Indonesia disebut menjadi negara dengan tingkat human flourishing atau kesejahteraan manusia tertinggi dibandingkan 21 negara lain. Temuan berasal dari studi Global Flourishing Study (GFS) yang mengukur kesejahteraan manusia secara menyeluruh.
Hal tersebut disampaikan Dicky Sofjan, MA, MPP, Ph D, dosen Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menjelaskan human flourishing adalah kondisi ketika seseorang tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi juga dapat berkembang secara optimal dalam berbagai aspek kehidupan.
"Berdasarkan studi ini, Indonesia menjadi negara paling sejahtera manusianya dibandingkan dengan negara maju lainnya. Mungkin juga ada kaitan antara komitmen agama dengan kesejahteraan manusia di dalamnya," jelasnya dikutip dari laman UGM, Jumat (2/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dicky, hasil tersebut kemungkinan berkaitan dengan cara masyarakat Indonesia memaknai kehidupan serta kuatnya hubungan sosial di tengah masyarakat.
6 Aspek Kesejahteraan Manusia
Dicky menyebut human flourishing mencakup kesejahteraan secara utuh, mulai dari aspek psikologis, sosial, ekonomi, hingga spiritual. Ada enam domain yang digunakan untuk melihat tingkat human flourishing.
Keenamnya mencakup kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, serta stabilitas finansial.
Agama Disebut Punya Peran
Dicky mengatakan kepercayaan pada agama juga dapat berperan dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Hal tersebut pada akhirnya dapat berkaitan dengan tingkat kesejahteraan seseorang.
Dalam perspektif Islam, Prof Fatimah Husein, MA, Ph D, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, menjelaskan terdapat sejumlah konsep yang memiliki keselarasan dengan human flourishing. Beberapa di antaranya adalah insan kamil, hayat thayyibah, maslahah, dan tazkiyah an-nafs.
Menurut Fatimah, kehidupan yang baik dalam Islam juga berkaitan dengan iman, amal, kebaikan, kesabaran, sikap memaafkan, serta prinsip maqasid al-shariah yang mencakup perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Sementara itu, Romo Dr Albertus Bagus Laksana, SJ, SS, Ph D, dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, menekankan pentingnya solidaritas terhadap sesama manusia sekaligus terhadap lingkungan.
Sembunyikan kutipan teks
Ia menggambarkan kondisi ideal sebagai kehidupan yang terberkati dalam kesatuan dengan diri sendiri, sesama, dan alam.
UGM Kembangkan 5 Pilar Human Flourishing
Perwakilan Human Flourishing Center UGM, Dr dr Andreasta Meliala, M Kes, turut memaparkan lima pilar human flourishing yang dikembangkan UGM. Kelima pilar tersebut meliputi health and wellbeing, justice and equity for business and society, interreligious and intercultural relations, education across the lifespan, serta integral ecology and sustainability.
Pengembangan konsep tersebut antara lain bertujuan melihat kembali anggapan bahwa kemakmuran finansial selalu berbanding lurus dengan kualitas hidup manusia.
Perspektif lain disampaikan Samantha Hauw dari Deakin University, Australia. Ia menjelaskan bahwa kemakmuran suatu negara tidak selalu berarti kesejahteraan terdistribusi secara merata kepada seluruh masyarakat.
Misalnya di Australia, masyarakat adat masih menghadapi kerugian sosial dan ekonomi yang dikaitkan dengan dampak kolonisasi dan ketimpangan struktural. Sementara masyarakat secara umum menghadapi persoalan seperti kesepian, kecemasan terhadap perubahan iklim, dan degradasi lingkungan.
Samantha juga menekankan bahwa kesehatan manusia memiliki keterkaitan dengan kesehatan alam. Oleh karena itu, kesejahteraan manusia perlu dilihat dalam jaringan hubungan yang saling bergantung, bukan semata-mata dari kondisi ekonomi individu.
Konsep human flourishing pada akhirnya melihat kesejahteraan manusia secara lebih luas. Kebahagiaan, kesehatan, makna hidup, karakter, hubungan sosial, kondisi finansial, hingga hubungan manusia dengan lingkungan menjadi bagian dari gambaran kehidupan yang sejahtera.
