinominasikan sebagai Readers' Favorite Science Fiction pada 2017 di Goodreads Choice Awards.


2. The Final System oleh Anthony Tardiff

The Final System karya Anthony Tardiff berlatar masa depan setelah Cybercrash menghancurkan internet dan nyaris melumpuhkan negara. Dari kehancuran itu lahirlah OverNet, sistem keamanan siber ciptaan jenius teknologi Dr. Andrew Norman, yang kini mengatur hampir seluruh sisi kehidupan manusia. Jason Cromartie, seorang gamer, kehilangan saudara kembarnya akibat keputusan algoritma sistem tersebut. Dendam membuatnya bergabung dengan kelompok peretas berbahaya demi menjatuhkan Norman.

Di sisi lain ada Chloe Dunne-Carr, politikus muda yang justru menikmati manfaat OverNet meski menjadi salah satu penentang Norman yang paling vokal. Ia mengkhawatirkan dunia tempat putrinya tumbuh, yang makin kehilangan sisi kemanusiaannya. Ketika Norman memperkenalkan kecerdasan buatan umum (AGI) bernama Final System, Jason dan Chloe terseret ke dalam permainan besar antara manusia dan teknologi. Novel thriller fiksi ilmiah ini menyoroti garis kabur antara manusia dan mesin.

3. The Tapestry of Fate oleh Shannon Chakraborty

Amina al-Sirafi, bajak laut yang bertugas memburu benda-benda gaib untuk dewan peri abadi sambil tetap pulang membesarkan putrinya, Marjana. Namun ketika Raksh, roh perselisihan yang dengannya Amina terpaksa terikat dalam pernikahan memancing amarah dewan. Amina dipaksa menjalankan misi nyaris mustahil. Ia harus mencuri sebuah gelendong pemintal pengubah takdir dari penyihir misterius di pulau yang tak seorang pun bisa tinggalkan.

Amina kemudian meninggalkan Marjana, yang makin kesal karena terus dijejali kebohongan tentang masa lalu ibunya. Dalam perjalanannya, ia menghadapi badai mematikan, musuh lama, dan kenyataan bahwa kisah para peri mulai terurai, menyingkap permainan berbahaya melawan lawan yang jauh lebih licik dan kuat, yang bahkan tidak semua awak kapalnya ingin ia menangkan.

4. I, Medusa karya Ayana Gray

I, Medusa karya Ayana Gray mengisahkan Meddy, putri dua dewa kelas bawah yang selama ini merasa hanya figuran di samping saudari-saudarinya yang cantik dan abadi. Impiannya untuk meninggalkan pulau keluarganya terwujud ketika Dewi Athena mengundangnya berlatih menjadi pendeta di kuilnya. Di Athena, Meddy berkembang pesat sebagai murid kesayangan dan mulai merasakan arti tujuan dan kekuatan.

Namun masa depannya berubah drastis setelah menarik perhatian Poseidon. Rambut gimbalnya diubah menjadi ular sebagai hukuman atas kejahatan yang tidak ia lakukan. Alih-alih menjadi korban, Medusa memilih menjadi pembela keadilan dan menulis kisahnya sendiri. Novel ini menggambarkan perempuan yang terjebak di antara keinginan hatinya dan permainan kejam para dewa Olympus.

Nonfiksi

1. Waiting on the Moon oleh Peter Wolf

Memoar ini berisi kisah dan pengamatan Peter Wolf tentang sejumlah seniman, musisi, aktor, dan tokoh budaya yang pernah ditemuinya sepanjang hidup seperti John Lee Hooker, Van Morrison, dan Bob Dylan. Lewat potret yang tajam, ia menunjukkan sisi manusiawi para legenda itu, yang selama ini sering dipandang satu dimensi oleh publik Amerika.

Wolf bercerita tentang pertemuannya dengan Edward Hopper, Faye Dunaway, Muddy Waters, hingga Aretha Franklin. Dituturkan dengan kehangatan dan humor, kisah-kisah itu sekaligus menjadi cerita hidup Wolf sendiri.

