Muhamad Fajrin Rasyid kembali menginjakkan kaki di Kampus Ganesha Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, bukan sebagai mahasiswa, ia kembali sebagai alumni untuk membagikan perjalanannya dalam Studium Generale (KU4078) ITB bertema "Membangun Talenta Digital", Rabu (30/9).
Seperti diketahui, Fajrin merupakan Co-Founder Bukalapak dan mantan Direktur Digital Business Telkom Indonesia. Ia menekuni studi informatika di ITB pada 2004 dan kemudian kembali ke ITB untuk menempuh studi magister pada program Master of Business Administration (MBA) angkatan 2021.
Perjalanan Awal Membangun Startup
Dalam pengalamannya lebih dari 15 tahun di berbagai perusahaan dan startup, Fajrin bercerita bahwa momen terpenting dalam perjalanan itu adalah saat bertemu dengan kedua rekannya, Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiganya merupakan alumni Informatika ITB angkatan 2004. Berawal dari kegemaran membuat kode program dan aplikasi, mereka mengembangkan sebuah gagasan yang nantinya menjadi salah satu terobosan teknologi di Indonesia.
"Bukalapak itu didirikan oleh tiga orang alumni ITB Informatika 2004 semuanya. Kami bertiga itu memang dulu semua geek begitu ya. Ya, kerjanya coding, bikin aplikasi yang itu kemudian menjadi awal, sehingga lahirlah Bukalapak di garasi atau kos-kosan di tahun 2009," ujar Fajrin dalam laman ITB, dikutip Rabu (7/1/2026).
Berdirinya Bukalapak tidak terlepas dari kegemaran ketiganya dalam melakukan jual beli sepeda dan barang bekas. Dari aktivitas tersebut, mereka melihat peluang untuk menghadirkan marketplace yang dapat mempertemukan penjual dan pembeli. Akhirnya, lahirlah Bukalapak pada 2011.
"Visi kami apa? Wah, kami ingin menjadi bazar online terbesar di Indonesia. Jadi, target kami memang seperti itu," ujarnya.
Tips Membangun Startup
Untuk para mahasiswa yang hadir, Fajrin menekankan pentingnya memiliki visi yang jelas saat membangun startup. Selain visi, sebuah startup juga perlu memiliki strategi serta bukti nyata bahwa gagasan tersebut dapat diwujudkan.
"Jadi, yang pertama, kamu harus memiliki visi yang jelas, tetapi kamu juga harus memiliki strategi dan bukti bahwa apa yang kamu sampaikan itu ada buktinya, sudah dibuat dan juga sudah memiliki user yang menggunakan produk itu," ungkapnya.
Menurutnya, membangun sebuah perusahaan pada akhirnya bukan hanya tentang menemukan sebuah ide, tetapi juga tentang bagaimana ide tersebut terus dikembangkan, diuji, dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
(nir/faz)