2. This Is Not a Book About Benedict Cumberbatch oleh Tabitha Carvan

This Is Not a Book About Benedict Cumberbatch karya Tabitha Carvan adalah memoar jenaka sekaligus menyentuh tentang obsesi seorang perempuan paruh baya pada aktor Benedict Cumberbatch. Carvan, yang saat itu baru menjadi ibu dengan dua anak kecil, tiba-tiba jatuh hati pada sang aktor dan terkejut oleh kuatnya perasaan itu. Lambat laun ia sadar bahwa ini bukan soal Cumberbatch, melainkan soal merasakan gairah terhadap sesuatu lagi setelah kehilangan jati diri.

Lewat buku ini, Carvan menelusuri apa yang terjadi pada hasrat perempuan setelah masa remaja, dan mengapa ruang untuk kegembiraan murni makin menyempit seiring usia. Ia juga mengajak pembaca menengok dunia penggemar, dari komunitas daring yang penuh semangat hingga hubungan nyata yang terbangun antar penggemar. Pesannya, ada kekuatan besar dalam menemukan "hal" yang kita cintai dan mengikutinya tanpa malu-malu, apa pun bentuknya

3. Of Thorn & Briar: A Year with the West Country Hedgelayer oleh Paul Lamb

Buku karya Paul Lamb ini mengisahkan kehidupan seorang hedgelayer, yaitu pekerja yang merawat dan menganyam kembali pagar tanaman tradisional di pedesaan Inggris. Dari akhir musim panas hingga burung mulai bersarang di musim semi, Lamb bekerja sendirian dan dengan tangan. Ia tinggal di dalam gerobak seperti pekerja tani keliling zaman dulu, dan berkeliling di wilayah barat daya Inggris.

Pagar tanaman adalah struktur hidup yang menjadi bagian dari kehidupan pedesaan dan wujud kerja sama manusia dengan alam. Namun jumlahnya menyusut drastis karena teknik pengelolaan tradisional semakin ditinggalkan. Mengikuti pergantian musim, buku ini menggambarkan keseharian Lamb di jalan dan seluk-beluk pekerjaannya. Pesannya tentang menekuni keterampilan, menjaga warisan bagi generasi mendatang, dan merayakan keindahan lanskap yang sudah lama ia rawat.

4. How to Winter oleh Kari Leibowitz

Ditulis oleh seorang psikolog, buku ini memakai sains pola pikir untuk mengubah cara kita memandang musim dingin, dari sesuatu yang harus ditahan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Buku ini ditujukan bagi mereka yang membenci hari-hari gelap dan dingin atau sering merasa murung di awal tahun. Leibowitz berpendapat bahwa cara pandang ini juga dapat memengaruhi kesejahteraan mental sepanjang tahun.

Karl Leibowitz, penulis buku ini, pernah tinggal di wilayah Arktik dan mengunjungi tempat-tempat dengan musim dingin terdingin, tergelap, dan terpanjang di dunia. Di sana ia menemukan "pola pikir musim dingin", yakni memandang musim ini penuh peluang dan keajaiban. Dengan bekal riset psikologi dan perilaku serta contoh budaya di berbagai negara, buku ini menawarkan langkah konkret agar musim dingin terasa menyenangkan di mana pun kita tinggal.

Fiksi

1. Barkskins oleh Annie Proulx

Berlatar pada akhir abad ke-17, buku ini bercerita saat dua pemuda Prancis yang tak punya apa-apa, René Sel dan Charles Duquet, tiba di Prancis Baru. Mereka terikat kontrak tiga tahun pada seorang tuan tanah dengan imbalan lahan, dan bekerja sebagai penebang kayu atau "barkskins". René menderita dan tertekan oleh hutan yang harus ia buka, lalu dipaksa menikahi perempuan Mi'kmaw, sehingga keturunannya terjebak di antara dua budaya yang saling bermusuhan. Duquet yang licik dan kejam justru kabur, menjadi pedagang bulu, lalu membangun bisnis kayu.

Novel ini mengikuti keturunan kedua lelaki itu selama tiga abad, dari Amerika Utara hingga Eropa, Tiongkok, dan Selandia Baru, di tengah kondisi yang brutal, mulai dari dendam para saingan, wabah, sampai musnahnya budaya. Generasi demi generasi terus menguras sumber daya yang dianggap tak akan habis. Akibatnya, tokoh-tokoh masa kini dihadapkan pada ancaman keruntuhan ekologi.

2. Playground oleh Richard Powers

Playground karya Richard Powers, penulis pemenang Pulitzer lewat The Overstory, menjalin kisah empat orang yang hidupnya saling bersinggungan. Evie Beaulieu, gadis 12 tahun, menyelam ke dasar kolam renang di Montreal dengan salah satu aqualung pertama di dunia. Ina Aroita tumbuh berpindah-pindah di pangkalan angkatan laut di Pasifik dengan seni sebagai satu-satunya "rumah". Dua remaja yang bertolak belakang di sekolah elite Chicago, Rafi Young dan Todd Keane, terhubung lewat permainan papan berusia tiga ribu tahun. Rafi tenggelam dalam sastra, sedangkan karya Todd kelak membawa terobosan mengejutkan di bidang kecerdasan buatan.

Keempatnya bertemu di Makatea, pulau di Polinesia Prancis yang menyimpan jejak sejarah dan pernah kaya deposit fosfat. Pulau kecil itu kini dipilih untuk proyek baru umat manusia, yaitu kota-kota terapung otonom di laut lepas. Sebelum rencana berjalan, warga pulau harus memutuskan lewat pemungutan suara: menyetujui proyek atau menolak para seasteader. Berlatar samudra terbesar di dunia, novel ini mengeksplorasi tema teknologi, lingkungan, dan kemanusiaan.

3. Hamnet oleh Maggie O'Farrell

Hamnet karya Maggie O'Farrell berangkat dari ketertarikan lama sang penulis pada kisah yang jarang diketahui di balik lakon paling misterius karya Shakespeare. Latarnya Warwickshire pada 1580-an, tentang Agnes, perempuan yang ditakuti sekaligus dicari karena kemampuannya yang tak biasa. Ia menetap bersama suaminya di Stratford dan memiliki tiga anak: Susanna, serta si kembar Hamnet dan Judith.

Hamnet meninggal pada 1596 di usia sebelas tahun, dan sekitar empat tahun kemudian sang suami menulis lakon berjudul Hamlet. Novel ini menghidupkan kisah kehilangan yang selama ini nyaris terabaikan dalam sejarah sastra, sekaligus menjadi pembelaan bagi Agnes, sosok perempuan yang nyaris tak tercatat. Pada intinya, buku ini adalah potret pernikahan dan duka orang tua yang kehilangan anak.

Hamnet masuk daftar New York Times Notable Book 2020. Novel ini juga dinobatkan sebagai salah satu buku terbaik 2020 oleh Guardian, Financial Times, Literary Hub, dan NPR. Adaptasi filmnya, seperti disebut dalam artikel Harvard Gazette, meraih Oscar.

4. The Stranger's Child oleh Alan Hollinghurst

Satu puisi yang ditulis di sebuah buku autograf bisa mengubah hidup banyak orang, seperti dalam The Stranger's Child karya Alan Hollinghurst, pemenang Man Booker Prize lewat The Line of Beauty. Puisi itu ditulis Cecil Valance, penyair muda bangsawan, saat menginap di rumah sahabat kuliahnya, George Sawle, pada 1913.

Setelah Cecil gugur di Perang Dunia I, puisinya dihafal anak-anak sekolah di Inggris dan menjadi legenda cinta tragis. Puluhan tahun kemudian, seorang biografer ambisius mengancam membongkar rahasia yang tersimpan.

Nah, itu tadi adalah sejumlah rekomendasi dari Harvard Library. Tertarik untuk mulai membaca?

Halaman 4 dari 3
(pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads